Pengembang Saran Beli Rumah Sekarang

Perbankan Masih Selektif

PONTIANAK – Penjualan rumah bersubsidi tahun ini diramal tak akan mencapai target. Pandemi Covid-19 yang telah membuat aktivitas ekonomi mengalami kemandekan jadi penyebab utama. Para pengusaha properti putar otak guna memaksimalkan penjualan rumah yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) itu.

“Terkait target, kita prediksi tercapai hanya di kisaran 60-70 persen. Corona ini sangat besar pengaruhnya,” ungkap Ketua Real Estate Indonesia (REI) Kalbar, Isnaini, Senin (28/9).

Secara nasional, lanjut dia, tahun ini dialokasikan sebanyak 135.000 unit rumah bersubsidi bagi MBR, dan Kalbar mendapat porsi sebanyak lima ribu unit rumah. Untuk memaksimalkan penjualan dengan waktu yang tersisa di tahun ini, dikatakan dia, para pengembang memberikan banyak kemudahan dan diskon bagi para calon debitur.

“Dengan kondisi seperti ini, maka pengembang banyak menawarkan diskon, ada juga yang menggratiskan BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan), gratis angsuran, dan lain sebagainya. Kalau ingin beli rumah inilah saatnya,” jelas dia.

Isnaini mengatakan, dampak negatif yang para pengusaha properti rasakan sangatlah besar sejak pandemi Covid-19 melanda. Dampaknya tak hanya bagi para pengusaha properti saja, tetapi juga sektor lain yang mendukung berjalannya bisnis ini. Dia menyebut, bisnis rumah berdampak pada sekitar 170 sektor penopang, seperti industri mebel, tukang, tenaga kerja, dan lain sebagainya.

“Sebanyak 3500 tukang kami, hampir 50 persen tidak dipekerjakan selama Covid,” tutur dia. Di sisi lain, perbankan juga jauh lebih selektif menyaring debitur mereka. Menurut Isnaini, perbankan cenderung memilih debitur yang punya penghasilan dari sektor-sektor yang masih bertumbuh di masa pandemi seperti saat ini. Sebaliknya, perbankan agak sulit memberi kredit bagi pekerja di sektor yang berdampak negatif.

“Dari perbankan yang lebih selektif memilih khususnya bagi sektor- sektor yang berdampak dengan kondisi seperti ini, seperti hotel, pariwisata, dan transportasi,” tutur dia.

Kondisi ini juga diakui oleh Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Kalbar, Khairiana. Menurutnya, perbankan pada saat ini lebih selektif dalam menyalurkan kredit rumah bersubsidi karena kondisi ekonomi yang belum membaik. Mereka cenderung menyalurkan kredit pada debitur dengan penghasilan yang konsisten.

Khairiana

“Perbankan lebih cari debitur dari kalangan karyawan BUMN atau ASN karena mereka lebih terjamin gajinya,” ungkap dia. Pihaknya memahami langkah untuk lebih selektif yang diambil oleh perbankan adalah karena kondisi perekonomian yang tengah mengalami kelesuan. Perbankan dinilainya akan lebih berhati-hati dan tidak mau sembarangan menyalurkan kredit guna meminimalisir risiko. Apalagi saat ini, perbankan juga mendapatkan banyak pengajuan penangguhan pembayaran dari para debitur.

“Sehingga untuk karyawan yang pekerjaannya di sektor yang paling berdampak negatif Covid-19, memang agak lebih sulit,” tutur dia. (sti)

error: Content is protected !!