Pertemuan Selanjutnya Pasti Menang!

All England : Pemain Jepang Hiroyuki Endo dan Yuta Watanabe (depan) saat laga melawan pemain Indonesia Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo di All England Open Badminton Championships di Birmingham (15/3). Oli SCARFF / AFP

BIRMINGHAM–Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo memang belum mampu menaklukkan mimpi terburuk mereka: Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe dalam final All England 2020 dini hari kemarin. Di Arena Birmingham, Inggris, pasangan berjuluk Minions itu kalah 18-21, 21-12, 19-21. Itu adalah kekalahan keenam beruntun mereka oleh ganda putra nomor dua Jepang tersebut.

Namun, tidak ada yang menyangkal bahwa permainan Minions jauh lebih bagus daripada sebelumnya. Dalam lima kekalahan yang lalu, mereka nyata sekali sulit mengimbangi taktik yang diterapkan Endo/Watanabe. Bahkan, dengan pertemuan terakhir di BWF World Tour Finals (WTF) 2019 di Guangzhou Desember silam, penampilan Minions sudah sangat berkembang.

”Oh jelas lebih bagus. Ini penampilan terbaik Marcus/Kevin (selama melawan Endo/Watanabe, Red),” kata Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra pelatnas, ketika dihubungi kemarin. ”Kita bisa lihat dari poinnya. Pada game ketiga sempat posisi unggul 19-18. Di WTF lalu mereka kalah 11-21, 21-14, 11-21. Artinya sudah mulai ketemu polanya,” ungkap dia.

Menurut pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi penampilan Minions sudah maksimal. Pertandingan memang tidak bisa diprediksi. Pada game ketiga, Minions tertinggal 0-6. Mereka mengejar, tapi tidak pernah berhasil leading. Baru menyalip di posisi 19-18. Namun, harapan juara musnah ketika Endo/Watanabe mampu meraih tiga poin beruntun.

“Semua sih berjalan normal. Kalau membicarakan itu (set ketiga), memang Watanabe nekat banget. Servis Marcus itu sudah tipis banget saat kedudukan 19-18, karena dia maju. Menurut kami itu rezekinya dia (Endo/Watanabe) saja yang lagi bagus,” beber Herry.

Pria berjuluk Pelatih Naga Api itu menjelaskan, dalam momen krusial seperti kemarin, bisa saja kedua pihak membuat kesalahan sendiri. “Kalau berandai-andai, misalnya servis di-lob sama Marcus kemungkinan bisa dapat poin. Tapi Watanabe sudah nekat banget. Dan penampilan mereka juga sangat baik. Hokinya mereka saja yang lebih daripada kami,” imbuh Herry.

Kemarin, pada game kedua dan ketiga, Minions lebih banyak mengincar Endo. Baik melalui smes maupun drop shot. Herry mengakui, memang itu strategi yang dia siapkan. Sebab, menyerang Watanabe lebih sulit. Pertahanan pemain 22 tahun itu bagaikan baja. Nyaris sempurna dan tidak banyak melakukan kesalahan.

Sebaliknya, Endo/Watanabe kini tidak lagi mengincar Marcus. Itu adalah buah dari latihan keras yang diterapkan Herry selama beberapa pekan sebelum All England. Selama ini, pasangan nomor enam dunia itu menganggap Marcus sebagai titik lemah. Yang pertahanannya lebih rapuh. Sepanjang awal tahun, Herry telah men-drill pemain 29 tahun tersebut untuk meningkatkan defense.

Benar saja. Kemarin, Marcus lebih sulit dimatikan. Bola-bola cepat Watanabe masih bisa dikembalikan. Itulah kenapa mereka bisa fight habis-habisan di game ketiga. ”Biasanya mereka kan mengincar Marcus. Tapi kami sudah siap itu semua. Adu strategi saja,” kata Herry.

Hal positif lain yang bisa dilihat dari laga kemarin, komunikasi Marcus dan Kevin sudah sangat bagus. Mereka banyak ngobrol. Baik di lapangan maupun saat break. Saat kalah pun tetap saling support. Marcus tampak memeluk Kevin. Herry menyatakan, mereka juga lebih legawa menerima hasil kemarin. Tidak lagi kecewa berlebihan seperti tahun lalu.

“Mereka (Marcus/Kevin) bisa menerima kekalahan dibanding sebelumnya yang kecewa sama penampilan mereka sendiri,” ungkap Herry. ”Memang kecewa nggak juara. Tetapi di sisi lain ada plusnya. Mereka jadi tahu, oh seperti ini cara mainnya. Kalah tetapi dengan permainan yang maksimal,” lanjut pelatih berusia 57 tahun tersebut.

Herry sangat optimistis, dengan cara bermain seperti kemarin, Minions sangat bisa mengalahkan Endo/Watanabe di kesempatan berikutnya. “Setidaknya kans memenangkan pertandingan lebih besar, karena sudah tahu polanya. Memang harus dilihat faktor lapangan, shuttle cock, dan lain-lain. Tidak hanya sekedar teknik saja,” tandas dia. (gil/na)

Read Previous

Saat Presiden, Menteri, hingga Staf ASN Bekerja dari Rumah

Read Next

YBS Imbau Jamuan Makan Bersama Ditiadakan

2 Comments

  • Nice post. I learn something more challenging on different blogs everyday. It will always be stimulating to read content from other writers and practice a little something from their store. I?d prefer to use some with the content on my blog whether you don?t mind. Natually I?ll give you a link on your web blog. Thanks for sharing.

  • Can I just say what a relief to find someone who actually knows what theyre talking about on the internet. You definitely know how to bring an issue to light and make it important. More people need to read this and understand this side of the story. I cant believe youre not more popular because you definitely have the gift.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *