Pentingnya Psikotes bagi Perusahaan

for her

Psikotes menjadi rangkaian dalam menyeleksi karyawan. Apalagi jika ingin menentukan karyawan yang mengisi suatu posisi. Lantas, seberapa penting dilaksanakannya psikotes?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Perusahaan pasti ingin mencari karyawan yang sesuai dengan kompetensi yang dipersyaratkan. Psikolog Dra. Roslina mengatakan dalam psikotes mengukur tiga aspek utama. Pertama, mengukur intelektual yang mencakup daya tangkap, tanggap atau tidak, kemampuan analisa dan lainnya.

Kedua, sikap kerja. Aspek ini mencakup bagaimana sistematika kerja, ketahanan kerja di bawah situasi menekan, ketelitian dan lainnya. Ketiga, kepribadian, mencakup kemampuan bersosialisasi. “Adaptasi sosial yang dilakukan seperti apa. Kepercayaan diri dan kematangan seperti apa. Setiap penempatan posisi pasti memiliki persyaratan. Adanya psikotes bisa mencocokan hasil dan penempatan posisi,” jelas Roslina.

Misalnya, penempatan posisi wartawan. Wartawan mesti tanggap, komunikasi harus baik, mudah bergaul, cepat adaptasi, dan tahan terhadap stres. Dia juga harus bisa mengendalikan emosi agar hasil tulisannya maksimal.

Roslina menuturkan psikotes bisa dilakukan sejak awal menerima karyawan. “Tetapi, ada juga yang memilih untuk melaksanakan tahapan lain terlebih dulu, seperti tes pengetahuan umum sesuai dengan posisi yang dilamar dan wawancara. Baru setelahnya melaksanakan psikotes,” ujarnya.

Namun, biasa juga perusahaan yang baru melakukan psikotes untuk mengubah status kepagawaian,
“Bergantung kepada kebijakan perusahaan. Bisa saja psikotes yang dilakukan untuk proses pemetaan. Sehingga, diketahui bidang yang cocok untuk karyawan bersangkutan. Atau, promosi kerja,” katanya.

Menurut Roskina, setiap perusahaan pasti memiliki pertimbangan tersendiri jika baru melakukan psikotes tidak diawal. Bisa saja didasari karena faktor biaya. Owner di Biro Psikologi Phenomenon ini menambahkan saat ini beberapa perusahaan melakukan psikotes dengan pusat berbasis Online via komputer agar hemat dari segi biaya. Namun, hal ini memiliki konsekuensi tersendiri. Psikotes Online hanya melihat kemampuan intelektual. Aspek yang lainnya tak bisa dilihat.

“Hanya untuk aspek intelektual. Ada perusahaan yang menargetkan range IQ karyawannya. Perusahaan-perusahaan seperti ini biasanya lebih memilih melakukan psikotes secara online,” tambahnya.

Roslina menambahkan sebagian besar unit kerja, baik negeri maupun swasta sudah melakukan psikotest.

“Beda halnya, 20 tahun lalu. Mungkin saja ada perusahaan yang tak melakukan psikotes pada saat penerimaan karyawannya. “Kalau sekarang saya yakin semua sudah melakukan psikotest,” tutupnya.**

Read Previous

Pontianak Selatan jadi Jawara

Read Next

Kanwil DJPb Kalbar dan Kodam Tanjungpura Tingkatkan Sinergi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *