Perhatikan Etika dalam Bermedsos

lLUSTRASI/ freepik.com/rawpixel.com

SETIAP orang bebas mengekspresikan diri di media sosial. Sayang, banyak diantaranya yang justru bertindak di luar batasan. Bahkan terkesan tak sopan, baik itu dari unggahan hingga saat memberikan komentar.

Berdasarkan survei Microsoft pada Februari lalu, warganet Indonesia disebut paling tak sopan se-Asia Tenggara, khususnya dalam bermedia sosial. Tentu saja hal ini membuat sebagian orang bertanya, bagaimana bisa negara yang dikenal paling ramah justru mendapat predikat paling tak sopan?

Yulia Ekawati Tasbita // Psikolog

Benar adanya bermedia sosial adalah hak semua orang. Namun, bukan berarti bebas berbuat seenaknya hingga berlaku tak sopan, baik di akun pribadi maupun orang lain.

Menanggapi hal tersebut, psikolog Yulia Ekawati Tasbita, S.Psi menyatakan melihat budaya Indonesia, pada dasarnya semua mengajarkan etika yang baik. Baik itu dalam bersikap, berlaku hingga bertutur kata. Karena Indonesia terikat dengan budaya dan sifat masyarakatnya yang religius. Namun, tak dapat dipungkiri perkembangan zaman dan teknologi semakin lama akan semakin terkikis karena etika, aturan, dan tauladan itu semakin berkurang dan dilanggar.

Sedikit banyaknya hal ini berdampak pada masyarakat, termasuk warganet. Membuat beberapa diantaranya tak bisa menyaring mana yang baik dan buruk bermedia sosial. Terpenting bagi sebagian warganet adalah bisa terlihat modern, keren dan berpengaruh terhadap ketenaran diri (menjadi terkenal atau viral) di media sosial.

Ditambah lagi figur yang didambakan di media sosial juga berlaku hal yang sama. Tentu saja akan membuat norma aturan semakin bergeser dan tak jarang dilanggar. Bisa dikatakan warganet Indonesia berlaku demikian karena menyerap apa yang di media sosial tanpa bisa menyaring dan mendapat bimbingan dari lingkungan terdekat.

“Padahal jika bijak saja, perkembangan teknologi akan berdampak positif bagi penggunanya,” ucap Yulia.

Untuk itulah, bimbingan dari lingkungan terdekat, khususnya orang tua. Orang tua bisa memberi pemahaman mana yang baik dan buruk saat bermedia sosial. Tujuannya, agar anak bisa menyaring dan tak menganggap semua hal baik. Karena tetap saja dalam bermedia sosial harus ada batasan.

Bukan berarti batasan dari orang tua membuat anak tak berdemokrasi. Anak bebas saja berekspresi, tapi tetap harus tahu sampai mana batasan yang diperbolehkan. Selain itu, harus tetap memperhatikan etika. Tanamkan mindset dalam diri bahwa memperhatikan etika adalah hal terpenting saat berekspresi di media sosial.

Yulia yakin dengan memperhatikan etika saat bermedia sosial, seseorang tak akan mudah melakukan hal-hal yang bersifat merugikan atau dinilai tak sopan. Perlu juga untuk aware terhadap diri dan lingkungan. Terus review setelah bermedia sosial, apakah unggahan atau komentar yang diberikan dapat berdampak buruk atau tidak.

Sejatinya, bermedia sosial bukan sekadar bebas berekspresi. Tetap ada etika, aturan dan norma serta batasan yang harus diperhatikan. (ghe)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!