Pasca Tewasnya Lima Pekerja Peti
Polres Ringkus Pemilik PETI

AKP Antonius Trias Kuncorojati

BENGKAYANG – Polres Bengkayang melalui Sat Reskrim mengamankan seorang pria inisial YN. Ia diduga sebagai Pemilik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang berlokasi Desa Goa Boma, Kecamatan Monterado. Lokasi tersebut diketahui merupakan perbatasan antara Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang.

Diketahui YN adalah salah satu pemilik dan pekerja PETI, yang menelan 5 korban meninggal, yaitu Minti (37) yang merupakan warga Jngkang, Sanggau Kapuas. Ono (36) warga Jangkang, Sanggau Kapuas. Apin (36) warga Pontianak. Angga (37) warga Pasi Pangmilang, Singkawang Selatan. Serta Sely (50) alamat Pasi Pangmilang, Singkawang Selatan.

“Penangkapan dilakukan pada hari Minggu (4/4) lalu. Pihak Polres Bengkayang menghubungi pelaku, dan pelaku menyerahkan diri ke Polres Bengkayang,”ucap Kasatreskrim Polres Bengkayang, AKP Antonius Trias Kuncorojati, saat dikonfirmasi, Selasa (13/4).

Antonius menjelaskan, lokasi masih menjadi sengketa antara Singkawang dengan Kabupaten Bengkayang, karena masing-masing Kepala Desa mengeluarkan SKT. Sementara dari informasi yang didapat, pemerintah setempat sudah mengeluarkan tapal batas, namun masih jadi polemik.

Sementara di TKP, sambungnya, Polres Singkawang yang pertama kali datang dan memberitahu, bahwa lokasi tersebut termasuk Wilayah Kabupaten Bengkayang, berdasarkan pantauan dari aplikasi google maps.  “Tanpa menghiraukan polemik, dan agar ada upaya hukum, Polres Bengkayang mengambil langkah, menangani guna menindaklanjuti perkara tersebut,” ucap Kasat Reskrim.

Ia menambahkan, pihaknya sudah mengamankan beberapa barang bukti berupa mesin dompeng dan alat pengerjaan PETI lainnya. “Saat kita mau mencari bukti lain, kita mendatangi TKP, tapi para pekerja melarikan diri semua, tidak mau dimintai keterangan sebagai saksi,” bebernya. “Perlu waktu dua hari untuk menyelidiki, baru ditemukan pelakunya, sekarang kita sudah tahan pelaku di Polres Bengkayang.”

Ia mengimbau masyarakat, agar mengambil pelajaran dari kasus ini. Kalau sudah ada kecelakaan terkait PETI, UUD ketenagakerjaan tidak berlaku, jaminan dan haknya tidak ada.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, para pelaku diancam dengan pasal 158 undang-undang nomor 3 tahun 2020 tentang perubahan atas undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara.

“Di mana setiap orang yang diduga melakukan tindak pidana penambangan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 35, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak 100 miliar rupiah,” tutupnya. (Sig)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!