Petani Kesulitan Dapatkan Pupuk Subsidi

HAMPARAN PADI: Hamparan tanaman padi milik petani di Desa Peniti Dalam II. FOTO ISTIMEWA

MEMPAWAH-Petani di Kabupaten Mempawah mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk subsidi. Padahal, mereka sangat membutuhkan pupuk untuk kegiatan bercocok tanam. Mereka pun mengaku pasrah mengalami gagal panen lantaran tanaman padi mulai menguning karena tidak dipupuk.

Petani Desa Peniti Dalam II, Kecamatan Segedong, Martin mengaku sudah berusaha maksimal mencari keberadaan pupuk subsidi. Namun, belum berhasil mendapatkannya. “Kami sudah keliling mencari pupuk ke mana-mana sampai ke Desa Sungai Purun, Kecamatan Sungai Pinyuh. Yang ada hanya pupuk non subsidi, itupun jumlahnya terbatas,” kata Martin, Selasa (23/11) siang.

Menurut Martin, pertani seperti dirinya sangat mengandalkan pupuk subsidi. Sebab, harganya terjangkau sehingga petani dalam mengolah lahan pertanian dengan baik dengan harapan mendapatkan hasil panen yang maksimal.

“Saat ini kami hanya bisa pasrah melihat tanaman padi yang mulai menguning akibat kurang pupuk. Mau gimana lagi, kami sudah berusaha mencari tapi tidak menemukan pupuk subsidi di pasaran,” lirihnya.

Karenanya, Martin berharap pemerintah daerah dapat membantu petani mencarikan solusi atas kelangkaan pupuk subsidi di Desa Peniti Dalam II. Sebab menurutnya, kelangkaan tidak hanya terjadi di seluruh desa di Kecamatan Segedong. “Bukan hanya di Desa Peniti Dalam II saja, petani di desa lain juga mengeluhkan hal yang sama. Jadi boleh dikatakan wilayah Kecamatan Segedong ini pupuk subsidi langka. Jangankan subsidi, yang non subsidi pun susah dicari,” sesalnya.

Ditanya harga pupuk subsidi, Martin yang juga Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Peniti Dalam II itu mengungkapkan seharga Rp 125-Rp 130 ribu per 50 kilogram. “Sedangkan harga pupuk non subsidi belipat-lipat lebih mahal yakni Rp 600 ribuan per karung 50 kilogram. Untuk saat ini, kami terpaksa membeli pupuk urea non subsidi. Itu pun kami beli dalam jumlah sedikit, karena harganya mahal,” tandas dia.

Dilain pihak, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Mempawah mengungkapkan, kuota pupuk subsidi di tahun 2021 hanya mencakup 35-40 persen dari total kebutuhan petani di Kabupaten Mempawah. “Distribusi pupuk subsidi tidak ada persoalan. Setiap kecamatan terdapat 1-2 pengecer. Hanya saja, kuota pupuk subsidi yang terbatas. Cakupannya hanya 35-40 persen dari total kebutuhan petani di Kabupaten Mempawah,” ungkap Kepala DKPP, Gusti Basrun, Rabu (24/11) pagi.

Gusti Basrun menjelaskan, penetapan kuota pupuk subsidi ditentukan oleh Kementrian Pertanian dan Perindag. Kemudian, kuota tersebut di SK-an lalu didistribusikan di masing-masing daerah. “Kuota pupuk subsidi di Kabupaten Mempawah tahun 2021 yakni, UREA 1.400 ton, SP-36 sebanyak 8 ton, ZA tidak ada, NPK 3.462 ton, pupuk organik granul 100 ton dan pupuk organik cair 1.079,38 liter,” papar Gusti Basrun.

Sementara itu, lanjut dia, standar kebutuhan petani per hektare untuk sekali panen sebanyak UREA 200 kg, SP-36 sebanyak 100 kg, Kcl sebanyak 75-100 kg, NPK (Phonska) 300 kg. “Sedangkan total lahan pertanian yang digarap petani di Kabupaten Mempawah kurang lebih 12.341 ha. Dalam setahun, petani melakukan 2,5 kali tanam. Artinya, kita harus mempersiapkan pupuk subsidi untuk kebutuhan 30.451 ha dalam setahun,” terangnya.

Sehingga, sambung dia, dalam setahun kebutuhan pupuk subsidi petani di Kabupaten Mempawah yakni UREA 6.090 ton, SP 3.451 ton dan Kcl 3.451 ton. Jika dibandingkan dengan kuota yang didistribusikan, maka masih sangat jauh kekurangannya. “Buntutnya, pada musim tanam Oktober-Maret petani di Kabupaten Mempawah pasti kekurangan pupuk,” jelasnya.

Karena itu, Gusti Basrun menyarankan agar petani menggunakan pupuk alternatif untuk memenuhi kebutuhan lahannya. Menurut dia, pilihan pupuk alternatif cukup banyak dipasaran berupa pupuk cair. “Kita selalu sarankan agar petani menggunakan pupuk alternatif yang banyak di pasar berupa organik cair. Bahkan kita juga memberikan program penguatan kemandirian pupuk organik berupa bantuan alat pengolah pupuk organik (uppo),” ujarnya.

Disamping kuota yang tidak mencukupi, Gusti Basrun menyebut petani Desa Peniti Dalam II yang diberitakan kesulitan mendapatkan pupuk subsidi tidak terdata dalam E-RDKK. “Kami sudah cek, ternyata nama Pak Martin tidak masuk dalam E-RDKK. Padahal, E-RDKK ini sudah kita sosialisasikan sejak tahun lalu. Syaratnya tidak sulit, petani cukup menyerahkan KTP dan KK kepada penyuluh. Nanti petugas yang menginput datanya,” katanya.

Terkait E-RDKK, Gusti Basrun mengatakan dari total 20 ribuan petani di Kabupaten Mempawah baru sekitar 80 persen yang terdata. Maka, menurut dia diperlukan dukunagn dan kerjasama dari pemerintah desa setempat untuk membantu agar petani bisa terdata di E-RDKK. “Dengan menggunakan E-RDKK, pola perencanaan pendataan pupuk subsidi akan lebih mudah dan praktis. Bisa dilakukan secara online,” tutupnya.(wah)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!