Peran Ayah Sukseskan Program ASI

Proses menyusui bukan hanya tanggung jawab seorang ibu pascamelahirkan. Diperlukan peran aktif dan dukungan dari sang ayah untuk kelancaran ibu memberikan ASI. Seberapa penting peran ayah dalam menyukseskan program ASI?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Dalam proses menyusui anak, banyak ayah yang masih berpikir bahwa menyusui hanya sebatas keterlibatan antara ibu dan bayi. Padahal, ayah punya potensi luar biasa untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan pada proses menyusui, baik untuk istri maupun anak.Hal ini diamini oleh Founder Komunitas Ayah ASI Kalbar, dr. Aria Pratama Surya Anggara, IYCFC. Pria yang akrab disapa Aria ini mengatakan peran ayah sangat penting dalam menyukseskan program ASI. Ayah membantu terciptanya suasana menyusui yang positif untuk bayi dan ibunya.

Ayah juga menjadi partner terbaik istri sepanjang proses menyusui. Ayah bisa melakukan bonding dengan si bayi seperti menggendong, menyendawakan, memandikan, memeluk, menyanyikan dan banyak lagi.

Aria menuturkan ketika sudah berkomitmen menjalani kehidupan berkeluarga, suami pasti sudah siap menghadapi setiap prosesnya dengan sadar. Saat menjalani hubungan seks, suami belajar untuk beraksi secara maksimal, terus meningkatkan kualitas relasi seksual dengan istri.

Ketika istri memasuki masa kehamilan, suami pun relatif paham untuk menjadi suami siaga. Suami mengisi kepala dengan pengetahuan dan curiosity saat berhadapan dengan dokter kandungan, demi kelancaran dan kesempurnaan bayi yang berada di dalam kandungan istri.

Sehingga, saat persalinan tiba, kebanyakan suami sudah tangkas menghadapi situasi menegangkan ini. Begadang mendampingi istri di salah satu momen terpenting ini seperti perkara mudah.

Berikutnya, menyusui pun, sebetulnya tak sulit buat seorang suami terlibat penuh dalam prosesnya.

Bahkan, seorang laki-laki tidak perlu dilatih untuk menjadi ayah yang pro ASI. Ia hanya perlu sadar, bahwa ini adalah konsekuensi logis yang terbaik untuk istri dan anaknya, seperti saat menjalani tahapan-tahapan sebelumnya.

Pada tahap berkontribusi, ia akan dengan sadar memberi dukungan kepada istri, mendengarkan keluhannya dan menghiburnya, menjadi partner yang bersedia mengurangi beban berat seorang ibu yang menyusui, dengan berpartisipasi pada kegiatan yang bisa dilakukannya.

“Entah menggendong si anak, menyerdawakan setelah menyusui, memandikan anak, membuat makanan pendamping ASI, dan lainnya,” katanya.

Keterlibatan suami dengan berada di samping istri, membantunya mengatasi kelelahan fisik, cenderung membuat istri senang. Apalagi jika suami jadi lebih sering melakukan hal-hal yang membuat istri senang, dengan cara hubungan mereka karena koneksi setiap pasangan itu khas.

“Rasa senang istri, akan berdampak sangat positif pada kelancaran proses menyusui. Dan pada titik ini, kesiapan sepasang suami istri diuji untuk menjadi orang tua,” ucapnya.

Aria menjelaskan keterlibatan ayah dimulai saat pemberian ASI eksklusif, yaitu ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain. Kemudian dilanjutkan pemberian ASI dan makanan pendamping ASI sampai usia anak dua tahun.

“Berhasil melalui seluruh tahapan ini sudah menjadi kesuksesan yang terbaik,” jawab Aria.

Aria menyatakan ayah bisa mencari tahu mengenai ASI dan perannya dalam menyukseskan program ASI sejak merencanakana pernikahan. Aria yakin setiap pasangan pasti menginginkan keturunan. Carilah informasi sebanyak-banyaknya kepada ahlinya. Bergabunglah dengan kelompok pendukung ASI. Sharing is caring.

“Jika ingin mencari informasi di internet, usahakan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Aria.

Aria menambahkan dukungan suami bisa meningkatkan keberhasilan menyusui hingga 98,1 persen, sementara keberhasilan menyusui hanya 26,9 persen, jika suami tidak peduli dengan pilihan menyusui. “Bikinnya berdua, ngurus anaknya juga berdua,” tutupnya. **

loading...