Penjualan Sayur Hidroponik Saat Pandemi Covid-19 Meningkat

HIDROPONIK: Fitra (kanan) di kebun sayur hidroponik yang bertempat di kediamannya. MIRZA/PONTIANAKPOST

Fitra Sempat Kewalahan Penuhi Permintaan Konsumen

Fitra, petani sayuran hidroponik di Pontianak kewalahan menyediakan sayuran di tengah pandemi covid 19. Utamanya saat pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar, lalu. Permintaan masyarakat yang meningkat itu menandakan bahwa masyarakat mulai paham menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi makanan sehat.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

MENDUNG menyelimuti langit Pontianak Selasa pagi. Tapi Fitra, penjual sayuran hidroponik di Pontianak itu sudah sejak subuh berjualan sayuran hidroponik. Berbungkus plastik transparan, sayuran hidroponik jenis selada, sawi hijau, dan lainnya dihampar di meja kecil yang telah ia siapkan. Lokasinya di depan salah satu supermarket di Jalan Gajah Mada.

Satu persatu pelanggan pun datang membeli sayuran hidroponik yang ia tanam sendiri di lahan rumah miliknya. Selain dapat dibeli disana, sayuran hidroponik miliknya juga bisa ditemukan dibeberapa supermarket besar di Kota Pontianak.

Diketahui sudah beberapa tahun ini, ia menjual sayur hidroponik di depan supermarket itu. Waktunya di pagi hari. Dikatakan Fitra, penjualan sayuran hidroponik semakin ke tahun semakin meningkat. Menurutnya masyarakat sudah mulai mengerti dan paham tentang sayuran hidroponik. Karena ada banyak manfaat baik buat kesehatan.

Peningkatan kebutuhan masyarakat akan sayur hidroponik kata dia begitu terasa. Utamanya saat Pemerintah memberlakukan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Saat PSBB penjualan sayur hidroponik saya meningkat hingga tiga ratus persen. Itu terjadi dari April sampai Juni,” ungkapnya kepada Pontianak Post.

Faktor panik disituasi pandemi dengan anjuran pemerintah untuk mengkonsumsi makanan sehat kata dia jadi salah satu meningkatnya penjualan sayuran hidroponik. Selain itu, kini secara perlahan masyarakat sudah mulai paham dengan pola hidup sehat.

Akibat peningkatan penjualan sayur hidroponik, iapun sempat kewalahan memenuhi kebutuhan konsumen. Belum lagi stok buat supermarket dalam satu Minggu wajib disediakan.

Jika hari normal, dalam seminggu di satu supermarket mesti menyediakan 180 pcs sayur hidroponik. Tapi ketika PSBB kemarin, ia menyetok hingga 500 pcs sayuran di satu supermarket.

Saking penjualan sayuran hidroponik itu meningkat waktu PSBB, tak jarang ada pelanggan yang datang ke rumah untuk membeli sayuran sehat itu. “Mereka datang ke sini, karena stok di supermarket pas kosong,” ungkapnya.

Saat lonjakan permintaan sayur hidroponik itu, ia tak hilang akal. Stok tetap bisa tersedia. Karena dia juga bermitra dengan lima petani hidroponik. Al hasil iapun mampu mencukupi permintaan konsumen.

Untuk saat ini, permintaan sayur hidroponik sudah mulai kembali normal. Itu terjadi saat Pemerintah mulai membuka kembali aktivitas di luar. Saat ini ia terus menjaga kualitas dan kuantitas sayur. Baik dari segi varian maupun dari kontinuitas. “Apa yang saya lakukan agar konsumen tidak kecewa,” tandasnya.(*)

error: Content is protected !!