PMI Jadi Separuh Hidup

Lusi Nuryanti / Sekretaris / Kepala markas PMI Kota Pontianak

Semua bermula ketika menjadi anggota Palang Merah Remaja (PMR) ketika duduk di bangku SMP. Lusi Nuryanti pun menjadi tertarik untuk berkecimpung di bidang kemanusiaan. Kini, tanpa terasa, 24 tahun sudah. Dia tetap aktif membantu sesama dan kini menjabat sebagai Kepala Markas PMI Kota Pontianak.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Ketika lulus dari SMPN 16 Pontianak, Lusi melanjutkan ke SMAN 2 Pontianak. Seperti ketika SMP, Lusi juga menjadi anggota PMR Wira di sekolah. Begitu pula ketika berkuliah di Universitas Tanjungpura, Lusi tetap aktif di bidang kemanusiaan. Dia menjadi anggota relawan korps suka rela. Sembari kuliah, Lusi juga sempat bekerja di bagian staf SDM di PMI Provinsi Kalbar. Ketika wisuda, Lusi ikut suami yang bertugas di Sekadau. Disana, ia aktif melatih PMR.

“Setelah itu saya pindah ke Kota Pontianak dan bergabung disini sejak tahun 2006. Kurang lebih sudah 24 tahun menjadi bagian dari anggota PMI,” ceritanya.

Kini, Lusi mengabdi sebagai Sekretaris/Kepala markas PMI Kota Pontianak. Ia dan rekan-rekannya di PMI Kota Pontianak terus berusaha mencari inovasi untuk membuat pelayanan akan darah menjadi lebih mudah, termasuk juga mengatasi kekurangan stok darah.

Memang tak mudah. Tapi, perjuangan Lusi dan rekan-rekannya mulai menampakkan hasil. “Alhamdulillah 10 tahun terakhir saya menyaksikan sendiri bagaimana pengurus PMI Kota Pontianak membenahi manajemen yang ada,” tutur Lusi.

Kini, tak ada lagi yang merasa kesulitan ketika membutuhkan darah atau takut bertemu calo. Lusi mengatakan selama ini PMI Kota Pontianak berusaha untuk transparan. Masyarakat bisa melihat stok darah melalui website, layar televisi PMI, dan media sosial lainnya.

Menurut Lusi, PMI Kota Pontianak sejauh ini sudah melakukan yang terbaik. Bahkan, kantong darah yang dimiliki melebihi kebutuhan untuk masyarakat Kota Pontianak.

“Itu juga jika hanya melayani penduduk Kota Pontianak. Saat ini PMI Kota Pontianak harus melayani kurang lebih 20 RS dan Klinik se-Kota Pontianak, Kubu Raya serta melayani seluruh masyarakat di Kalbar ini,” jelasnya.

Namun, hal tersebut justru menjadi tantangan. Perempuan kelahiran Blitar, 3 Maret 1985 dan rekan-rekan di PMI Kota Pontianak membina relawan untuk mau menjadi pendonor darah sukarela dan menjadikan kegiatan donor darah ini sebagai lifestyle.

Lusi menuturkan saat mengadakan kegiatan donor darah untuk even tertentu, PMI Kota Pontianak terkadang memberikan paket sembako berupa beras 5 kilogram dan bahan lainnya sebagai cinderamata setelah selesai donor darah. Suvenir ini hanya menjadi stimulan saja.

“Ketika stok darah sudah mulai kosong biasanya dua bulan sekali kami mengadakan acara donor darah massal dengan pancingan stimulan paket sembako,” tutur Lusi.

Lusi dan rekan-rekan di PMI Kota Pontianak tetap melakukan perannya mengedukasi masyarakat mendonorkan darah setiap 75 hari sekali. Donor darah bukan hanya saat keluarga saja yang butuh. Jadilah pendonor darah sukarela bukan pengganti.

Saat pandemi Covid-19, permintaan darah mengalami penuruan.

“Mungkin karena beberapa operasi ada yang bisa ditunda. Disisi lain, pendonor darah juga berkurang. Inovasi dari teman baik yang bekerja di PMI maupun relawan sangat dibutuhkan,” katanya.

Beberapa waktu lalu, ketika Kota Pontianak diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), PMI memberikan pertolongan pertama dan kesiap siagaan bencana. Saat itu, ia langsung berkoordinasi dengan Ketua PMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono.

Lusi mengungkapkan ia dan rekan-rekan di PMI Kota Pontianak selalu siap siaga membantu saat bencana, seperti menyiagakan relawan, memberikan layanan pertolongan pertama dan ambulans, dan juga menyediakan oksigen di mobil ambulans.

Lusi menjelaskan susah-susahh gampang mencari relawan di bidang kemanusiaan. Karena selama 24 tahun berada di dalam bidang kemanusiaan ini, ia banyak melihat relawan yang datang dan pergi silih berganti. Tetapi, hal itu tak membuat semangat Lusi padam. Ia merasa bersyukur ketika ada kegiatan para relawan tetap membantu sesuai bidang masing-masing.

Lusi menjelaskan PMI sudah seperti separuh hidupnya. Baginya selama bergabung di PMI, Lusi bukan hanya sekadar berbuat, tapi juga banyak ilmu yang diperolehnya di sana. PMI sendiri banyak sekali memberikan materi-materi ilmu pelatihan luar biasa dan gratis. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!