Peningkatan Literasi Membaca

Aswandi

Oleh: Aswandi*

MEMBACA merupakan literasi dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang guna memudahkan mereka beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Dan literasi membaca memengaruhi maju mundurnya suatu bangsa.

Ketika Nabi Muhammad SAW memohon kepada TuhanNya di Gua Hira agar masyarakat Arab pada saat itu menjadi masyarakat yang beradab dan bermartabat, Allah SWT justru memerintahkan kepadanya agar menjalankan misi keumatan yakni membangun literasi membaca, “Iqra’ ya Muhammad”.

Quraish Shihab mengutip hasil penelitian profesornya di Al-Azhar University tentang pengaruh buku yang dibaca menyimpulkan bahwa kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa dapat ditelusuri ke belakang, yakni 20 tahun sebelumnya mengenai buku yang dibaca masyarakatnya. Penelitian terbaru tentang pengaruh buku yang dibaca terhadap perubahan perilaku pembacanya jauh lebih cepat lagi, yakni cukup 5 tahun. Lebih dari 35% orang sukses di dunia ini tidak sekolah, namun mereka adalah pembaca banyak buku,

Membaca berdampak bagi kesehatan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Membaca mengaktifkan syaraf otak sehingga seseorang terhindar dari kepikunan. Fakta lain, sebanyak 60% dari penghuni penjara adalah orang yang hanya sedikit membaca, dan siswa gagal di sekolah karena tidak bisa membaca.

Greg Mortenson menulis dua buah buku, berjudul Three Cups of Tea, dan Stones into Schools yang isinya memberi informasi mengenai keberhasilan mengubah perilaku masyarakat di pedalaman Afganistan dan Pakistan yang diusahakan melalui buku, bukan melalui senjata. Karena bernasnya dua buku tersebut yang mengajarkan tentang penaklukan melalui buku, maka semua tentara Amerika Serikat diwajibkan membaca dua buku tersebut.

Pada zaman apapun dan dimana pun, jika penguasa atau pemerintah otoriter bermaksud untuk menindas golongan oposisi, mereka lakukan dengan cara menghancurkan pikiran yang tertulis pada buku dan karya pikiran atau karya tulis, bahkan membunuh pengarangnya. Untuk maksud yang lebih besar dengan usaha lebih efektif dan efisien, menghancurkan sebuah negara misalnya. Dan buku seringkali digunakan sebagai instrumen neocolonialisme atau bentuk penjajahan baru. Tidak jarang perlawanan dilakukan dengan cara menghancurkan buku. Fernando Bacz (2013) dalam bukunya “Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa” menegaskan bahwa penghancuran sebuah peradaban atau bangsa dapat dilakukan melalui “Penghancuran Buku”. Oleh karena itu, buku dan karya tulis lainnya harus disimpan dan terjaga dengan baik di tempatnya.

Sangat paradoks, di era kemajuan teknologi informasi sekarang ini, perilaku membaca masyarakat mengalami perubahan dari era sebelumnya yang dulunya kurang suka membaca, sekarang hampir semua pemilik internet dan handpone android (WhatsApp, Twitter, Instagram, facebook dan sejenisnya) asyik membaca, bahkan terkesan mabuk atau maniak. Namun sayangnya level membaca mereka melalui gawai tersebut masih sangat rendah atau kurang mendalam dan kurang komprehenship. Malcolm Gladwell (2013) dalam bukunya “The Tripping Point” menyampaikan hasil riset yang menyimpulkan bahwa “Di era Information Technology (IT), membaca melalui buku tetap lebih efektif dibanding membaca melalui IT (e-book)”. Katherine Hayles seorang profesor Duke University mengakui, “Saya tidak bisa lagi menyuruh mahasiswa saya untuk membaca keseluruhan buku”. Scott Krap yang dulunya bekerja di sebuah majalah (media cetak) dan kini mengurus blog tentang media online memberikan kesaksiannya bahwa “dia telah berhenti membaca buku sama sekali”, dikutip dari Nicholas Carr (2011) dalam bukunya “The Shallows”.

Memperhatikan fenomena di atas, kemudian banyak orang menyalahkan teknologi. Mc. Luhan seorang pakar komunikasi menulis, “Kita begitu mudah mengkambinghitamkan atau menyalahkan perangkat teknologi untuk mengampuni para pendosa pengguna teknologi”. Persoalan utama kita adalah tidak atau kurang cerdas berliterasi digital sehingga berdampak pada rendahnya literasi membaca.

Faktanya, antara lain: (1) menurut PISA, peringkat membaca pelajar Indonesia berada pada posisi ke-4 terbawah dari 65 negara. (2) rasio ketercukupan buku menurut standar UNESCO, yakni 3 buku untuk 1 orang orang per kapita masih jauh dari harapan. Biro Pusat Statistik dan UNESCO menyatakan jumlah masyarakat yang berminat membaca hanya 1:1000, artinya 1000 penduduk Indonesia hanya satu orang saja yang punya minat baca; (3) data terkini, survei Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) melaporkan bahwa indeks literasi membaca masyarakat Indonessia menempati peringkat 68 dari 74 negara atau rangking ke-6 dari bawah dengan skor 371, dikutip dari Kompaas, 23 Juni 2021.

Berdasarkan fakta di atas, dapat dimaklumi jika bangsa Indonesia tidak mampu membuka pintu dunia karena bangsa ini tidak memiliki kunci pintu dunia, yakni literasi membaca.

Peningkatan literasi membaca dapat dilakukan, antara lain: (1) mengefektifkan dongeng sebagai media pembelajaran di jenjang pendidikan anak usia dini. Belajar ke negara Finlandia, sebuah negara di dunia yang dikenal termaju mutu pendidikannya dan tertinggi indeks membaca masyarakatnya. Padahal di negara tersebut terdapat undang-undang yang melarang anak usia dini diajari membaca. Momentum yang tepat dalam mengajar membaca adalah setelah seorang anak memiliki penguasaan kosakata yang diperolehnya melalui berdongeng atau bercerita, dikutip dari Jim Trelease (2008) dalam bukunya “Read-Aboud Hanbook”; (2) Ditemukan bukti, rendahnya indeks literasi membaca sebagai dampak dari ketidakcerdasan menggunakan teknologi informasi, seperti televisi, internet, handpone dan sejenisnya. Oleh karena itu, dalam usaha peningkatan indeks literasi membaca, membangun kecerdasan literasi digital dari sejak dini sangat diperlukan; (3) gerakan membangun literasi membaca secara masif atau tidak setengah hati, antara lain dilakukan melalui: (a) penyediaan buku atau karya tulis dan membangun taman bacaan atau rumah baca dan perpustakaan desa dan menyediakan ruang baca dimana saja. John Wood (2009) dalam bukunya “Room to Read”, menceritakan pengalamannya meninggalkan karier di Microsof demi membangun 7.000 perpustakaan desa di pelosok dunia, dan sukses membangun budaya gemar (literasi) membaca masyarakat; (b) memperkenalkan dunia perbukuan kepada anak sejak dini, misalnya membawa anak berkunjung ke toko buku, taman bacaan, rumah baca dan perpustakaan; (c) memasyarakatkan gerakan wakaf buku atau bahan bacaan, bazar buku murah dan bermutu; (d) memberi penghargaan kepada masyarakat yang telah berhasil melakukan gerakan pembudayaan gemar membaca dan pemilihan duta baca; (e) pemerintah daerah bekerja sama dengan Universitas Tanjungpura mempersiapkan tenaga pustakawan profesional.

*Penulis, Ketua Forum Literasi Membaca dan Menulis Kalimantan Barat

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!