Produk Batik Shibori Rutan Perempuan Kelas II-A Surabaya yang Kian Diminati

LARIS MANIS: Warga binaan Rutan Perempuan Kelas II-A Surabaya memamerkan batik teknik shibori yang mereka hasilkan. (Maya Apriliani/Jawa Pos)

Digunakan untuk Seragam di Kemenkhum HAM dan Dipesan untuk Suvenir

Kreativitas warga binaan Rutan Perempuan Kelas II-A Surabaya menghasilkan karya yang dapat dijual. Mereka mampu membuat batik dengan teknik shibori. Selain memberi penghasilan, mereka juga merasa seperti tak berada di dalam bui.

MAYA APRILIANI, Surabaya

TANGAN Wati Sri Ayu terlihat terampil mengikat sebagian kain putih yang digenggamnya. Tak sekadar mengikat dengan karet gelang. Sebelum diikat, di bawah kain itu diletakkan tutup botol air mineral. Di sisi lain, kain yang diikat sangat kencang tersebut diisi lidi. Ada juga yang bagian dalamnya kayu pipih yang biasa digunakan untuk gagang es krim.

Menurut tahanan kasus narkotika itu, botol dan lidi serta kayu merupakan kunci dalam pembuatan batik dengan teknik shibori. Bagian kain yang ”dikunci” dengan ikatan kuat itu bisa dimodifikasi. Diberi warna sesuka hati. Jika dilepas, ikatan karet menghasilkan motif pendar dengan keindahan yang terpancar.

Meski terlihat gampang, dalam praktiknya, tidak semua warga binaan menguasai. Ayu, sapaan Wati, merupakan salah seorang yang ahli. Dalam kegiatan pelatihan di dalam bui, dia sering membimbing rekan sesama tahanan dan napi.

Bahkan, dalam pembuatan kain batik dengan teknik pewarnaan dari Jepang itu, Ayu tak pernah ketinggalan. Tahanan yang divonis pidana penjara seumur hidup dalam kasus penyelundupan 18 kilogram sabu-sabu (SS) tersebut hingga kemarin (5/11) masih sibuk membuat kain shibori. Dia merupakan salah seorang warga binaan yang dipercaya membuat kain yang mengandalkan teknik ikat celup itu.

Kain shibori karya warga binaan rutan di wilayah Porong, Sidoarjo, itu dibuat dengan penuh ketekunan. Bukan asal-asalan. Bahkan, bahan dasar kain putih dipilih yang baik. Kualitas premium. Agar nyaman saat digunakan.

Karena itulah, Ayu dan warga binaan lain juga sepenuh hati dalam membuat karyanya. ”Sudah setahun lebih (membuat kain dengan teknik shibori),” katanya. Awalnya, perempuan 25 tahun itu tidak paham soal shibori.

Di luar bui, dia tidak pernah bekerja yang berhubungan dengan kain. Baru saat di penjara, dia mengenal beragam kegiatan. Ayu tertarik pada pembinaan di bidang batik. Membuat motif sesuka hati dengan cara shibori.

”Awalnya bingung, kaku saat mengikat dan mewarnai,” ucapnya, terus terang. Tapi, lama-lama, Ayu menguasai teknik tersebut. Dia justru merasa asyik saat berkutat dalam pembuatan kain shibori. Hobi baru yang dia tekuni itu mampu membuat Ayu lupa sedang berada di bui.

Apalagi, vonis yang diberikan majelis hakim untuknya cukup tinggi. Pidana seumur hidup. Membunuh waktu dengan kegiatan bermanfaat merupakan salah satu kiat jitu untuk membangkitkan semangat dam mewujudkan impian yang dituju.

Ayu berharap bisa mengembangkan kemampuan di bidang pembuatan kain shibori. Tidak hanya untuk diri sendiri. Tapi, juga membagikan ilmu yang dimiliki kepada sesama warga binaan.

Sikap sabar dan telaten yang dimiliki Ayu cocok menjadikannya sebagai ”guru”. Selama pelatihan pembuatan shibori, dia terus ditanya sesama tahanan dan napi. Mulai cara mengikat kain, mencelupkan ke warna, hingga mengombinasikan warna agar bisa memikat mata.

Dengan sigap, dia menjawab semua pertanyaan. Tak sekadar omongan, Ayu juga mempraktikkan. Dengan demikian, tahanan dan napi mengerti.

Misalnya, cara mewarnai. Setelah kain selesai diikat dan siap diwarnai, Ayu bertanya warna apa yang diinginkan rekan-rekannya. Ayu menunjukkan warna sesuai pilihan mereka. Kain dicelupkan, kemudian dimasukkan ke air tawas. Diangkat, dikeringkan dengan cara dianginkan. Dicelup lagi ke warna hingga proses pembuatan tuntas. ”Harus sabar dan tidak gampang bosan,” pesan tahanan yang sudah 20 bulan dibui itu kepada rekan sesama tahanan dan napi.

Narapidana lainnya, Umi Nurlaela, pun mencermati setiap arahan Ayu. Narapidana yang divonis pidana penjara selama 4 tahun 10 bulan itu mengaku senang bisa belajar membuat kain bermotif dengan teknik shibori. Perempuan 37 tahun itu ingin mengasah terus kemampuannya untuk membuat ”batik” dari Negeri Sakura tersebut. Bahkan, ibu enam anak itu berencana untuk membuat kegiatan serupa saat keluar penjara. ”Bisa dibuat usaha,” kata perempuan yang sudah berada di rutan selama 20 bulan tersebut.

Hal senada diungkapkan Erlinta Lara Santi. Tahanan yang juga divonis seumur hidup itu ingin memperdalam pembuatan kain shibori. Perempuan 33 tahun tersebut tidak ingin terus memikirkan nasibnya yang sampai di terali besi. ”Ikut kegiatan ini bermanfaat dan bisa senang,” ucap ibu empat anak itu.

Rasa sepi tahanan kasus narkoba tersebut karena tak bisa bersua keluarga selama pandemi sedikit terobati. Dia juga tidak perlu bingung harus berkegiatan apa di dalam rutan. Erlinta sudah menemukan kesenangan berkutat dengan shibori. Terutama saat membuat pewarna alam.

Memang tidak semua kain bermotif yang dibuat dengan teknik shibori di rutan menggunakan pewarna buatan. Mereka juga menghasilkan shibori dengan pewarna alami. Kain diwarnai dengan berbagai bahan yang ada di lingkungan. Mulai kunyit, daun mangga, daun jati, hingga pewarna dari kayu secang. Terbaru, mereka menggunakan warna dari kulit buah naga. ”Kulit diblender, kemudian diperas, diambil sarinya untuk pewarna,” kata Kepala Rutan Perempuan Kelas II-A Surabaya Amiek Dyah Ambarwati.

Buah tersebut menghasilkan warna yang indah. Begitu juga warna yang dihasilkan bahan lain. Kunyit bisa menimbulkan warna kuning setelah diblender dan diperas. Saat kunyit direbus, warnanya berubah menjadi kuning kecokelatan dan ada yang mengilap. Pewarna alami itu disimpan di botol. Tiap botol ditulisi nama warna.

Menurut Amiek, permintaan kain shibori buatan warga binaan terus meningkat. Untuk sementara, kain tersebut belum dipasarkan secara luas kepada masyarakat. Hanya di lingkungan Kemenkum HAM. Digunakan untuk seragam dan juga dipesan untuk suvenir saat ada kegiatan.

”Kami sering kewalahan melayani pesanan,” ucap Amiek. Sebab, belum semua warga binaan menguasai teknik pembuatan kain dengan teknik shibori. Saat pelatihan pun, peserta yang diperkenankan ikut terbatas. Hanya 25 orang dari seratus lebih penghuni.

Mereka yang dapat mengikuti pelatihan diutamakan yang akan bebas dari bui. Dengan harapan, saat keluar dari penjara, mereka bisa membuka usaha mandiri. Keterampilannya juga dapat dipakai sebagai modal mencari kerja.

Satu kain shibori buatan tahanan dan napi dibanderol dengan harga terjangkau. Untuk yang menggunakan pewarna buatan, harga satu kain dengan ukuran 2 meter x 1,5 meter Rp 150 ribu. Kain yang memakai pewarna alami, harganya lebih mahal. Bisa mencapai Rp 300 ribu.

Saat ini warga binaan membuat kain pesanan untuk seragam. Tiap hari mereka berproduksi. ”Kami juga menyiapkan untuk membuat mukena, baju, dan lainnya,” lanjut Amiek. Warga binaan yang sudah bisa membuat shibori sendiri mengaplikasikann`ya untuk bahan masker. Selain berguna di masa pandemi, juga bermanfaat untuk mengisi waktu di bui.(*)

 

error: Content is protected !!