Pengaruh Film pada Psikologi

MENONTON film di bioskop, situs resmi, streaming di YouTube, atau di televisi merupakan hiburan paling mudah dan terjangkau. Kamu nggak perlu menghabiskan banyak tenaga dan dana untuk mendapat hiburan dari tontonan kesukaan. Terlebih yang lagi pada #dirumahaja, duh udah abis berapa film nih? Tapi ternyata yang kita anggap hiburan itu nggak 100% kasi dampak positif, loh!

Sobat Z ingat beberapa waktu lalu ada kasus pembunuhan oleh NF remaja 15 tahun yang melakukan pembunuhan yang terpengaruh dari film horror atau thriller yang ia tonton? Adegan seram atau menegangkan itu ternyata bisa men-triggered penonton untuk melakukan hal serupa. Nah, Zetizen berkesempatan sharing dengan psikolog yaitu Maria Nofaola, M.Psi. atau yang akrab disapa Kak Ola.

“Tontonan pasti memengaruhi kejiwaan karena apapun yang ditangkap oleh panca indera pasti akan diolah otak. Efeknya tergantung isi tontonan itu. Film yang lucu akan menimpulkan respon berupa ekspresi tertawa dan rasa bahagia. Sebaliknya, film sedih akan menimbulkan ekspresi sedih seperti menangis dan emosinya jadi sedih,” ujar Kak Ola.

So, apapun yang dilihat dan didengar oleh kita akan memberikan pengaruh pada kondisi kejiwaan. Sering dong lihat orang nangis gara-gara nonton film sedih kayak Miracle Cell No.7? Atau teriak ketakutan sekaligus kaget karena munculnya sosok Ibu pada film Pengabdi Setan? Itu contoh respon sederhanya, Sobat Z.

“Kalau membahas kasus NF ini saya hanya bisa menanggapi secara umum. Apakah yang bersangkutan ini memang sudah memiliki kecenderungan atau gangguan jiwa tertentu? Tidak bisa juga membuat kesimpulan bahwa perilaku membunuhnya disebabkan oleh film. Film dapat saja menjadi ide atau stimulus tapi belum tentu jadi penyebab utama ia membunuh,” tambahnya.

Masih berdasarkan pemaparan Kak Ola, kita juga nggak bisa menggeneralisir sebuah film itu hanya memberi dampak negatif secara keseluruan. Biasanya ada suatu scene yang memberikan motivasi tetapi pada ending-nya terdapat adegan berbahaya. Semua kembali lagi soal siapa yang menonton dan apa film yang ditonton.

Untuk kasus yang terjadi pada NF, sebaiknya dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua supaya tetap menonton film sesuai dengan aturan. Jika belum memenuhi aturan batasan usia yang ditetapkan lembaga sensor, mending jangan dulu, deh. Nggak bisa juga mau nyalahin yang buat film, mereka juga sudah menentukan target pasar alias siapa aja nih yang layak buat jadi penontonnya. Well, tetap ikuti aturan yang berlaku, ya! (mya)

Read Previous

IOC Siapkan Penundaan Olimpiade

Read Next

PLN Kalbar Pastikan Pasokan Listrik Aman

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *