Penguatan Karakter Melalui Pendidikan

Joni Kamisias

Oleh Joni Kamisias, S.Pd *)

PENDIDIKAN karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuannya adalah untuk membentuk penyempurnaan individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju arah hidup yang lebih baik.

Di Indonesia, dalam nawacita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Karenanya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggalakkan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sejak 2016 silam.

Pendidikan karakter dalam jenjang pendidikan dasar lebih besar porsinya dibandingkan jenjang pendidikan yang mengajarkan pengetahuan. Tepatnya, 70 persen untuk sekolah dasar dan 60 persen untuk sekolah menengah pertama. PPK sendiri tidak mengubah struktur kurikulum di Indonesia.

Dalam penerapannya, hanya dilakukan sedikit modifikasi intrakurikuler yang ditambahkan dengan kegiatan kokurikuler dan esktrakurikuler. PPK diharapkan dapat menumbuhkan budi pekerti dan menguatkan karakter positif anak didik.

Sebagaimana tercantum dalam Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

PPK merupakan upaya untuk menumbuhkan dan membekali generasi penerus agar memiliki bekal karakter baik, keterampilan literasi yang tinggi, dan memiliki kompetensi unggul abad 21 yaitu mampu berpikir kritis dan analitis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.

Karakter adalah perwujudan dari kebiasaan-kebiasaan berperilaku baik dalam keseharian yang meliputi watak terpuji, akhlak mulia, sikap mental dan budi pekerti yang luhur. Adapun nilai-nilai utama karakter yang menjadi fokus dari kebijakan PPK adalah religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas.

Nilai-nilai utama tersebut berdasarkan nilai-nilai Pancasila, 3 pilar Gerakan Nasional Revolusi Revolusi Mental (GNRM), kekayaan budaya bangsa (kearifan lokal) dan kekuatan moralitas yang dibutuhkan bangsa Indonesia menghadapi tantangan di masa depan.

Religiusitas mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.

Nilai karakter religius ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan.

Subnilai religius antara lain beriman dan bertaqwa, disiplin ibadah, cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, melindungi yang kecil dan tersisih, mencintai dan menjaga lingkungan, bersih, memanfaatkan lingkungan dengan bijak.

Nasionalisme, merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Subnilai nasionalis antara lain apresiasi budaya bangsa sendiri menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, semangat kebangsaan, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghargai kebhinnekaan, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

Kemandirian merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita.

Subnilai mandiri antara lain etos kerja (kerja keras), tangguh, tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Gotong Royong, mencerminkan tindakan menghargai semangat kerjasama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan.Sub nilai gotong royong antara lain menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong-menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.

Integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral).

Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Subnilai integritas antara lain kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas).

Indonesia tengah menghadapi abad ke 21 yang ditandai dengan berbagai kecenderungan global. Setidaknya terdapat tiga kecenderungan penting yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini yakni berlangsungnya revolusi industri keempat yang ditandai dengan fenomena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam era revolusi digital.

Kemudian, perubahan peradaban masyarakat yang ditandai dengan berubahnya sendi-sendi kehidupan, kebudayaan, peradaban, dan kemasyarakatan termasuk Pendidikan, serta semakin tegasnya fenomena Abad Kreatif yang menempatkan informasi, pengetahuan, kreativitas, inovasi dan jejaring sebagai sumber daya strategis bagi individu, masyarakat, korporasi dan negara.

Ketiga hal tersebut telah memunculkan tatanan baru, ukuran baru, dan kebutuhan-kebutuhan baru yang berbeda dengan sebelumnya, yang harus ditanggapi dan dipenuhi oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Disinilah letak peran sentral dari dunia pendidikan untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai kapital intelektual yang mampu beradaptasi dan diharapkan memiliki keunggulan kompetitif di dalam era persaingan global.

Penyelenggaraan PPK pada Satuan Pendidikan Formal diimplementasikan melalui manajemen berbasis sekolah, yaitu memberikan kewenangan dan tanggung jawab kepada kepala sekolah, guru, dan pengawas sekolah serta tenaga kependidikan bersama Komite Sekolah sesuai dengan kebutuhan dan konteks satuan pendidikan.

Beberapa yang perlu diupayakan dalam konteks manajemen berbasis sekolah yaitu menguatkan jejaring Tri Pusat Pendidikan (Sekolah, Keluarga dan Masyarakat), Sekolah menjadi sentral yaitu lingkungan sekitar dijadikan sumber-sumber belajar, Individualisasi Anak yaitu guru perlu membantu setiap anak untuk mengaktualkan potensi yang dimilikinya, revitalisasi peran kepala sekolah (sebagai innovator, motivator, kolaborator) dan guru (sebagai penghubung sumber belajar, pelindung, fasilitator, katalisator), melakukan penilaian berupa catatan kepribadian atau karakter anak, melakukan sinkronisasi dan pembiasaan baik dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler dan nonkurikuler, serta melaksanakan Penguatan peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama dalam penumbuhan dan pembiasaan karakter anak. Penyelenggaraan PPK dilaksanakan selama enam atau lima hari sekolah dalam satu minggu.

Perlu diketahui bahwa PPK bukan Fullday School sebagaimana pernah ramai di media, kebijakan PPK tidak mematikan madrasah diniyah, tapi justru mendorong sekolah agar mampu membangun kerjasama dengan sumber-sumber belajar di luar sekolah, seperti institusi pendidikan keagamaan, lembaga seni dan budaya, komunitas sastra, klub olah raga, dan sebagainya.

Gerakan PPK sebetulnya sudah diimplementasikan oleh sekolah-sekolah. PPK bukan produk baru, bukan mata pelajaran, bukan kurikulum baru tetapi merupakan penguatan atau fokus dari proses pembelajaran dan sebagai poros pendidikan.

Kekayaan pengalaman, praktik-praktik baik, keteladanan dan perilaku baik Kepala Sekolah, Guru, Orang Tua dalam keseharian di sekolah dan luar sekolah sebenarnya sudah sangat kaya dimiliki sekolah. Sehingga sekolah sudah terbiasa membuat program dengan anggaran yang sudah ada. Namun perlu dikuatkan dengan pelibatan publik dan sumbangsih masyarakat dalam bentuk apapun agar masyarakat memiliki rasa tanggung jawab pada institusi pendidikan.

(*Guru di SDN 05 Suruh Tembawang)

error: Content is protected !!