Perjuangan Desa Bunut Hilir Melepas Kasus Stunting

Kesadaran Menjaga Asupan Makanan dan Pola Hidup Sehat Menjadi Kunci

Desa Bunut Hilir beberapa tahun lalu pernah ditetapkan sebagai desa dengan rangking dua kasus stunting terbanyak se Kabupaten Kapuas Hulu. Penyebab temuan stunting di desa penghasil ikan inipun masih samar. Berada di kawasan pertambangan, keberadaan MCK tepian sungai, hingga kurang disiplinnya calon ibu saat hamil digadang menjadi musabab stunting.

Mirza Ahmad Muin, Bunut Hilir

DESA Bunut Hilir merupakan satu dari sebelas desa yang berada di Kecamatan Bunut Kabupaten Kapuas Hulu. Diketahui desa yang berada di Daerah Aliran Sungai Kapuas ini merupakan desa penghasil ikan sungai. Sebagian besar masyarakatnya, menggantungkan hidup dengan bermata pencarian sebagai nelayan. Al hasil ikan, makanan penuh protein melimpah di sini.

Meski Bunut Hilir merupakan desa penghasil ikan. Ternyata beberapa tahun lalu, desa ini sempat ditetapkan sebagai desa nomor dua tertinggi temuan stunting di Bumi Uncak Kapuas. Bunut Hilir pun turut menjadi lokus penanganan penurunan angka stunting, masuk dalam Proyek Prioritas Nasional (Pro PN) yang dijalankan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Barat bersama Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu.

Hal itu dibenarkan oleh Camat Bunut, Syapril Ansari kepada Pontianak Post beberapa waktu lalu. “Beberapa tahun lalu, temuan stunting di Bunut Hilir cukup banyak. Tentu ini menjadi pertanyaan kami. Pasalnya, daerah ini penghasil ikan. Apakah saat ibu hamil, jarang mengkonsumsi ikan?,” pikir Syapril dulu.

Syapril semakin heran. Pasalnya temuan kasus stunting juga ditemukan pada desa penghasil ikan lainnya. Seperti di Desa Jongkong, Selimbau dan Embaloh. “Desa ini juga berada di Daerah Aliran Sungai. Kenapa desa penghasil ikan justru ditemukan stunting?,” ungkapnya.

Waktu itu, beragam spekulasi pun muncul dikepala Syapril. Anggapan jarang konsumsi ikan bagi ibu hamil baru satu penyebab. Kemudian, muncul beberapa penyebab stunting yang menurut Syapril bisa terjadi di sini.

Pikir Syapril, sudah puluhan tahun dan turun temurun aktivitas pertambangan emas dilakukan warga setempat. Penambangan emas dilakukan masyarakat di tepian sungai daerah perhuluan. Sehingga air sungai hasil tambang turun ke hilir. Dimungkinkan saja kata dia aktivitas ini menyebabkan terjadinya pencemaran air sungai sehingga terkontaminasi merkuri dan mengenai habitat hidup ikan di sungai.

Jikapun habitat ikan kebal merkuri, tetapi tidak dengan masyarakatnya. Termasuk ibu hamil akan rentan terpapar merkuri apabila mengkonsumsi ikan dari sungai bermerkuri. Akan masalah ini, sebenarnya ia sudah mendorong agar Dinas Lingkungan Hidup Kapuas Hulu melakukan pengkajian ulang agar sumber air ini ditinjau kembali.

Upaya Pemda Kapuas Hulu dalam penertiban PETI rencana juga diberlakukan dengan menetapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Ia menyetujui usulan itu. Akan lebih baik jika keberadaan WPR berada minimal lima ratus meter dari sungai. Dengan begitu, dapat memperkecil terjadinya pencemaran air sungai akibat aktivitas tambang ini. “Sampai sekarang saya belum berani berikan rekomendasi usulan WTR. Tetapi jika WTR berada di wilayah lima ratus meter dari tepi sungai akan saya berikan,” ujarnya.

Penyebab stunting lainnya, kemungkinan dari MCK yang berada di tepian sungai. Keberadaan MCK tepi sungai jika dilihat hingga saat ini sudah jauh berkurang. “Sosialisasi MCK di tepian sungai kami lakukan terus. Masyarakat silahkan beraktivitas di lanting. Tetapi ketika ingin buang air besar harus naik ke rumah,” katanya.

Budaya buang air di sungai, memang masih menjadi PR nya. Karena MCK di sungai turut menyebabkan kasus stunting terjadi.

Ia melanjutkan, paling penting agar paparan stunting tak kembali ditemukan adalah dengan sosialisasi kepada calon ibu dan remaja putri. Menurutnya, kesehatan anak mulai dari kandungan hingga usia dua tahun adalah masa paling rentan. Dimasa itu, iapun mengimbau agar dapat menjaga dan merawat bayi dengan benar.

Di tahun ini, ia bersyukur angka stunting di Desa Bunut Hilir mengalami penurunan. Meski stunting tidak menjadi lokus lagi, ke depan perhatiannya pada kasus ini akan tetap sama, agar temuan stunting di Bunut tidak mengulang.(**)

error: Content is protected !!