Pola Asuh ‘Co-Parenting’ Setelah Perceraian

Saat rumah tangga berakhir dengan perceraian, pastinya berimbas pada anak. Buah hati terpaksa hidup terpisah dari salah satu orangtuanya. Namun, bukan berarti tak bisa mendapat kasih sayang secara untuk dari ayah dan ibunya. Dengan pola asuh co-parenting, anak menjadi tak merasa kehilangan keduanya.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Perceraian berkaitan erat dengan hak asuh. Sebab, anak harus memilih atau terpaksa tinggal dengan salah satu orang tuanya. Tanpa orangtua yang utuh, pastinya berpengaruh pada psikologisnya.

Namun, untuk mengurangi efek psikologis perceraian pada anak-anak. Psikolog Endah Fitriani, M.Psi menjelaskan pola asuh co-parenting adalah usaha pengasuhan yang dilakukan bersama-sama, meskipun suami istri telah berpisah.

“Ingat, tugas mengasuh dan mendidik anak tak hanya membutuhkan ibu saja atau ayah, tapi keduanya,” kata Endah.

Endah Fitriani // Psikolog

Ikatan pernikahan keduanya memang telah terhenti, tetapi komitmen mengasuh dan membesarkan anak-anak tetap dijalankan secara bersama. Endah menilai anak sebaiknya tak dijadikan korban yang terkena dampak langsung perceraian orang tuanya. Orang tua tetap harus memastikan hak-hak anaknya tetap terjaga.

“Maka dari itu, pola asuh ini sangat efektif dilakukan. Dengan menerapkan pola asuh co-parenting anak berkesempatan mendapatkan pengasuhan yang baik demi masa depan yang baik,” ujar Endah.

Endah mengatakan sebelum menerapkan pola asuh co-parenting, orang tua tetap melibatkan anak dengan mengajaknya untuk berdiskusi lebih dulu. Sebab, ada hal-hal yang perlu dijelaskan, serta aturan-aturan yang akan dijalankan oleh anak sehingga pola asuh co-parenting ini dapat berjalan dengan baik.

“Orang tua juga harus menjelaskan pada anak, meski sudah tak bersama akan tetapi untuk anak, orang tua akan selalu bersama dalam hal pertumbuhan dan perkembangan anak,” tutur Endah.

Dalam menjalankan pola asuh co-parenting, ada beberapa hal yang harus dihindari agar dapat berjalan dengan baik.

Pertama, memberikan segalanya. Pola asuh anak yang salah dan harus dihindari oleh orang tua ialah pola asuh yang memberikan segalanya pada anak tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau keinginan, serta baik atau buruk bagi anak.
“Pola asuh ini jelas salah dan harus dihindari walaupun kesannya orang tua sangat menyayangi anak dan berusaha membahagiakannya,” jelas Endah.

Dampak buruk dari pola asuh ini adalah anak berpotensi menjadi manja dan tak memiliki rasa percaya diri.  Dia berpikir segala sesuatunya bergantung pada orangtua.

Kedua, keras dan otoriter. Pada pola asuh ini orang tua menjadi pusat dari pola asuh tersebut, bukan anak. Sebaiknya pola asuh ini dihindari karena akan memberikan dampak psikis yang kurang baik bagi anak.

“Bukannya menjadi anak yang kuat, mereka malah bisa tumbuh dengan penuh rasa benci dan depresi sejak masih anak-anak,” kata Endah.

Ketiga, hanya memberi materi tanpa perhatian. Endah menuturkan orang tua harus tahu bahwa yang dibutuhkan seorang anak tak hanya materi atau dengan mudah terbayar dengan materi semata, tapi juga membutuhkan perhatian dari orang tuanya sendiri.

Memang secara materi kebutuhannya terasa sudah terlengkapi dan terpenuhi semua, tetapi akan merasakan kesepian. Dia akan iri pada anak lainnya yang hidupnya sederhana, tetapi mendapatkan kasih sayang penuh dari orangtua.

“Jangan sampai salah mengartikan apa yang dibutuhkan anak, bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhannya penting namun kasih sayang juga bagian dari kewajiban orang tua yang menjadi hak anak,” ungkap Endah.

Keempat, mengandalkan jasa pihak ketiga. Kesibukan orang tua seringkali membuatnya tak sempat mengurus anak kemudian mencari alternatif pihak ketiga seperti asisten rumah tangga atau baby sitter. Orangtua berpikir hal tersebut tak akan bermasalah dan menjadi solusi paling ideal.

“Namun, jika selama satu hari penuh anak jauh dari jangkauan orang tua dan hanya berinteraksi dengan penjaganya saja, maka hal itu juga tak baik,” tutur Endah.

Endah menyatakan anak adalah tanggung jawab orang tua yang tak bisa diremehkan hanya dengan mengandalkan pihak ketiga.

“Sesekali boleh meminta bantuan penjaga jika kondisinya sangat genting dan tak memungkinkan.

Namun, untuk keseharian, anak harus tetap bersama orang tua agar tumbuh kembangnya dapat diawasi secara langsung,” katanya.

Kelima, tak menjelekkan pasangan. Hindari menjelek-jelekkan atau bertengkar dengan mantan pasangan di depan anak. Meski memiliki konflik dengannya, jangan pernah melibatkan anak di dalamnya.

Endah menambahkan orang tua semaksimal mungkin harus bisa menghindari kesalahpahaman selama menjalankan pola asuh co-parenting. Sebab, jika co-parenting ini tak berjalan dengan baik, anak bisa semakin terpuruk.

“Risikonya, akan timbul rasa benci, kesal, dendam, dan sakit hati yang mendalam pada diri anak. Bahkan, tak sedikit anak yang justru berubah perilaku menjadi buruk ketika menghadapi perceraian dan pola asuh yang tak baik,” pungkas Endah. **

error: Content is protected !!