Petani Sintang Hasilkan Satu Hektare Hasilkan 5 Ton Gabah

SINTANG-Panen padi sawah tengah dirayakan oleh Kelompok Tani Harapan Jaya di Desa Kajang Baru, Kecamatan Sungai Tebelian, kemarin. Menariknya dari panen kali ini adalah sistem tanam padi yang digunakan masyarakat. Mereka menyebutnya dengan sistem tanam Tabela. Sistem tersebut menggunakan alat ‘Pespa Tabel” yang berarti pelak sepeda dan paralon yang dijadikan medium tanam benih.

Panen padi sawah dengan sistem tabela itu dapat menghasilkan 5,3 ton gabah per hektar sawah. Kelompok Tani Harapan Jaya Desa setiap tahun dua kali panen dengan menggunakan bibit padi inpari 43, sistem tanam jajar legowo, dan masa tanam 95-115 hari.

Lasino, Penyuluh Pertanian yang melakukan pembinaan di Desa Kajang Baru menjelaskan bahwa alat ‘Pespaa Tabel” yang berarti pelek sepeda dan paralon tanam benih langsung ini sangat murah.

“Kami membeli alat ini hanya satu, kelompok tani yang mau memakai silakan meminjam atau bisa ditiru dan diperbanyak. Benih padi yang akan ditanam kami rendam dengan air garam selama satu malam dua hari. Penggunaan alatnya dengan cara ditarik sehingga satu hektar bisa 25 sampai 30 kg bibit saja,” ujarnya.

Dia memaparkan, satu hektar dalam sehari bisa dikerjakan satu orang, biaya juga murah. Selisih biaya antara yang menggunajan tabela dan bukan itu sekitar 4 juta per hektare. Sistem tabela ini, polulasi tanam lebih luas, umur panen lebih cepat.

“Sistim tanam ini sudah diterapkan di Kecamatan Sepauk, Dedai, Kayan Hilir, dan Kelam Permai.  Kami menggunakan pupuk NPK, Urea, dan TSP untuk 1 hektar akan menghabiskan 5,3 ton. Menurut saya, ada tiga keuntungan dengan mengunakan alat ini yakni biaya lebih ringan, panen lebih cepat, dan panen lebih banyak,” terangnya lagi.

Panen kali ini dihadiri langsung oleh Bupati Sintang Jarot Winarno. Pada kesempatan itu, Jarot juga berdialog kepada para petani sekaligus menyerahkan satu unit alat perontok padi.

“Sistem Tabela ini sesuatu yang baru, saya dukung untuk disebarluaskan ke petani lainnya,” ujar Bupati Sintang ini.

Ke depan, Jarot berharap, masyarakat masih tetap meneruskan tanam padi ini. Sebab, kata Jarot, Kabupaten Sintang masih minim soal luasan lahan sawah.

“Yang mana di Sintang ini hanya ada 7.700 hektar sawah yang tidak semuanya produktif. Oleh sebab itu, kita perlu tingkatkan lagi,” paparnya.

Berangkat dari itu, pihaknya akan segera mengeluarkan Peraturan Bupati tentang Lahan Penyangga Ketahanan pangan. Regulasi itu nantinya, lanjut Jarot, untuk tidak ada lagi alih fungsi lahan pertanian dan perkebunan.

“Saya akan keluarkan peraturan bupati sintang tentang lahan penyangga ketahanan pangan yang artinya tidak boleh lagi ada pengalihfungsian lahan pertanian dan perkebunan untuk perumahan dan sebagainya,” tutupnya. (fds)