Petani Landak Hasilkan Gula Merah dari Nira Sawit

sawit
PRODUK SAWIT: Sudianto menunjukan produk gula merah dari nira sawit yang dihasilkan oleh koperasinya. IST

Yakini Berkhasiat Besar bagi Kesehatan

Saat harga buah sawit dan CPO mengalami penurunan, muncul ide dari petani untuk mencari nilai tambah dari tanaman ini. Adalah Sudianto dari Kabupaten Landak, yang mencoba menampung tetes demi tetes nira yang keluar dari pucuk muda atau umbut sawit yang telah ditebang. Nira itu kemudian dijadikan gula merah oleh dia dan teman-temannya.

ARISTONO, PONTIANAK

DENGAN menampung tetes demi tetes nira pada umbut pucuk muda sawit, tak dinyana setiap batang sawit bisa menghasilkan 2,5 liter sampai 3 liter nira per hari. Demikian disampaikan Sudianto, saat bedah produk gula merah sawit produksi Koperasi Karya Mandiri, Kabupaten Landak, Gedung PLUT-KUMKM Kalbar, kemarin. Dia sendiri adalah kepala koperasi tersebut.

Jika sebelumnya proses peremajaan kebun sawit dilakukan penghancuran secara mekanis seluruh batang sawit tua, maka kali ini dengan kesepakatan pemilik lahan dan beberapa kelompok kerja peremajaan kebun, cara mekanis coba ditinggalkan. Persoalan menurunnya produktivitas tandan buah segar sawit saat pohon berusia lebih dari 25 tahun disertai berkurangnya pendapatan petani inilah yang kemudian muncul ide untuk memanfaatkan nira dari batang sawit tua yang ditebang dalam proses peremajaan kebun.

Menurutnya, jika satu orang tenaga penyadap mampu menyadap 50 batang, sedangkan tenaga penyadap berjumlah 25 orang, maka diprediksi setiap hari bisa terkumpul sebanyak 3.400 liter. Dan dalam proses pembuatan gula merah sawit ini secara bertahap Koperasi Karya Mandiri yang baru mulai merintis bulan Mei 2019, baru mempekerjakan 10 tenaga kerja. Namun setidaknya setiap bulan Koperasi Karya Mandiri pasti menyediakan 1 – 3 ton gula merah sawit dalam bentuk padat bongkahan.

Menurut Sudianto, secara umum masyarakat sudah mengenal gula merah dari kelapa atau dari pohon enau, namun sosialisasi pengenalan gula merah sawit ini tidak mengalami kesulitan. Bahkan jika dibandingkan dengan gula merah kelapa dan gula merah enau yang rata-rata dijual Rp 60.000 per kg, maka dalam tahap pengenalan ini gula merah sawit di tingkat Kabupaten Landak dijual dengan harga Rp 20.000 per kg. Sedangkan untuk pasaran Kota Pontianak dijual dengan harga Rp 25.000 per kg.

Menyinggung kandungan yang terdapat pada gula merah sawit, Sudianto memaparkan, palm brown sugar atau gula merah sawit ini berkhasiat menurunkan berat badan, membersihkan darah dan meningkatkan hemoglobin, meredakan nyeri haid, mencegah anemia, mencegah gangguan sistem syaraf dalam tubuh, mencegah asma, batuk dan alergi. “Juga mampu menjaga ketahanan tubuh, meredakan nyeri sendi dan keram, membantu kesulitan baung air kecil. Meningkatkan stamina dan mencegah sariawan. Mencegah penyakit kanker usus,” paparnya.

Sedangkan kandungan yang terdapat dalam gula merah sawit ini diantaranya karbohidrat, protein, kalsium, zat besi, fosfor, vitamin B3, vitamin C, serat makanan sukrosa dan fruktosa rendah, zat fitonutrien, flavonoir, antosianidin, antioksidan, glutamin sodium potasium, magnesium dan selenium.
Menyinggung kemungkinan untuk membuat gula semut sawit, Sudianto memaparkan, pihaknya fokus pada gula merah sawit padat terlebih dahulu, karena keterbatasan sumberdaya manusia, pemasaran dan permodalan.

Menurut Suherman, selaku Koordinator Konsultan Pendamping PLUT-KUMKM Kalbar gula merah sawit produksi Koperasi Karya Mandiri, Kabupaten Landak, dalam bentuk padat ini patut dibanggakan sebagai sebuah inovasi disaat fluktuasi harga TBS yang merugikan petani. “Hampir sulit dibedakan dari segi bentuk dan rasa dengan gula merah kelapa maupun gula merah aren,”ujar Suherman yang dibenarkan para konsultan pendamping lainnya. (*)