Petani dan Industri Kopra Sama-sama Terpuruk

kopra

PONTIANAK – Harga komoditas kelapa dan kopra sedang anjlok. Sejumlah petani kelapa menggelar demonstarasi di Kantor Gubernur Kalbar pekan lalu. Mereka meminta Gubernur Sutarmidji melakukan usaha untuk menaikkan harga komoditas ini. Menyikapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Pontianak Andreas Acui Simanjaya menyebut, para pengusaha kopra juga tidak bisa berbuat banyak untuk menaikkan harga kelapa. “Perusahaan minyak kelapa dan perusahaan yang membeli komoditas kelapa juga semakin terpuruk,” ujar dia, kemarin (30/9).

Dia menyebut, para petani menikmati harga tinggi pada beberapa tahun belakangan, lantaran adanya permintaan tinggi dari luar negeri. Namun, sudah sejak lama dia mewanti-wanti bahawa booming ekspor komoditas kelapa dalam dari Kalimantan Barat hanya bersifat sementara. “Ternyata terbuka nya peluang ekspor buah kelapa tua ini hanya berlangsung sementara. Setelah permintaan buah kelapa tua segar ini terhenti, petani kembali bertumpu dan berharap pada industri tradisional yang selama ini ada. Yaitu industri pengolahan kopra dan minyak kelapa,” ucap dia.

Padahal pada masa terbukanya pasar Tiongkok untuk membeli kelapa bulat, petani kelapa dalam seolah-olah melupakan keberadaan industri lokal yang selama ini menjadi mitranya. “Beberapa tahun terakhir ini ada permintaan buah tua kelapa dalam dalam keadaan mentah, berbentuk buah kelapa tua yang sudah dibuang sabutnya untuk di ekspor ke Tiongkok. Saat itu kelapa dalam berikut tempurungnya langsung dimasukkan kedalam kontainer dan di ekspor ke Tiongkok,” tutur dia.

Kondisi saat itu merupakan angin segar bagi petani dan pengusaha komoditas kelapa dalam. Namun menjadi persoalan bagi industri pengolahan komoditas kelapa dalam seperti penguasa pengasapan kopra di tingkat desa, pengumpul kopra hingga industri pengolahan minyak kelapa dalam. Sehingga sempat terjadi protes dari pelaku industri kelapa dalam yang terancam tidak mendapatkan bahan baku berupa kopra.

Dia berharap, dengan adanya masalah ini, para petani kelapa dalam harus bersatu dengan pelaku industri pengolahan komoditas kelapa dalam. “Tujuannya mencari jalan keluar dan melakukan mediasi bersama kepada pemerintah, sehingga ada kebijakan yang baik dan solutif untuk keseluruhan pelaku usaha di bidang komoditas kelapa dalam ini, mulai dari petani, pengusaha kopra di desa, industri pengolahan kopra sampai pengusaha eksportir dibilang ini,” tukas dia.

Dia mengatakan, sejak lampau kelapa dalam merupakan komoditas andalan sepanjang pesisir Kalbar. Banyak komponen masyarakat yang terlibat dalam usaha ini. Namun belakangan, beberapa perusahaan skala besar berdiri di Kalbar ambruk, lantaran kampanye negatif terhadap minyak kelapa.

Menurut dia, solusinya adalah adanya industri pengolahan kelapa yang baru dan modern dengan varian produksi baru. Misalnya perusahaan industri yang menghasilkan produk santan segar dalam kemasan, produksi nata dengan coco dari air kelapa, VCO. “Atau adanya kebijakan pemerintah yang menganjurkan agar industri di Kalbar mengunakan bahan baku dari kelapa untuk mengantikan bahan campuran dalam produksi pangan ternak yang selama ini berasal dari luar, misalnya industri pangan ternak bisa menggantikan bungkil kedelai dengan kopra atau daging kelapa,” sebut dia.

Solusi lain adalah petani di bantu pengetahuan dan alat untuk menghasilkan minyak kelapa dengan mutu yang bagus dan kemudian dicarikan perusahaan yang bisa jadi penampung minyak hasil produksi petani untuk dilakukan pemasaran dalam skala besar. “Pengurangan pajak khusus untuk industri yang mengunakan bahan baku kelapa bisa dipertimbangkan sebagai upaya untuk menaikan harga beli komoditas kelapa di tingkat petani, namun efektivitasnya harus di cermati,” pungkas dia. (ars)

Read Previous

Festival Arakan Pengantin Ramaikan HUT 258 Pontianak

Read Next

Xing Fu Bantu Penderita Diabetes Mellitus

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *