Problematika Literasi Menulis

Aswandi

Oleh: Aswandi

PRAMOEDYA Ananta Toer menyatakan bahwa, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.

Helpi Tiana Rosa, “Kalau usiamu tidak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang adamu di dunia dan amalmu di akhirat kelak”.

Pada saat sarana dan prasarana bidang tulis menulis masih sangat terbatas, para ilmuwan Islam pada waktu itu telah menghasilkan karya tulis bermutu di berbagai bidang ilmu pengetahuan menjadi bukti bahwa Islam mengalami kemajuan peradaban mendahului zamannya. Kitab-kitab klasik tersebut menjadi referensi dalam memahami hidup dan kehidupan ini hingga sekarang ini. Pertanyaannya, kenapa di era kemajuan teknologi alat tulis yang sangat pesat seperti sekarang ini, ketika orang bisa menulis cukup menggunakan sentuhan jarinya, justru karya tulis berkualitas sulit kita temukan. Fakta lain, indeks literasi menulis masyarakat Indonesia saat ini sangat rendah, lebih rendah dari indeks literasi membaca.

Cukup lama penulis memikirkan masalah rendahnya indeks literasi menulis tersebut, akhirnya sampai pada suatu kesimpulan, antara lain: (1) menulis belum menjadi budaya masyarakat (literasi menulis lemah), masyarakat kita lebih senang bertutur, ngerumpi dan sejenisnya. Khalifah Ali bin Abi Thalib ra sejak lama mengingatkan “Ikatlah pikiranmu dengan kamu menuliskannya”; (2) motivasi menulis menghasilkan karya tulis dan karya bermutu lainnya. Dikutip pesan Aristoteles seorang filsuf, ia menasehati kita, “Tulislah pesan kebenaran yang diperlukan untuk kebaikan dengan penuh rasa tanggung jawab”. Pakar manajemen sependapat, “Tulislah apa yang akan dikerjakan dan kerjakan apa yang telah dituliskan”.

Rowling seorang penulis ternama di dunia ini, ketika ditanya apa alasan ia menulis? Jawabannya sangat singkat, yakni menulis sebagai rekreasi, dan hampir semua karya tulis yang dihasilkannya ditulisnya di sela-sela waktu saat ia berlibur dan menjadi notulen rapat. Seorang penulis yang tidak pernah berpikir karya tulisnya untuk dibaca orang, justru menghasilkan karya tulis best seller internasional. Anehnya, pada saat ini karya tulis yang dibaca oleh banyak orang adalah karya tulis para jurnalistik, sementara karya tulis para akademisi (yang gelarnya melangit) hanya dibaca untuk kalangan terbatas, lebih banyak yang tersimpan rapi menjadi “Monumen Mati” di perpustakaan; (3) rendahnya indeks literasi menulis dampak dari kurangnya perhargaan terhadap penulis dan karya tulisnya.

Secara teknis penulis jelaskan secara singkat literasi menulis, terutama mengenai judul tulisan, berpikir sistematis dan sistemik sebuah tulisan dan kesalahan berulang dalam menulis. Sebuah tulisan pada umumnya memiliki judul, dan judul sebuah tulisan sangat mempengaruhi sikap pembaca (dibaca atau lewat). Judul dari sebuah karya ilmiah populer yang baik memiliki tiga karaterstik berikut ini: (1) singkat, (2) padat, dan (3) provokatif.

Sepengetahuan penulis belum ada aturan yang tegas tentang ukuran panjang pendeknya sebuah judul opini. Namun secara umum judul sebuah karya tulis ilmiah populer terdiri maksimal tiga kata. Jika dapat ditulis lebih singkat, yakni terdiri dua atau satu kata, maka judul tersebut lebih baik.

Padat, maknanya adalah sebuah judul harus menggambarkan secara umum isi (pesan) dari sebuah tulisan. Diharapkan ketika membaca judul sebuah tulisan, para pembaca sudah mendapat gambaran umum mengenai pesan yang ada pada tulisan tersebut.

Provokatif, sebuah judul yang singkat dan padat tersebut harus mampu memprovokasi pembaca. Sebuah tulisan di mana judulnya tidak bernilai provokatif, maka kadang-kadang artikel tersebut tidak dibaca, demikian sebaliknya. Bagi penulis, mencari kata yang memiliki nilai provokatif untuk sebuah tulisan adalah pekerjaan yang sulit. Dari pengalaman menulis ribuan artikel/opini, diketahui para pembaca sangat tertarik untuk membaca artikel yang judulnya bersifat provokatif.

Selain judul, karya tulis berkualitas sangat dipengaruhi oleh berpikir sistematik dan sistemik sebuah tulisan. Menulis sesungguhnya adalah aktivitas berpikir sistematik dan sistemik yang dituliskan sebagaimana digambarkan Michael Fullan bahwa, “Berpikir sistem (systems thinking) adalah “Seeing the whole beyond the parts, and the seeing the parts is the contex of the whole”.

Seorang penulis harus menentukan pokok-pokok pikiran apa saja dari tulisannya yang merupakan satu kesatuan yang utuh (sistem), kemudian pokok-pokok pikiran tersebut dikembangkan ke dalam beberapa alinea sebagai sporting ideas.

Pengalaman membimbing karya tulis, penulis memperoleh kesan bahwa sebagian besar penulis pemula sangat lemah menata pokok pikiran, menghubungkan (coherence) satu pokok pikiran ke pokok pikiran lainnya secara berurutan dalam tulisannya, sehingga terlihat karya tulisnya kurang sistematis dan sistemik.

Secara umum, unsur atau sub system dari sebuah karya tulis ilmiah populer (opini) terdiri lima unsur berikut ini: what, why, how, conclusion and recomendation.

WHAT, yakni menuliskan proses lahirnya suatu masalah dan/atau keunikan melalui tahapan berikut: (1) menuliskan pengertian konsep yang menjadi ending tulisan, dilakukan melalui sintesis teori; (2)  jika diperlukan pemahaman yang lebih jelas mengenai konsep, maka perlu menuliskan indikator atau karakteristik dari konsep tersebut. Selain berfungsi untuk memperjelas konsep, indikator atau krakteristik tersebut juga berfungsi memudahkan identifikasi masalah. (3) pentingnya konsep tersebut untuk ditulis; (4) fakta/data yang mendasari lahirnya asumsi teoretik mengenai ada masalah dan/atau keunikan dari sebuah tulisan, baik bersifat positif maupun negatif yang dirumuskan secara naratif. Disinilah jawaban dari kata “WHAT” yang sesungguhnya.

WHY, yakni mengidentifikasi masalah/keunikan. Jawaban “Why” diarahkan pada prediktor yang menjadi fokus suatu tulisan berdasarkan teori, riset dan pengalaman penulis. Diyakini, banyak faktor penyebabnya. Namun dari jawaban yang banyak itu, penulis harus memilih untuk lebih fokus pada satu jawaban saja sesuai prediktor tulisan.

HOW, yakni menjawab pertanyaan bagaimana prediktor tersebut diterapkan. Jawaban “How” dirumuskan secara teoretis bersifat naratif ke dalam sebuah kerangka pemikiran.

Jawaban HOW tersebut menjadi dasar untuk menuliskan simpulan (conclusion) dan saran (recomendation).

CONCLUTION atau simpulan berisi hal-hal penting apa makna pada what, why, dan how.

RECOMENDATION atau saran, dapat dilaksanakan, mengakui dan menyadari keterbatasan tulisan ini. Oleh karena itu, pada rekomendasi dimintakan kepada pembaca dan penulis lainnya untuk mengkaji dan menyempurnakannya.

Beberapa kesalahan yang berulang kali dilakukan oleh para penulis, antara lain: (1) judul tulisan terlalu panjang sehingga sulit memahami konsep utama dari tulisan tersebut; (2) karya tulis tidak berangkat dari permasalahan atau keunikan yang jelas; (3) menggunakan kaidah bahasa tutur, bukan kaidah bahasa tulis; (4) antar paragraf atau alinea tidak coherence atau runut, melainkan sering terjadi lompatan (flow) ide dan tak nyambung; (5) menggunakan kata yang sama secara berulang-ulang; (6) tidak didukung referensi yang cukup, baik jumlah maupun kualitasnya dan (7) tidak menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan secara efektif.**

*Penulis, Ketua Forum Membaca dan Menulis Kalimantan Barat.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!