Pertemuan Tatap Muka Digelar Terbatas

Iwan Amriady, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak

PONTIANAK – Sekolah-sekolah negeri di Kota Pontianak seluruhnya sudah mengikuti pembelajaran tatap muka. Meski demikian pelaksanaannya masih secara terbatas.

“Secara keseluruhan, siswa di sekolah negeri sudah mengikut pembelajaran tatap muka tetapi tidak digelar full satu minggu,” Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak Iwan Amriady di Pontianak, kemarin.

Namun dilanjutkan Iwan untuk sekolah-sekolah swasta atau dari yayasan masih melakukan penyesuaian pembelajaran tatap muka secara terbatas. Seperti pendidikan untuk anak usia dini.

“Ada beberapa terakhir dari swasta yang mengajukan untuk pembukaan pembelajaran tatap muka terbatas,” jelas Iwan.

Iwan mengatakan pihaknya sudah membentuk satgas Covid-19. Tidak hanya di dinas melainkan juga di sekolah-sekolah. Satgas ini yang secara terus menerus memantau pelaksanaan protokol kesehatan selama digelarnya pembelajaran tatap muka.

“Kami tetap memantau dan tetap memastikan sekolah harus dipastikan untuk melaksanakan prokes,” tegas Iwan.

Meski demikian pihaknya belum memutuskan menjadi klaster sekolah jika ditemukan kasus Covid-19 pada anak. Sejauh ini dilanjutkan Iwan temuan kasus pada anak merupakan bagian dari orang tua yang dinyatakan positif Covid-19.

“Jangan karena ada positif satu sekolah kemudian di tutup karena itu kami belum berani memutuskan bahwa itu adalah klaster sekolah. Temuan itu kami anggap adalah klaster keluarga, karena ada orangtua yang positif kemudian anaknya ikut tertular,” jelas Iwan.

Iwan menambahkan pihaknya terus mendorong vaksinasi pada anak. Terutama sesuai ketentuan dari pemerintah pusat yakni untuk anak berusia 12 tahun ke atas. Namun pihaknya juga tidak bisa memaksa sebab vaksinasi pada anak mesti mendapat persetujuan dari orangtua.

“Untuk tingkat SMP komunikasinya ada di sekolah dan guru. Jika orangtua siap, kami tinggal mengkoordinasikan dengan dinas kesehatan dan dilaksanakan vaksinasi di sekolah. Namun di bawah 12 tahun kami masih sifatnya mengimbau,” terang Iwan.

Sementara untuk guru, Iwan memastikan sudah seluruhnya divaksin. Terkecuali pada guru-guru yang tidak bisa divaksin karena terkendali penyakit yang dideritanya.

“Guru itu adalah ASN sehingga mereka punya banyak pintu mempersyaratkan vaksinasi. Untuk yang sehat vaksinasi sudah 100 persen. Bila yang sakit disertai surat bahwa mereka tidak bisa divaksin,” pungkas Iwan. (mse)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!