Perlunya Manajemen Konflik 

for her

Tak ada perusahaan tanpa persoalan. Tak hanya masalah kinerja karyawan, tetapi juga hal lain yang lebih kompleks. Diperlukan solusi yang tepat untuk mengontrol manajemen konflik agar masalah terselesaikan dengan tepat. 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Konflik selalu ada dalam kehidupan, termasuk di dunia kerja. Tak jarang pimpinan dan karyawan dihadapkan dengan konflik. Jika dibiarkan, berdampak buruk bagi semua lapisan.

Perubahan atau inovasi dalam perusahaan bisa menyebabkan timbulnya konflik. Apalagi tidak dibarengi dengan pemahaman yang baik terhadap ide-ide baru yang disampaikan pimpinan maupun karyawan. Diperlukan solusi-solusi tepat dalam manajemen konflik untuk menyelesaikannya.

Psikolog Romi Arif Rianto, S.Psi mengatakan manajemen konflik adalah metode atau cara mengatasi konflik yang terjadi di perusahaan. Apabila dibiarkan dsn tidak ditangani dengan baik, Romi yakin konflik yang ada tidak hanya merugikan dan mengganggu perusahaan, tetapi juga dapat menguras energi.

“Butuh perhatian dari perusahaan untuk mengatasi konflik yang terjadi,” ujarnya.

Romi menuturkan selain strategi bisnis, penting bagi perusahaan untuk menghadirkan manajemen konflik. Kemudian, mengelola konflik tersebut dengan baik. Jajaran direksi, mulai dari pimpinan, manager dan supervisor berperan penting. Para jajaran harus mengerti dengan jelas mengenai manajeman konflik yang dihadirkan.

“Termasuk membuat karyawan memahami mengenai manjemen konflik yang sedang terjadi,” tutur Romi.

Psikolog di RSJ Provinsi Kalimantan Barat ini menjelaskan konflik yang dihadirkan beragam. Baik personal, bisnis, ataupin yang sering terjadi di perusahaan. Misalnya, konflik personal, yang setiap karyawan harus paham mengelolanya.

“Jika yang sering terjadi konflik kerja, berarti setiap karyawan harus bisa mengatasi konflik ini dengan baik,” kata Romi.

Konflik yang dihadirkan juga bergantung dengan strategi perusahaan. Jika pimpinan menganggap bahwa karyawan perlu dilatih untuk mengelola konflik, pimpinan akan membuat simulasi (masalah). Kemudian, perusahaan boleh saja merekayasa konflik. Tetapi, tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan.

“Jika kebutuhan untuk karyawan belajar boleh saja. Akan berbahaya jika perusahaan rentan terhadap konflik. Sebaiknya jangan. Terpenting, saling menguatkan,” jelas Romi.

Jika rekayasa konflik tidak bisa dipecahkan oleh karyawan, bisa berdampak buruk pada psikologisnya. Pimpinan yang memiliki keterampilan tinggi dalam mengatasi konflik tak sekadar merekayasa, tapi juga memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadirkannya.

“Jika tidak memiliki keterampilan tersebut, sebaiknya tidak dilakukan,” saran Romi.

Metode penyelesaian konflik beragam. Tetapi, setidaknya harus ada komunikasi. Jika komunikasi lancar, saling memahami, akan jadi metode paling mudah untuk mengatasi konflik.

“Pahami dulu konflik seperti apa. Temukan inti masalahnya. Dengan memahami konflik proses mengatasinya akan lebih mudah,” pungkas Romi. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!