Permissive Parenting, Pola Asuh Minim Penerapan Aturan

Orang tua berperan penting dalam pembentukan karakter anak hingga dewasa. Beragam pola asuh pun menjadi pilihan orang tua dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Salah satunya pola asuh permisif.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Setiap orang tua, termasuk Fitri dan Panji. Pasangan ini sangat mencintai buah hatinya, Raja yang telah berusia sembilan tahun. Besarnya rasa cinta membuat keduanya  sepakat menerapkan pola asuh permisif, yakni pola asuh yang minim akan panduan dan aturan. Jika dilihat pola asuh ini tampak seperti seorang teman daripada figur orang tua.

“Karena kami berpendapat ‘ya seperti itulah anak-anak’,” ucap Fitri.

Namun, tanpa disadari, pola asuh ini malah membuat anaknya cenderung kurang disiplin.
Psikolog Sarah, M.Psi menjelaskan pola asuh permisif atau permissive parenting adalah pola pengasuhan orang tua kepada anak dengan kasih sayang atau dukungan yang berlebihan, sehingga sangat minim penerapan aturan kepada anak.

“Dengan arti lain pengasuhan dimana keinginan anak lebih dominan daripada pengaturan dari orang tua,” ujar Sarah.

Ada tiga hal yang dapat menggambarkan orang tua menerapkan pola asuh permisif. Yakni, anak sebagai ‘pemeran utama’ dalam fungsi keluarga, ketidakseimbangan antara memberikan kesempatan kepada anak untuk memenuhi keinginan dengan kontrol dari orang tua terhadap keinginan anak,  serta minim penerapan aturan dengan tegas.

Sarah menuturkan pola asuh permisif memiliki perbedaan dengan pola asuh lainnya. Hal ini terlihat jelas dari pihak yang lebih dominan dalam mengendalikan aturan, yaitu anak. Sedangkan, pada pengasuhan lain ada pergeseran, seperti otoriter (orang tua sangat dominan) dan demokratis (adanya peran dua arah dan kesepakatan dalam penerapan aturannya).

Dampak buruk yang bisa dalam penerapan pola asuh permisif adalah pemanjaan yang luar biasa pada anak karena fokus pada keinginan anak. Anak menjadi kurang memahami makna perilaku tanggung jawab dan menghargai orang lain. Komunikasi dalam keluarga menjadi tidak efektif. Orang tua pun kehilangan perannya sebagai pembimbing anak.

Bisakah orang tua menyadari bahwa pola asuh permisif yang diterapkan pada buah hatinya salah? Psikolog di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalbar ini mengatakan untuk menyadari perbuatan atau perilaku, idealnya manusia melakukan evaluasi diri dan bersedia menerima segala konsekuensi dari evaluasi tersebut.

“Tetapi, tidak mudah untuk melakukan self evaluation. Orang tua perlu pihak lain untuk memberikan masukan dan saran,” katanya.

Sarah menuturkan memang cukup berat menerima komentar orang lain mengenai pengasuhan yang dilakukan sebagai orang tua. Sebab, secara alami ada bentuk pertahanan diri, jika komentar orang lain tidak sesuai dengan harapan.

“Jadi, apakah orang tua bisa menyadari atau tidak, bisa saja orang tua menyadari pengasuhannya, apabila memperhatikan dua hal,” ungkap Sarah.

Pertama, ditinjau dari dampak. Artinya, setelah ada dampak buruk baru mengevaluasi dan menyadari apa saja yang sudah dilakukan dalam mengasuh buah hatinya. Kedua, ditinjau dari evaluasi dari pihak luar. Bisa saja keluarga dekat, kerabat atau teman.

Sarah menyatakan orang tua bisa mengubah pola asuh permisif yang sudah terlanjur diterapkan pada buah hati. Diawali dengan evaluasi diri terlebih dahulu, baik individu sebagai orang tua, atau melibatkan pasangan, kemudian diskusikan dengan pasangan setiap dampak dari pola perilaku dalam pengasuhan. Tentukan pola perilaku yang sudah mendukung tumbuh kembang anak.

Kemudian, lanjut Sarah, tentukan pola perilaku pengasuhan yang masih perlu diubah agar mencapai target yang ditentukan. Miisalnya, kemandirian anak, tanggung jawab ataupun untuk mengeliminasi perilaku buruk anak.

“Dan, yang paling penting terapkan perubahan itu bersama, dimana orang tua harus belajar untuk konsisten dengan perubahan yang ingin dicapai,” pungkas Sarah.**

loading...