Politik Nasi Goreng ala Mega

CANDA TAWA: Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto di kediaman, Jalan Teuku Umar, Jakarta, Rabu (24/7). Pertemuan ini berlangsung santai dan keduanya terlihat bercanda tawa. FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

Siap Antar Prabowo Temui Jokowi

JAKARTA– Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akhirnya bertemu dengan Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri di rumahnya Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin (24/7). Untuk pertemuan lanjutan, Megawati pun siap mengantarkan Prabowo bertemu dengan Presiden Terpilih Joko Widodo.

Prabowo tiba di rumah Megawati mengendarai mobil Toyota Alphard dengan nomor polisi B 108 PSD sekitar pukul 12.30. Dia dampingi Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, dan Wakil Ketua Umum, Edhy Prabowo. Kedatangannya disambut Megawati bersama keluarganya. Puan Maharani yang pertama menyalami Prabowo, diikuti Prananda. Selanjutnya Prabowo menyalami Megawati.

Selain Puan dan Prananda, Megawati juga didampingi Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, politikus PDIP yang juga Sekretaris Kabinet (Sekkab), Pramono Anung, dan Kepala BIN Budi Gunawan. Prabowo dijamu dengan berbagai masakan yang dimasak sendiri oleh Megawati. Bakwan menjadi menu pembuka pertemuan tersebut.

Prabowo mengatakan, sebenarnya dia sudah lama ingin bertemu dengan Megawati. Sebab, dia dari dulu sudah dekat dengan istri alm Taufiq Kiemas dan keluarganya. Menurutnya, dalam pertemuan itu, Megawati memenuhi janjinya memasak nasi goreng untuknya. “Luar biasa nasi gorengnya, saya sampai nambah,” tuturnya saat memberikan keterangan pers di teras rumah Megawati.

Mantan Danjen  Kopassus itu menyatakan, dia selalu merasa mendapat penghormatan dan perlakuan baik dari Megawati dan keluarganya sejak dulu. Memang dirinya kadang-kadang berbeda dalam sikap politik, namun itu bukan hal yang prinsip. Yang utama adalah keduanya sama-sama patriot, dan komitmen bahwa NKRI harga mati.

Kalau ada perbedaan di antara keduanya itu hal biasa. Sebab, pada akhirnya dia dan Megawati akan tetap menyambung tali persaudaraan dan hubungan baik, sehingga mampu mengatasi masalah-masalah kebangsaan. “Terima kasih nasi gorengnya ibu. Kami juga menunggu ibu jalan-jalan ke Hambalang,” tandas Capres Pemilu 2019 itu.

Megawati menyatakan, pertemuan itu seharusnya sudah berjalan beberapa waktu lalu, tapi karena sibuk dengan pemilu, sehingga baru saat ini bisa dilaksanakan. Menurutnya, Prabowo menagih terus untuk dimasakkan nasi goreng, karena nasi goreng yang dia buat enak sekali. “Setelah dibuktikan, beliau dan semua yang hadir bilang memang enak,” ucapnya. Mereka pun berharap sering-sering diundang untuk menikmati nasi goreng buatan Megawati.

Presiden Kelima itu mengatakan, ternyata ada sesuatu yang bisa meluluhkan hati laki-laki. Yaitu, politik nasi goreng. Masakan yang dibuatnya ternyata ampuh meluluhkan hati Prabowo.

Sebelumnya, kata Mega, dia menyampaikan kepada Prabowo bahwa berbeda pendapat itu biasa, tapi perbedaan itu tidak harus diteruskan. Ia pun mengajak Prabowo rukun dan menjalin persahabatan kembali. Hal itu dilakukan untuk kepentingan bangsa. Dia pun mempersilakan Prabowo datang ke rumahnya.

Jika nanti Prabowo ingin bertemu dengan Jokowi, Mega pun siap mengantarkannya. Namun, dia menyarankan agar Prabowo langsung bertemu dengan Jokowi. “Pak Jokowi pasti akan menerima beliau dengan baik,” katanya.
Terkait kemungkinan koalisi dalam pemerintahan, Megawati menegaskan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada Presiden Terpilih Jokowi. “Itu hak prerogratif presiden, bukan saya. Kalau menyampaikan, saya akan sampaikan,” terang dia.

Sementara itu, kehadiran Budi Gunawan dalam pertemuan politik itu memunculkan tanda tanya. Sebelumnya, saat pertemuan Jokowi dengan Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus pada 13 Juli lalu, BG panggilan akrab Budi Gunawan juga hadir. Dia pun menjadi sorotan media. Kali ini BG kembali menjadi perbincangan.

Ditanya soal kehadiran BG, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menjawab diplomatis. Menurutnya, sejak awal badan-badan negara mempunyai tanggungjawab pasca pemilu untuk membangun suasana kondusif. “Agar bisa membangun sebuah rasa ketentraman dan juga optimisme ke depan,” tuturnya.

Menanggapi pertemuan itu, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pertemuan itu biasa dalam momen pasca pemilihan umum. “Itu pertemuan antar pimpinan partai, itu dalam komunikasi politik,” ujarnya di Istana Kepresidenan Bogor, kemarin (24/7).

Soal peluang masuknya Gerindra ke koalisi, sosok yang juga menjabat Menteri Perindustrian itu menyebut masih membutuhkan komunikasi lebih lanjut. Apalagi jika ada deal untuk memberikan jabatan seperti kursi pimpinan MPR. Sebab, Airlangga menilai partai Koalisi Indonesia Kerja tetap menjadi prioritas.

“(Kursi MPR) prioritas kepada anggota koalisi dulu. Anggota koalisi tentunya semuanya terakomodasi dulu, plus DPD,” imbuhnya. Airlangga menambahkan, situasi politik masih sangat cair. Di mana komunikasi antar partai masih akan terus terjadi. Oleh karenanya, dia menolak anggapan Golkar ditinggalkan setelah PKB-PPP-Nasdem melakukan pertemuan bersama. Sebab komunikasi dengan partainya pun akan terjadwal.

Bahkan, Airlangga membuka peluang untuk berkomunikasi dengan Gerindra. “Nanti komunikasikan dulu dengan yang lain,” tuturnya. Partai-partai eks koalisi Adil Makmur juga menanggapi pertemuan Prabowo-Megawati.

Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan mengapresiasi pertemuan kedua tokoh tersebut. Menurutnya, perbedaan pilihan dalam pilpres tidak boleh memutus silaturahmi. “Pertemuan antartokoh bangsa itu positif. Pertemuan bisa menyelesaikan separuh persoalan,” katanya.

Semua pimpinan partai, ujar dia, berhak menemui pimpinan partai manapun meski berada dalam kubu yang berseberangan dalam Pilpres 2019. Tidak perlu bagi Prabowo untuk meminta izin ke partai-partai pendukungnya di pilpres saat bertemu Megawati. Mengenai kemungkinan Gerindra yang hendak masuk dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf, Zulhas tidak bisa memastikan. “Saya belum lihat ke arah itu. Tunggu saja perkembangannya,” kata ketua MPR itu.

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid juga menyambut positif pertemuan itu. Dia menilai momen itu bisa membawa nilai positif berupa kerukunan dan keguyuban di akar rumput. “Semakin banyak silaturahmi semakin baik untuk bangsa dan negara,” paparnya.

Terkait Gerindra yang kemungkinan berada dalam gerbong pemerintahan, Hidayat  menyerahkan sepenuhnya ke internal partai itu. PKS sendiri, papar dia, akan konsisten berada di luar pemerintahan. Sebab itu bagian dari keputusan majelis syuro yang harus dipatuhi. Pihaknya pun merasa tidak khawatir jika harus menjadi oposisi. “Kami yakin tidak sendiri (menjadi oposisi, Red) karena rakyat juga menjadi bagian dari oposisi,” tegasnya.

Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria menyampaikan pertemuan Prabowo dan Megawati sudah lama direncanakan. Namun rencana bertemu selalu gagal karena kesibukan keduanya. “Jadi sekarang (kemarin, Red) waktu yang tepat,” tutur Riza Patria.

PDIP dan Gerindra, menurutnya punya banyak kesamaan. Yaitu sama-sama menjadi partai nasionalis yang menjunjung tinggi NKRI dan Pancasila. Megawati dan Prabowo juga pernah  bersatu menjadi pasangan capres-cawapres pada Pemilu 2009.

Saat ini, sambung dia, Gerindra sedang mencermati sikap politik lima tahun ke depan. Apakah akan bergabung dalam gerbong pemerintah atau tetap berada di luar kabinet sebagai kekuatan oposisi. “Semuanya sedang ditimbang-timbang. Dipelajari dengan baik,” kata anggota DPR itu.

Pada saatnya nanti Prabowo akan menyampaikan ke internal Gerindra tentang isi pembicaraan dengan Megawati. “Pasti akan disampaikan oleh Pak Prabowo. Apapun itu kami akan tegak lurus dengan keputusan itu,” imbuh Riza Patria. (lum/far/mar)

Read Previous

Jemaah Mulai Alami Dehidrasi

Read Next

Permohonan Amnesti Disetujui DPR, Tangis Haru Nuril Pecah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *