Peran Strategis Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter

Khaerunissa

Oleh: Khaerunissa. *

PADA setiap aspek kehidupan, perubahan terjadi secara cepat. Tidak seperti menaiki anak tangga. Tetapi bombastis seperti halnya ledakan gunung yang meletus. Perubahan yang terjadi sejatinya merupakan dampak dari perkembangan teknologi dan arus informasi. Saat ini, teknologi telah menjelma sebagai kebutuhan primer manusia akibat kemudahan–kemudahan yang dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Meskipun di sisi lain memberikan pengaruh negatif seperti secara otomatis membentuk karakter individualistik.

Sebagai negara yang multikultur, Indonesia menghadapi tantangan yang sangat berat. Baik yang bersifat global maupun lokal. Permasalahan yang terjadi membutuhkan upaya yang nyata untuk menyelesaikan, salah satunya dengan kembali kepada nilai–nilai kearifan lokal di masing–masing daerah melalui proses pendidikan.

Nilai–nilai keafiran lokal sebenarnya menjadi hal urgen sebagai salah satu bagian pembentuk kekayaan budaya bangsa dan filterisasi dari pengaruh budaya luar terhadap peserta didik dari berbagai macam ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun dari luar.

Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya untuk mempertahankan nilai–nilai, budaya, peristiwa yang diperoleh dari hasil pengalaman dalam suatu kelompok tertentu. Local wisdom adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi, sebagai sebuah istilah wisdom sering diartikan sebagai kearifan atau kebijaksanaan.

Nilai–nilai kearifan lokal dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk mempertahankan identitas nasional bangsa Indonesia. Nilai–nilai kearifan lokal memiliki makna yang mendalam, karena diperoleh berdasarkan dari hasil pengalaman. Bahkan, masyarakat yang masih pempertahankan nilai–nilai kearifan lokal seringkali lebih konsisten dalam menjaga dan melindungi alam dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.  Maka perlu adanya upaya untuk tetap menjaga dan mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal salah satunya melalui pendidikan yang berbasis karakter.

Karakter tidak secara otomatis berkembang pada diri warga bangsa atau peserta didik, melainkan perlu adanya upaya untuk mengembangkan secara terpadu dengan cara dirancang dan dilaksanakan secara sadar dengan arah dan tujuan yang jelas. Proses pelaksanaan pendidikan karakter dapat dilakukan dengan rekayasa sosial. Menurut Zuriah, dkk, proses rekayasa sosial semakin penting karena bersifat multidimensi yang memerlukan partisipasi dari berbagai pihak (Zuriah, dkk, 2016:175).

Sekolah atau lembaga pendidikan secara mandiri tidak akan mampu mengembangkan karakter perlu dilaksanakan secara baik dan semaksimal mungkin. Pendidikan karakter yang seharusnya diberikan tentunya adalah karakter yang sesuai dengan nilai–nilai Pancasila.

Generasi dengan pendidikan karakter yang bagus, akan memahami adanya kelestarian budaya serta kearifan lokal yang ada. Pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan budaya bangsa Indonesia menjadi hal yang sangat penting dan merupakan tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia.

Menjaga lingkungan juga sebagai salah satu upaya untuk menghindarkan manusia dari bencana alam serta sebagai upaya untuk mempertahankan kelangsungan bumi dari kerusakan alam. Sedangkan menjaga budaya sebagai upaya mempertahankan warisan budaya yang menjadi ciri khas negara Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Indonesia sangat kaya akan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Keberagaman budaya yang dimiliki oleh negara Indonesia diantaranya dari segi agama, bahasa, suku, ras, adat istiadat, mata pencaharian, dan lainnya.

Sudah menjadi kewajiban seluruh warga negara Indonesia untuk menjaga kelestarian lingkungan dan budaya. Kearifan lokal hanya akan abadi kalau kearifan lokal terimplementasikan dalam kehidupan konkret sehari–hari sehingga mampu merespon dan menjawab arus zaman yang telah berubah. Kearifan lokal juga harus terimplementasikan dalam kebijakan negara, misalnya dengan menerapkan kebijakan ekonomi yang berasaskan gotong royong dan kekeluargaan sebagai salah satu wujud kearifan lokal (Fajarini,2014:1).

Upaya untuk mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal juga sebagai upaya untuk untuk kembali kepada Jati diri bangsa Indonesia. Menurut Lestari (2017:36),  upaya mempertahankan karakter yang merupakan ciri khas dari bangsa Indonesia sebagai contoh, seseorang bisa dinilai berkarakter (memiliki sikap dan perilaku) baik atau jelek, terpuji atau tercela. Sejalan dengan pengertian karakter, istilah karakter sering digunakan dengan merujuk pada seberapa baik seseorang (how ‘good’ a person is).

Seseorang yang menunjukkan kualitas pribadi yang cocok dengan yang diinginkan oleh masyarakat bisa dianggap memiliki karakter yang baik. Sebaliknya, bila seseorang menujukkan kualitas pribadi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka dia dipandang memiliki karakter yang jelek.

Terdapat enam pilar dari karakter, yakni kejujuran (trustworthiness), respek (respect), tanggung jawab (responsibility), keadilan (fairness), kepedulian (caring) dan kewarganegaraan (citizenship). Karakter, dalam wujud konkritnya berupa perilaku yang terkait dengan moral (moralitas), memiliki komponen afektif, kognitif dan perilaku. Dengan demikian, meskipun wujud konkrit dari karakter itu akan berupa perilaku (perilaku moral), perkembangan karakter dalam memahami kearifan lokal akan melibatkan tiga komponen dari karakter tersebut yakni afektif, kognitif dan perilaku.

Pembangunan karakter dan pendidikan karakter kearifan lokal menjadi suatu keharusan karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik cerdas dan pintar, tetapi juga diharapkan mempunyai budi pekerti, sopan santun dan perilaku yang terpuji. Sehingga keberadaan generasi muda baik sebagai peserta didik maupun bagian dari masyarakat menjadi lebih berguna dan bermakna baik bagi diri mereka sendiri pada khususnya ataupun masyarakat pada umumnya.

*)Penulis : Guru di SDN 20 Semadu, Kembayan.

error: Content is protected !!