Perilaku Mencabut Rambut

opini pontianak post
Oleh Tommy Priyatna

Oleh: dr. Nawangsari M.Biomed*

Mencabut rambut secara berulang, yang dapat menyebabkan kehilangan rambut yang jelas merupakan ciri penting dari Trikotilomania menurut DSM IV TR (American Psychiatric Association pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi 4 Text Revision tahun 2000). Menurut DSM IV, Trikotilomania termasuk dalam gangguan pengendalian Impuls yang tidak digolongkan di manapun, kini Trikotilomania diklasifikasikan  menurut DSM Vtahun 2013 sebagai gangguan obsesif-kompulsif dan terkait dengan gangguan obsesif-kompulsif / obsessive-compulsive disorder (OCD), gangguan eksoriasi, body dysmorphic disorder, dan hoarding disorder. Trikotilomania pertama kali digambarkan pada tahun 1889 oleh ahli dermatologi dari Perancis, Francois Hallopeau.

Yang menjadi gejala klinis Trikotilomania yaitu peningkatan ketegangan yang meningkat sesaat sebelum menarik/mencabut rambut atau ketika mencoba menolak prilaku ini; rasa menyenangkan, kepuasan, atau lega ketika mencabut rambut; dan gangguan ini menyebabkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau hendaya fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi penting lainnya. Prilaku mencabut rambut tidak akan didiagnosa sebagai Trikotilomania, bila ada gangguan jiwa lain (contohnya gangguan yang menunjukan waham atau halusinasi) atau gangguan medis umum (contohnya lesi sebelumnya pada kulit).

Komorbiditas Trikotilomania menurut Keuthen dkk tahun 2016 dan Grantdkk tahun 2017, Trikotilomania akan memiliki peningkatan kejadian diantaranya pada orang yang memiliki riwayat hidup gangguan mood (contohnya gangguan depresif berat), gangguan ansietas/kecemasan (contohnya gangguan obsesif kompulsif, ansietas menyeluruh, fobia sosial) dimana terlihat 50% mengalami Trikotilomania, gangguan penggunaan zat, gangguan makan, gangguan kepribadian (contohnya gangguan ambang dan obsesif kompulsif), serta retardasi mental. Faktanya menurut Grant dkk tahun 2016, gangguan depresi mayor seumur hidup yang akan mengalami Trikotilomania antara 29% hingga 52% pasien sedangkan pada pasien denganOCD ditemukan terjadi bersamaan Trikotilimania pada lebih dari 26% pasien. Trikotilomania juga sering terjadi bersamaan dengan gangguan pencabutan kulit (skin picking disorder), dan ketika itu terjadi, orang cenderung memiliki gejala Trikotilomania yang lebih parah.

Menurut penelitian Keuthen, Altenburger dan Pauls tahun 2014, melaporkan peningkatan kejadian Trikotilomania pada kerabat keluarga tingkat pertama dari orang yang menderita Trikotilomania, bersama dengan peningkatan tingkat gangguan mood dan kecemasan, dimana kerabat keluarga orang dengan Trikotilomania memiliki perkiraan risiko kekambuhan yang lebih tinggi untuk menarik rambut. Pada penelitian menggunakan hewan coba oleh Bienvenu dkk tahun 2009 terdapat hubungan SAPAP3, terhadap trikotilomania dan OCD. Sedangkan menurut penelitian Chamberlain dkk tahun 2018 bahwa pada pasien Trikotilomania menunjukkan penebalan kortikal berlebih dalam cluster maksimal di gyrus frontal inferior kanan dan tampaknya memainkan peran sentral dalam patofisiologi Trikotilomania walaupun temuan ini berbeda dari OCD. Hal ini didukung oleh penelitian Isobedkk tahun 2018 yang berusaha untuk menjelaskan abnormalitas struktural subkortikal, termasuk perubahan kelengkungan lokal, pengurangan volumetrik yang signifikan pada trikotilomania karena mempengaruhi regulasi, kontrol penghambatan, dan pembentukan kebiasaan. Menurut Kaplan dan Sadock pada Buku Ajar Psikiatri Klinis edisi 2 cetakan tahun 2018, Trikotilomania semakin sering dipandang memiliki substrat yang ditentukan secara biologis yang dapat mencerminkan aktivitas motorik yang dikeluarkan dengan tidak tepat atau perilaku merapikan sesuatu yang berlebihan. Teori biologi juga mengacu pada perbedaan metabolik dalam sistem serotonin dan opioid. Anggota keluarga pasien trikotilomania sering memiliki riwayat “tik”, gangguan pengendalian impuls, dan gejala obsesif kompulsif, yang lebih menyokong lagi kemungkinan adanya pengaruh dari faktor keturunan.

Epidemiologi pada Trikotilomania menurut penelitian Lewin dkk tahun 2009 umumnya pada perempuan dibandingkan pada pria (4:1), namun pada anak-anak tidak menunjukan perbedaan kejadian pada jenis kelamin tertentu. Trikotilomania umumnya memiliki onset saat pubertas dan jauh lebih sering terjadi pada wanita. Hal ini didukung, sejak 1977 oleh penelitian Keuthendkk  menemukan bahwa 53,3% dari sampel 45 orang dewasa dengan Trikotilomania dilaporkan bahwa mereka mengalami eksaserbasi/kekambuhan gejala yang lebih parah seminggu sebelum menstruasi.Hal ini sejalan dengan penelitian terbaru oleh Grantdan Chamberlaintahun 2018  yang meneliti peran hormon seks yaitu progesteron dan hormon lainnya dimana disaat kadarnya rendah berkorelasi dengan keparahan gejala yang akan dialami oleh gadis remaja dengan Trikotilomania.

Menurut Kaplan dan Sadock pada Buku Ajar Psikiatri Klinis edisi 2 cetakan tahun 2018, bahwaetiologi Trikotilomania ditentukan oleh banyak hal, dimana onsetnya dikaitkan dengan situasi yang penuh tekanan  (stressfull) pada lebih dari seperempat kasus. Gangguan hubungan ibu-anak, rasa takut ditinggalkan sendirian, dan baru saja kehilangan objek, sering dinyatakan sebagai faktor kritis yang berperan didalam keadaan Trikotilomania. Selain itu, penyalahgunaan zat juga dapat mendorong timbulnya gangguan Trikotilomania. Dinamik depresif sering dinyatakan sebagai faktor predisposisi tetapi tidak ada ciri atau gangguan kepribadian tertentu atau yang khas pada pasien Trikotilomania.

Peristiwa atau situasi kehidupan, menyenangkan atau tidak menyenangkan (penderitaan menurut Selye), sering terjadi tanpa disengaja, menimbulkan tantangan yang harus ditanggapi dengan adekuat. Menurut Thomas Holmesdan Richard Rahe yang membangun skala penilaian penyesuaian sosial mandaftarkan 43 peristiwa kehidupan yang menyebabkan berbagai gangguan dan stres pada kehidupan yang diurutkan berdasarkan nilai rerata. Berikut ini ada 15 Skala Penilaian Penyesuaian Sosial dari 43 peristiwa kehidupan yang menyebabkan gangguan dan stres pada kehidupan dengan reratanya sebagai berikut : 1. Kematian (100), 2. Perceraian (73), 3. Perpisahan Perkawinan dari Pasangan (65), 4. Penahanan di penjara atau instansi lain (63), 5. Kematian anggota Keluarga dekat (63), 6. Cedera atau penyakit pribadi yang berat (53), 7. Perkawinan (50), 8. Dipecat dari pekerjaan (47), 9. Perkawinan rujuk dengan pasangan (45), 10. Pensiun (45), 11. Perubahan besar kesehatan atau prilaku anggota keluarga (44), 12. Kehamilan (40), 13. Kesulitan Seksual (39), Mendapat anggota keluarga baru (persalinan, adopsi, orang yang lebih tua pindah ke rumah, dll) (39), 15. Penyesuaian bisnis kembali (Penyaturan, pengaturan kembali, bangkrut, dll) (39).

Trikotilomania bisa terjadi di semua daerah tubuh, yaitu alis, bulu mata, jenggot, ketiak, area kemaluan dan paling sering adalah area kulit kepala. Rambut yang hilang sering ditandai ditemukannya helaian pendek dan putus-putus, bersamaan dengan rambut yang normal dan panjang di area yang terkena. Tidak ada kelainan pada kulit atau kulit kepala. Prilaku ini dapat berlangsung dari hitungan menit hingga jam dan permulaan penarikan rambut umumnya terjadi pada akhir masa kanak-kanak atau remaja awal menurut Grant dan Chamberlaintahun 2016.

Menurut Tung dkk tahun 2015 dan Grant tahun 2016, periode perkembangan Trikotilomania ketika gangguan dimulai, sering dikaitkan dengan penurunan harga diri dan kualitas hidup dan penghindaran situasi sosial (misalnya, potong rambut, berenang, berada di luar pada hari yang berangin, kegiatan olahraga, atau berkencan). Prilaku Trikotilomania juga bisa menjadi isyarat saat menarik diri akibat stres, kebosanan, atau “waktu senggang” menurut Woods dkk tahun 2006. Selain itu, banyak orang yang tidak sepenuhnya menyadari perilaku menarik rambut mereka yang juga disebut sebagai tarikan “otomatis” sehingga dianggap bentuk hal yang biasa. Menurut penelitian Grant dan Odlaug tahun 2008, sekitar 10% -20% orang dengan trikotilomania bahkan memakan rambut mereka setelah menariknya (trichophagia), yang dapat mengakibatkan obstruksi/sumbatan gastrointestinal (saluran pencernaan) dan pembentukan bola rambut di usus (trichobezoars) yang memerlukan penanganan pembedahan.

Orang dengan Trikotilomania membutuhkan keterlibatan psikiater dan dermatologis bersama-sama. Oleh psikiater akan diberikan psikofarmaka, hipnoterapi dan terapi prilaku. Walaupun Trikotilomania jarang menyebabkan hal-hal yang mengancam jiwa namun jika tidak segera ditangani, dapat mengakibatkan kegagalan fungsi psikososial yang substansial. **

*Penulis adalah praktisi kesehatan.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!