Petani Takut dan Trauma untuk Kembali Berladang

SIDANG: Magan, terdakwa asal Desa Empaka Kebiau Raya, Kecamatan Binjai Hulu tampak sedang mendengar keterangan saksi pada sidang kedua yang digelar di PN Sintang. FIRDAUS DARKATNI/PONTIANAK POST

SINTANG-Dari enam terdakwa dugaan kasus kebakaran lahan yang saat ini tengah diproses hukum di Pengadilan Negeri Sintang. Salah satunya menerpa Magan, pria paruh baya yang sudah berumur 67 tahun ini sudah ditetapkan sebagai terdakwa pada dugaan kasus kebakaran lahan belum lama ini.

Saat sidang di pengadilan kemarin, Magan tampak serius menyimak keterangan saksi yang dihadirkan oleh penuntut umum. Ketika sudah selesai, Pontianak Post berkesempatan mewawancarai beliau.

Saat ditemui, Magan tak terlalu fasih menggunakan bahasa Indonesia, ia lebih lancar menggunakan dialek dayak dibanding bahasa Indonesia.

“Saya tak memahami proses sidang yang sedang berlansung, saya kalau ditanya, biasanya dijawab oleh pengacara, saya tak paham sidang ini karena saya tidak sekolah,” ungkap Magan dengan logat dayaknya yang kental.

Ia bercerita, pada musim kemarau yang melanda pada Agustus kemarin, ia bersama anak dan keluarga membuka ladang dan hendak ditanam padi. Hal ini sudah dilakukannya sudah lama dan turun temurun.

“Lahan yang kita buka untuk berladang itu sudah menjadi kebiasaan tiap tahun, karena kalau buka lahan di musim penghujan sudah terlambat, harusnya musim penghujan sudah masuk penanaman padi,” jelasnya lagi.

Ketika ditanya saat proses penangkapan oleh pihak kepolisian, Magan membeberkan bahwa kepolisian menangkap dirinya ketika api di lahan yang ia buka untuk berladang sudah lama padam.

“Polisi menangkap saya, saat sudah selesai membakar, sekitar 4-5 hari begitu la, sudah lama, api sudah padam,” ujar Magan mencoba mengingat.

Tak hanya itu, ia menjelaskan, sebelum ia bersama keluarga membuka lahan dengan membakar, mesin Robin sudah disiapkan di sekitar ladang yang dibuka untuk mencegah api agar tidak menjalar ke lahan yang lain.

“Kita sudah mengantisipasi ketika hendak membuka ladang, karena kami bertani sudah bertahun-tahun, mesin Robin juga sudah kami siapkan, dan memang tidak merembet ke kebun lain dan juga tidak ada masalah, api juga kami padamkan. Ketika kami membuka lahan dengan membakar, kami sudah izin dengan Ketua RT dan Kepala Dusun,” imbuhnya.

Akibat dari kasus yang menerpanya ini, Magan mengakui, ada ketakutan dan trauma yang melanda dirinya untuk tidak kembali berladang. “Saya sudah tua, cukuplah selanjutnya dilanjutkan ke anak dan cucu, takut saya kalau kembali kena kasus seperti ini, capek,” keluhnya.

Dampak ini, tak hanya menerpa Magan, terdakwa lainnya juga sama. Ihwal ini disampaikan langsung oleh organisasi yang saat ini turut membantu mengadvokasi kasus yang tengah melanda enam terdakwa dugaan kebakaran lahan di Kabupaten Sintang. Adalah Andreas, Ketua Aliansi Seluruh Anak Peladang (Asap) Sintang saat ditemui di Pengadilan Negeri Sintang membenarkan soal trauma dan ketakukan para terdakwa untuk kembali berladang.

“Bukan hanya Pak Magan, yang lain juga begitu, sementara berladang ada pencaharian utama mereka, kalau tak berladang, dari mana mau dapat beras, padi jak tak ditanam,” ucap Andreas.

Itu sebab, ia bersama masyarakat dan mahasiswa yang ada di Kabupaten Sintang, tetap terus memperjuangkan hak mereka agar kebebasan bisa diraih kepada para peladang yang saat ini menjadi terdakwa.

“Tuntutan kita cuma satu, kita minta semua terdakwa bebas tanpa syarat, mereka semua peladang, buka lahan untuk menanam padi, bukan penjahat, mereka petani yang sedang cari makan,” tegasnya lagi.

Saat ini, Andreas bersama Asap terus mengawal proses yang menimpa keenam terdakwa terkait dugaan kasus kebakaran lahan di Pengadilan Negeri Sintang. Mereka bersama kuasa hukum terus meminta keadilan terkait dengan kasus yang menimpa para peladang. (fds)

 

error: Content is protected !!