Perempuan Lebih Militan Jadi Pelaku Teror
Perekrutan Sasar Kalangan Milenial

SURAT WASIAT: Bagian analisis surat wasiat pelaku terorisme yang dilakukan Grafolog Deborah Dewi. Dok. pribadi

JAKARTA – Mantan narapidana terorisme Haris Amir Falah mengungkapkan adanya perubahan tren pengantin bom bunuh diri atau pelaku aksi teror. Haris mengatakan dahulu pelaku terorisme tidak melibatkan anak-anak dan istri saat beraksi. Sementara, kata Haris, tiga aksi terorisme yang terjadi terakhir ini, yakni bom Surabaya (pelaku sekeluarga), Makassar (pasangan suami istri), dan Mabes Polri (wanita), menunjukkan adanya perubahan tren.

“Saya terakhir (bergabung kelompok terorisme) 2010, saya ditangkap, ya. Ini memang trennya justru dulu tidak ada. Artinya wanita itu tidak kami sertakan, apalagi anak-anak,” kata dia dalam diskusi bertajuk Bersatu Melawan Teror, Sabtu (3/4). Haris tak menampik saat ini tren pelaku terorisme ialah wanita bahkan, laki-laki sudah kalah jauh dalam aksi terorisme.

“Dari temuan saya di lapangan itu, justru wanita itu lebih militan daripada laki-laki. Banyak yang suaminya ikut, bukan karena suaminya yang mengajak istrinya, tetapi justru istrinya yang ngajak suaminya,” kata dia. Haris mencontohkan salah satu temannya di kawasan Jakarta Selatan terpaksa ditinggal istrinya. Sebab, sang suami tidak mau mengikuti keinginan istrinya masuk dalam kelompok terorisme.

“Dia dianggap kafir, tidak mau ikut JAD,” tambah dia. Dia juga menilai aksi terorisme di Komplek Mabes Polri yang dilakukan ZA usia 25 tahun membutuhkan keberanian yang besar. “Jadi memang ini luar biasa munculnya wanita yang terakhir, begitu nekatnya di Mabes Polri,” tandas dia.

Selain itu, Haris juga mengatakan, saat ini kelompok radikal sudah menyasar para kaum milenial untuk menjadi anggota. Saat direkrut, anggota masih di bangku SMA. Contoh terbaru menurut dia, adalah ZA, teroris penyerang di Mabes Polri beberapa waktu lalu masih berumur 25 tahun.

”Saya dulu direkrut ketika masih SMA, karena sedang mencari jati diri, ingin menunjukkan kehebatan. Kemudian bertemu lah apa yang mereka punya, bertemu dengan doktrin-doktrin bisa menyalurkan apa keinginannya,” ujar Haris dalam diskusi secara virtual di Jakarta, Sabtu (3/4).

Haris mengatakan, perekrutan kaum milenial untuk menjadi anggota kelompok radikal sangat masif. Buktinya di Lapas Gunung Sindur banyak narapidana teroris yang tergolong kelompok milenial.

”Sampai sekarang anak-anak muda sangat luar biasa yang direkrut. Saya tiga hari lalu juga ke Lapas Gunung Sindur sebagai besar baru masih umur 22, 23, paling tua 25 tahun,” terang Haris.

Haris enggan mengungkapkan pelaku-pelaku yang melakukan rekrutmen terhadap kaum milenial tersebut. Kelompok radikal tersebut mencari orang untuk dijadikan pengantin sehingga bisa terus melancarkan aksinya.

”Yang megang remote-nya para pembinanya. Itulah disayangkannya ya, orang-orang dibikin berani mati tapi dia hanya berani hidup,” ucap Haris.

Ddi era teknologi ini, kelompok radikal banyak melakukan perekrutan anggotanya dengan memanfaatkan media sosial. “Ada beberapa media sosial yang menjadi alat yang mereka lakukan secara intensif, misalnya Telegram media sosial itu, di Facebook juga digunakan,” ujar Haris.

Menurutnya, perekrutan lewat media sosial jauh lebih mudah. Hal itu karena dalam menyebarkan paham-paham radikal dan melakukan baiat yang mereka lakukan sangat mudah karena tanpa harus melakukan pertemuan.

“Sekarang itu karena teknologi sudah canggih orang bisa direkrut tanpa bertemu muka, mereka bisa aktif tanpa berdialog, mereka bisa dibina lewat media sosial. Jadi orang tanpa bertemu jadi dia bisa menjadi seorang pengantin,” katanya.

Cara baiat dengan menggunakan media sosial disebut adalah baiat gaib. Nantinya si calon pengantin tersebut terus-menerus didoktrin oleh pemimpinnya dengan mengajarkan paham-paham radikal. “Kemudian membina mereka, karena sistem baiat itu tidak perlu bertemu, mereka bisa melakukan baiat gaib, mereka bisa bertemu dengan pimpinan, bisa di kamar sendirian, kemudian berbaiat, mereka sudah terikat dengan program itu,” ungkapnya.

Haris mengatakan, sebagai contoh pengantin yang dibaiat secara gaib adalah ZA yang melakukan penyerangan ke Mabes Polri pada Rabu (31/3). Adapun ZA masuk ke Mabes Polri, menodongkan senjata api, hingga akhirnya ditembak mati di lokasi oleh pihak kepolisian. ZA sendiri lahir di Jakarta pada 14 September 1995. Dia berusia 25 tahun dan tewas ditembak polisi karena dia melakukan penyerangan. Dia adalah perempuan lajang, berasal dari Ciracas, Jakarta Timur.(jp/jpnn)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!