Penghormatan Terakhir untuk BJ Habibie

habibie

SALAT GAIB: Mahasiswa, dosen, dan karyawan UGM menggelar salat gaib untuk almarhum BJ Habibie. IST

Berhati Makkah, Berakal Jerman

Kabar duka meninggalnya Presiden Ke-3 Republik Indonesia Bacharuddin Yusuf Habibie pada Rabu (11/9) di Jakarta menghadirkan duka bagi masyarakat di Jogjakarta. Sebagai wujud belasungkawa, ada yang menggelar salat gaib dan mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman

RATUSAN jemaah bergegas berdiri usai melaksanakan salat Dzuhur di Masjid jemaah Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta kemarin (12/9). Mereka bediri untuk melaksanakan salat gaib. Salat untuk mendoakan arwah Presiden Ke-3 RI B.J. Habibie yang meninggal di Jakarta pada Rabu (11/9).
Ratusan jemaah itu sebagian besar merupakan civitas akademika UGM dan mahasiswa. Mereka tampak khusyuk. Mereka mendoakan kebaikan untuk Habibie.

Takmir Muda Masjid Kampus UGM Andre Prayitno menjelaskan, salat gaib ini sebagai bentuk penghormatan terakhir yang bisa diberikan kepada Habibie. Menurutnya, Habibie adalah ilmuan yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi dan religiusitas.

Apalagi, tambah Andre, Habibie juga tokoh yang mengembangkan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan andil dalam mendirikan bank syariah. ”Informasi salat gaib baru ada Rabu (11/9) malam. Dilakukan karena tidak bisa melayat,” tutur Andre usai salat gaib di Masjid Kampus UGM.

Menukil ucapan Mahfud MD selaku mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Andre menyatakan Habibie adalah sosok yang ideal. Oleh karena itu, generasi muda dan anak-anak bangsa diharapkan mampu meneladani Habibie.

Menurutnya, Habibie adalah seorang yang memiliki hati Makkah dan berakal Jerman. ”Kata Mahfud MD, membuat komparasi antara religius dan rasa nasionalisme,” tambah Andre.

Tak hanya salat gaib. Ungkapan duka juga ditunjukkan masyarakat Jogjakarta dengan mengibarkan bendera Merah-Putih setengah tiang. Tak terkecuali instansi pendidikan.

Salah satunya di SMAN 8 Jogjakarta. Bendera Merah-Putih setengah tiang berkibar di halaman depan sekolah tersebut.

Kepala Sekolah SMAN 8 Jogjakarta Rudy Prakanto menuturkan, pengibaran bendera setengah tiang itu adalah bentuk atas rasa dukacita. Selain itu, sebagai wujud penghormatan kepada Habibie. Pengibaran bendera tersebut sekaligus sebagai pembelajaran nyata kepada para siswa untuk menghargai jasa pahlawan.

Sosok Habibie, tambah Rudy, adalah tolok ukur seorang tokoh dengan semua kehebatan yang dimilikinya. Habibie mampu menjadi panutan dalam dunia pendidikan. Habibie tidak hanya mempelajari ilmu sebatas teori.

Tokoh bangsa ini bisa mendekatkan dan menerapkan teori dalam praktik. ”Inilah yang disebut fraksis pendidikan. Menjadi bagian dari kontekstual yang mampu menjadikan siswa paham, mengerti, dan mampu melaksanakan apa yang dipelajari di sekolah,” ungkap Rudy. (*)

Read Previous

Surpres Jokowi Khianati Rakyat

Read Next

Hanya Satu Murid Baru di SDN 12 Mempawah Timur

Tinggalkan Balasan

Most Popular