Prestige Syndrome di Dunia Film

zetizen

THESE days, kita semakin dekat dengan perkembangan film dalam maupun luar negeri. Bukan rahasia dapur lagi kalau memproduksi dan menjual sebuah film adalah proses yang rumit. So, timbul persaingan antar movie maker makin nggak terkendali. That’s mean mereka berlomba-lomba agar film yang mereka kerjakan menjadi number one, isn’t it? Sisi baiknya sih para sineas semakin terpacu menghasilkan karya. But, the bad thing is persaingan itu bisa melahirkan yang namanya Prestige Syndrome.

“Prestige Syndrome adalah keadaan dimana timbulnya keinginan untuk memeroleh rasa hormat dan kekaguman dari seseorang atau sesuatu berdasarkan persepsi atas karya atau kualitas mereka,” ujar Tezar Haldy. Dijelaskan Tezar bahwa hal tersebut terjadi karena keadaan movie maker yang ingin mendapatkan kepercayaan yang jelas atas hasil karya mereka untuk menopang proses berkarya.

Berangkat dari viralnya sutradara film yang bernama Livia Notohardjo atau akrab dikenal publik dengan nama Livi Zheng yang muncul di tanah air. Livi kembali ke Indonesia dari New York dengan menyematkan embel-embel Hollywood, bahkan eksistensi namanya terus melonjak setelah mengklaim karyanya masuk dalam nominee Piala Oscar, ajang bergengsi industri film dunia. Ia berhasil membuat beberapa sineas di Indonesia mempertanyakan kebenaran dan bukti atas yang telah dia katakan.

“Setahu saya untuk bersaing di ajang sekelas dunia itu harus seleksi ketat. Pertama sifatnya administrasi harus tayang di Los Angeles selama satu minggu, lalu voting melalui surat suara kepada kurang lebih 6000 orang yang telah memiliki kompetensi. Lalu hal-hal lain juga seperti format, durasi sama teknis audio visual. Untuk kisi-kisi jelasnya juga kurang tahu karena kadang pemenang penghargaan piala Oscar itu out of the mind,” jelas sutradara Pontianak yang sekarang sedang menggarap sketsa komedi satu menit di Instagram berjudul Rumah Mimpi.

Kualitas film menjadi hal yang sangat krusial untuk menetapkan standar pasar publik. To be honest, festival film adalah wadah bagi para sineas seluruh dunia untuk unjuk gigi menunjukkan karya-karyanya. Wajar bila gengsi untuk mendapatkan penghargaan tersebut diperebutkan karena pengaruhnya.

“Prestasi seorang sineas itu secara umum mudah diukur dengan dua cara yaitu umlah penonton dan jumlah penghargaan. Ada sineas yang mungkin penghargaannya banyak tetapi di beberapa negara filmnya sepi penonton. Tetapi bisa bikin sineas itu bergengsi,” tambah Tezar.

Tanpa disadari reward yang diperoleh secara nggak langsung membuat media akan mengangkat namanya setingi-tinginya. Hal ini juga memengaruhi para produksi karya selanjutnya.

“Cukup terasa pengaruh dari reward tersebut karena efek ke sineas adalah kepercayaan untuk mendapatkan funding yang jelas serta kalau sering dapat penghargaan akan semakin mudah dapat investor. Honornya juga makin besar,” tutup Tezar.

Ternyata reward benar-benar hal yang important thing, ya. Tetapi apalah arti sebuah penghargaan tanpa pencinta dan penikmat film. Kamu sebagai pencinta film tentunya akan memiliki penilaian masing-masing terhadap suatu film. Jadi kamu lebih suka nonton film yang movie maker-nya udah meraih banyak penghargaan atau yang belum banyak penghargaan tapi cocok sama selera kamu? (elv)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!