Perlunya Bercanda dengan Adab

for her

Bercanda dapat mengubah rasa bosan jadi tawa. Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga senang bercanda. Namun, tak semua gurauan menghadirkan gelak tawa. Bahkan, ada yang merugikan, baik diri sendiri maupun orang lain. Bagaimana jika anak yang melakukannya?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Bercanda menjadi salah satu cara menyegarkan pikiran. Dapat menghibur diri dari segala persoalan. Namun, tak sedikit gurauan berujung perkelahian. Bahkan, menyebabkan malapetaka. Seperti dialami siswi SMP salah satu daerah di Indonesia. Temannya bercanda dengan menarik kursi. Akibatnya, korban terjatuh dan tulang ekornya remuk. Candaan tersebut sangat merugikan.

Psikolog Verty Sari Pusparini, M.Psi mengatakan bercanda berperan penting dalam proses perkembangan anak, terutama dalam komunikasi dan hubungan interpersonal. Bentuk bercanda beragam. Tidak hanya pembicaraan, tetapi bisa dari bahasa nonverbal. Mengenalkan bercanda pada buah hati bisa dimulai dari melihat respon anak saat bermain ‘cilukba’ di usia enam bulan.

“Dari permainan itu anak paham konsep bermain dengan lucu,” ujarnya.

Menurut Verty, pemahaman bercanda bisa dilakukan sesuai umur. Saat batita, anak bisa paham bermain untuk merangsang pemahaman mengenai lelucon. Selain meningkatkan perkembangan sosialnya, selera humor anak juga dikaitkan dengan kecerdasan, kepercayaan diri, kreativitas, dan kemampuannya memecahkan masalah.

Psikolog di Sekolah Pelita Cemerlang ini menuturkan ahli humor dari Amerika Serikat, Paul McGhe pun menekankan bahwa humor merupakan bentuk permainan yang cerdas. Jadi, membuat ‘si kecil’ tertawa akan membawa keuntungan bagi tumbuh kembang otaknya. Sehingga, orang tua memang perlu menyelipkan bercanda ketika berinteraksi dengan anak.

Verty menyatakan tahapan yang bisa dilakukan dapat dimulai saat newborn dengan senyum refleks. Saat usia tiga bulan dengan senyum sosial, dimana bayi mulai merespon kehadiran orang lain. Di usia enam bulan, orang tua bisa mengajak buah hati bermain ‘cilukba’. Beranjak ke usia 1 sampai 3 tahun, anak mulai memahami permainan konyol saat bermain,

Anak sudah bisa tertawa ‘terkikik-kikik’ saat ditepuk bagian bokongnya atau ketika melihat orang tuanya menepuk kantong berisi udara. Di usia 4 sampai 5 tahun, anak sudah lancar berbicara dan mulai bisa membuat kalimat bercanda, diikuti ekspresi ‘aneh’. Orang tua sudah mulai bisa mewaspadai ketika buah hati menginjak usia sekolah dasar.

Saat menjadi siswa di sekolah, anak sudah bergaul dan menyerap banyak hal. Di usia ini, sering terjadi anak bicara atau berperilaku tanpa dia sendiri paham. Akibatnya, mulai muncul kata-kata (perbincangan) jorok yang tidak tepat. Jika terjadi, orang tua harus segera mengoreksi dan mengajarkan anak untuk hati-hati dalam bercanda.

Apalagi sampai ada yang bercanda dengan menarik kursi teman hingga terjatuh dan terluka. Seperti pemberitaan yang sempat viral beberapa waktu lalu. Jika ada candaan yang seperti ini, orang tua harus segera mengingatkan anak. Owener Biro Psikologi Gaverta ini menjelaskan penting untuk mengajarkan adab bercanda.

“Supaya anak punya emosi dan kemampuan sosial yang baik sebagai bekal pergaulannya,” tutur Verty.
Dampak positif yang dirasakan saat mengetahui dan memahami adab bercanda adalah anak menjadi lebih bahagia. Anak juga dapat mengelola emosi dengan baik, serta mampu mengembangkan kemampuan komunikasi. Selain itu, bercanda dengan adab mampu meningkatkan kecerdasan dan kepercayaan diri anak.

“Sedangkan, dampak negatif jika candaan yang disampaikan anak tidak terkontrol adalah anak jadi tidak paham aturan, tidak luwes berinteraksi dengan orang lain dan mudah emosi,” pungkasnya. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!