Petani-Peternak Milenial “Menantang” Covid-19

Mencoba Peruntungan: Seorang petani berkunjung ke kebun jeruk milik keluarga dan melihat potensi besar di kampung halaman, tempat tinggal orang  tuanya dahulu.

Minat bertani memang menurun di dera Pandemi Covid-19. Penyebabnya yakni selain komoditi tanaman pangan berupa beras-beras luar menerobos masuk sampai ke pelosok daerah, stigma menjadi petani “tidak sejahtera” masih melekat. Tidak sedikit anak “pelosok” merantau ke perkotaan mencoba peruntungan bersaing dengan banyak kompetitir. Ada yang sukses, tidak sedikit menyerah kembali ke kampung halaman. Kembali ke desa, tanaman pertanian dan perkebunan masih menjadi pekerjaan mayoritas banyak masyarakat secara turun-temurun.

================

Membesarkan Lobster Air Tawar pangsa pasarnya menjanjikan untuk ekpsor.

Meski begitu, masih ada semangat sebagian generasi milenial Kalbar yang masih melirik. Alasannya selain mencoba peruntungan, juga didera kehilangan maksimal pendapatan  akibat Pandemi Covid-19 masih berkepanjangan. Bagi “petarung”, Covid-19 bukan menjadi alasan untuk menyerah atau memutar otak dalam berusaha.

Yanti (39) misalnya, lulusan Fakultas Fekon Untan Pontianak yang bekerja sebagai pegawai BUMD PDAM Kabupaten Kubu Raya ini justru melihat peluang berusaha di kampung halaman orang tuanya. Tepatnya di Dusun Karya Utama, Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah.

Dia melihat hektaran lahan keluarganya belum tergarap secara maksimal.

“Saya melihat ada tanaman padi, buah jeruk, tomat dan naga. Tanaman ini ditanam keluarga saya, tapi hasilnya belum menyeluruh,” kata wanita dengan memakai kerudung ini.

Yanti mengaku bahwa semuanya berawal ketika perempuan dengan tiga anak ini berkunjung ke kampung halaman kecilnya, beberapa tahun silam.

Dulu, kampungnya dinamai Sungai Bundung sebelum dipatenkan dengan nama Desa Bukit Batu. Sejak kecil, Yanti sudah biasa dengan aneka tanaman sebelum memutuskan tinggal di Kota Pontianak, karena pindah tugas pekerjaan orang tuanya sebagai prajurit TNI-AD.

Dulu masuk ke Sungai Bundung ke tempat orang tuanya bukan perkara mudah. Memang akses jalan utama, jalan Kota Pontianak-Mempawah-Singkawang sudah ada. Hanya untuk mencapai tempat tinggalnya, harus kembali berjalan jalan kaki. Jarak tempuhnya juga cukup membuat kaki terkilir dan badan merasa lelah. Penyebabnya yakni, akses menuju rumahnya mempergunakan jalan kecil. Masih bertanah hitam, berlumpur pada musim penghujan dan berdebu pada musim pengering.

Butuh sekitar 4-5 kilometer untuk sampai. “Saya bersama mamak (almarhum) sering mengunjungi keluarga. Lelah dan letih apabila sudah sampai ke rumah keluarga,” ucapnya.

Dari jalan menuju rumahnya, dulu akses listrik belum memadai masuk. Pelita dengan bahan bakar minyak tanah masih banyak dipergunakan masyarakat. Sekarang, akses listrik sudah dinikmati rumah-rumah masyarakat yang berada di sana.

Meski begitu, lampu-lampu jalan di tempat kosong masih gelap gulita. Kalaupun ada penerangan seperti sekarang, sudah masuk ke pemukiman warga di sana. Warga mempergunakan kabel sendiri, membuat tiang dan mengalirkan penerangan dari meteran listrik sendiri.

“Jalan di depan masih gelap gulita. Tidak ada tiang listrik,” kata dia.

Nah, usai berkunjung bersama keluarga beramai-ramai dalam rangka menghadiri pernikahan keluarga, sekaligus melihat hamparan hektaran kebun keluarga, memunculkan ketertarikannya. Hamparan tanaman jeruk, buah naga, dan tanaman tomat, belum dimaksimalkan.

Yanti justru tidak menyangka dapat menemukan “panggilan” dalam bidang yang sempat tidak dipandangnya ini.

“Saya sempat bertanya apakah kehadiranku di dunia ini sudah memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar, terutama keluarga sendiri. Atau kehadiranku justru memberi beban?” Itulah momen yang membuat saya berpikir mencoba peruntungan pertanian biasa menjadi olahan organik,” ucapnya.

Berbekal tekad dan ambisi menolong keluarga yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan pekebun, dia mencoba mengajak keluarga di kampungnya belajar mengolah lahan secara organik. Minim pengetahuan dan tidak berpengalaman soal bertani dan berkebun, keluarganya sering panen tidak maksimal.

Tak maksimal yang berarti gagal, tak menghentikan dirinya melangkah mencoba bertani dan berkebun secara milenial. Meskipun masih tahapan belajar, ternyata hasilnya lebih banyak dibandingkan bertani secara alami turun temurun.

Hasil kebun dan tani tersebut ternyata menjadikannya sebagai proses menantang dalam menemukan gairah kembali ke alam. Yanti makin asik dengan melihat kebun jeruk, tomat dan buah naga tampak subur. Dia seperti kembali menemukan jati dirinya keluar dari hinggar binggar kehidupan perkotaan.

“Seperti menemukan ketenangan bertani dan berkebun bersama keluarga. Meski tidak setiap bulan ke sini, saya melihat kedamaian. Keluarga saya juga senang,” katanya ketika kembali pergi beberapa kali ke kampung halamannya.

Mencoba peruntungan dengan belajar bertani secara milenial, Yanti merasa memiliki tanggung jawab memberikan ilmu teori. Searching internet juga dari buku-buku bertani dan berkebun, bagaimana berdiri di atas kaki sendiri diajarkannya kepada keluarga. Sebab di sekitar areal pertanian, istilah pembeli datang lebih awal (tengkulak) sudah dari dulu hadir. Di sana dianggap normal, walaupun harga belinya tidak mengenakan petani.

“Nah keterikatan petani dengan para tengkulak membutuhkan anak-anak muda dalam mendobrak dan meyakinkan petani setempat. Kalau tidak begitu ya, tetap sama. Kuncinya tetap bagaimana hasil tani dan kebun dihargai sesuai pasaran,” ucapnya.

Menurut dia pentingnya kehadiran generasi milenial dalam sektor pertanian memang untuk kembali menggerakan para sarjana desa, tidak hanya mencari kerja dan peruntungan di perkotaan. Kalau perlu bersekolah di perkotaan kemudian kembali lagi ke daerah asal.

“Tujuannya tetap membangun sektor-sektor handal daerah seperti
pertanian dan perkebunan,” katanya.

Yanti kemudian merinci data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui searching google di media-media online bahwa jumlah petani milenial di Indonesia, berusia 19-40 tahun terus menurun. Dari tahun ke tahun seperti 2017- 2018 dan 2019, terjadi penurunan. Ratusan ribu orang di Indonesia umur milenial engan menjadi petani dan pekebun.

Makanya, dia berpikiran berpikiran bagaimana generasi milenial perkotaan mau kembali ke desa membangun daerahnya sendiri. “Luasan hektar lahan masih banyak. Tinggal kita manfaatkan. Banyak tanaman handal. Tak hanya kebun, perikanan darat juga dapat dimaksimalkan di desa. Carilah memang komiditi dikembangkan berharga mahal diluaran,” ucapnya memberikan nasehat.

Meskipun secara teori, Yanti paham, di tengah situasi Pandemi Covid-19 global seperti sekarang, dia tetap menganjurkan keluarganya mematuhi protokol kesehatan ketika bekerja.

Di kampung, para petani di Sungai Bundung tetap memakai masker dan menyediakan sabun cair cuci tangan di depan rumahnya. Pun demikian ketika berada di ladang, alat-alat protokol kesehatan tetap selalu dibawa.

“Memang belum ada pasien Covid-19 di sini. Tetapi masyarakat disini patuh dengan anjuran pemerintah seperti memakai masker, mencuci tangan dan memakan hand sanytizer,” ucapnya.

Beda Yanti, lain lagi dengan Hamdani. Pria berusia sekitar 39 tahun, merasa optimis dengan keputusannya menekuni bidang perikanan milenial secara sambilan. Dia juga yakin ke depannya membuahkan hasil.

Hamdani memilih bukan beternak lele, nila, mas, gurame atau ikan umum lain. Dia memilih di belakang rumahnya dengan beralaskan bahan terpal berukuran 3×4 meter mengembangbiakan Lobster Air Tawar atau dikenal dengan nama latin Cherax Quadricarinatus.

Hamdani tertarik dengan Cherax Quadricarinatus karena daya tahan hidupnya cukup kuat, dibandingkan Lobster Air Asin dengan nama latin Panulirus Polypagus yang harus berada di laut lepas.

“Mudah ternaknya kok, lobster air tawar. Makanan ada sekitar rumah kita dan tahan dengan air sungai, terutama sungai kapuas. Asalkan sirkulasi airnya teratur,” kata pria yang tinggal di Kubu Raya ini.

Daya tahan benih Lobster Air Tawar berukuran sekitar ibu jari, yang dibelinya dari Pangandaran, Jawa Barat cukup kuat. Bibit bakalan besar asalkan diberlakukan dengan maksimal. Artinya tempat tinggalnya dari bahan terpal harus dibangun penutup dari terangnya sinar mata hari.

Selain itu, dalam airnya juga wajib dibuatkan rumah dari bahan paralon berukuran 1,5-2 inchi. Fungsinya, selain sebagai tempat perkembangbiakan bibit Lobster Air Tawar, juga tempat hidupnya.

Dani sapaan karibnya sendiri memulai mengembangbiakan Lobster Air Tawar di perumahan komplek sederhana, persisnya di areal bagian belakang rumahnya. Masih tersisa beberapa meter, diapun memanfaatkan sebagai tempat hidup Lobster Air Tawar.

Dia tertarik bertenak, karena sebelumnya menemukan pangsa pasarnya di Cina, tepatnya sebelum Pandemi Covid-19 menglobal.

“Harganya di sana cukup mahal. Dihitungnya per ekor dengan ukuran tertentu akan masuk harga ekspor. Makanya saya mau mencoba,” kata
pria berperawakan sedang ini.

Setelah mencoba beberapa bulan, Cherax Quadricarinatus memang membesar. Beberapa ekor memang masuk kapasitas untuk diekspor, tidak sedikit kebanyakan bantat (tidak membesar, red). Untunglah bibit yang dibelinya hanya sekitar 100-200 ekor Cherax Quadricarinatus saja.

Sayangnya lagi, selama pandemi Covid-19 mendera, lobster-lobster air tawarnya kebanyakan untuk dikonsumsi keluarga saja.

“Di sana belum menerima barang dari kita. Jadinya daripada tidak diapa-apakan, makan saja untuk keluarga. Namun ke depan, usai situasi Covid-19 membaik, saya berencana menjadikan Cherax Quadricarinatus untuk ekspor,” tukasnya.

Dani berencana membeli sekitar 1.000 ekor bibit Cherax Quadricarinatus. Dia juga mempelajari bagaimana Lobster Air Tawar indukan jantan dan betina berkembang biak menjadi banyak. Sebab, pangsa pasarnya selain lokal juga ekspor masih ada. Di sisi lain juga, bisa membuka pemuda-pemudi setiap gang, punya lobster air tawar di
belakang rumahnya.

“Saya akan ajak kawan-kawan yang mau saja. Bibitnya juga murah, seukuran ibu jari hanya Rp5.000-6.000. Tetapi kalau sudah besar dengan ukuran ekspor, bisa dihargai Rp6.000.000-7.000.000 per ekor masih hidup,” tukasnya.

Dani dan Yanti memang berpikiran bahwa Pandemi Covid-19 yang masih menglobal dan mendera ini, tidak boleh menyulutkan semangat mereka mencari recehan. Sebab sebagai “petarung” hidup masih berputar setiap harinya.

“Ada tanggungjawab yang harus dipikul setiap individu keluarga. Selain berjuang untuk anak dan istri, untuk orang tua juga untuk kelurga dan kawan-kawan. Intinya mencari rejeki di tengah Pandemi Covid-19 harus selalu berpikiran luas membuka peluang apapun,” kata Dani mengakhiri.(den)

error: Content is protected !!