Produk Jahe Seduh Asal Singkawang Makin Populer

JAHE : Owner Jahe Sinkari Bella Aditya menunjukkan jahe hasil panen di kebunnya di daerah Karimunting, Kabupaten Bengkayang. Kualitas jahe lokal Kalbar tak kalah dengan jahe luar namun belum terserap maksimal di pasaran. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Serapan Lokal Masih Rendah, Dorong Pemerintah Perluas Pasar

Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) berpotensi menjadi sentra komoditas jahe. Produksi petani lokal tak kalah baik secara kualitas maupun kuantitas di banding jahe dari Pulau Jawa. Pemerintah dinilai perlu membuka pasar produk jahe mentah lebih luas lagi.

IDIL AQSA AKBARY, Singkawang

Produk jahe olahan yang diproduksi di Singkawang, Jahe Sinkari, kini makin dikenal di luar Singkawang. Racikan minuman siap seduh tersebut, pertama kali dikenalkan oleh seorang dokter di Singkawang pada bulan April lalu.  Meski baru beberapa bulan hadir, Jahe Sinkari mulai populer, terutama di masa pandemi seperti ini. Sebagian orang percaya bahwa jahe terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Jahe yang menjadi bahan dasarnya merupakan jahe yang ditanam di kawasan Karimunting, Kabupaten Bengkayang. Di atas lahan seluas 15 hektare, jahe-jahe tersebut tumbuh subur. Di masa panen, jahe-jahe dengan kualitas terbaik diambil untuk kemudian diolah menjadi jahe seduh yang kita kenal sekarang. “Jahe kami tanam di kebun seluas sekitar 15 hektare yang dibagi dalam 30 bagian. Jahe tersebut dipanen dan diseleksi dengan melibatkan warga sekitar kebun,” kata Bella Aditya, owner Jahe Sinkari, Selasa (30/6).

Ia menceritakan awal mula menanam jahe di kebun miliknya di Karimunting pada akhir 2018 lalu. Bibit yang digunakan murni jahe lokal dari pamannya yang sudah lebih dulu memiliki usaha kebun jahe di daerah Rasau Jaya, Kubu Raya. “Dari situ saya belajar,” ucapnya.  Dalam satu bulan jahe mentah yang diproduksi di kebunnya itu mencapai sekitar 15 ton. Hasil produksi jahe mentah yang cukup tinggi inilah menjadi salah satu alasan mengapa ia akhirnya memutuskan membuat produk turunan berupa jahe seduh.

Namun demikian, persoalan mengenai bahan baku jahe mentah yang belum terserap maksimal masih menghantui. Untuk produksi jahe seduh di tempatnya, satu bulan hanya membutuhkan bahan baku sebanyak 1,5-2 ton jahe saja. Artinya masih cukup banyak produksi dari kebun yang perlu diserap oleh pasar. “Selama ini kami jual (jahe mentah) di pasaran lokal saja, Singkawang dan sekitar,” katanya.  Kalbar menurutnya berpotensi menjadi sentra penghasil komoditas jahe. Kualitas jahe lokal dipastikan tak kalah dari Pulau Jawa. Selain dirinya, cukup banyak petani jahe lain yang tersebar di beberapa daerah di Kalbar.

Namun sampai saat ini belum ada pabrik atau tempat pengolahan yang memerlukan bahan baku jahe tersebut dengan jumlah besar. “Padahal jahe kita (Kalbar) cukup banyak dan dari segi kualitas tidak kalah dengan jahe dari Pulau Jawa,” ujarnya.  Karena itu ia berharap kepada pihak terkait atau pemerintah bisa mendukung para petani jahe yang ada. Minimal bisa membuka pasar ke luar daerah agar Kalbar bisa menjadi sentra pengekspor jahe. Saat ini, terlebih ketika pandemi Covid-19, stok jahe menumpuk cukup banyak sehingga membuat harga turun. “Kalau biasa Rp16 ribu sampai Rp17 ribu per kilogram sekarang hanya Rp14 ribu sampai Rp15 ribu,” terangnya.

Sebelum memproduksi jahe seduh untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas ini, ia hanya menjual hasil kebunnya di pasaran lokal. Sampai sekitar empat bulan lalu ia membuat produk olahan dari bahan baku jahe ini menjadi jahe seduh yang diberi nama Jahe Sinkari.

Meski demikian, jahe dari kebun tetap tidak mampu terserap maksimal. Harapannya pasar-pasar peminat bahan baku jahe bisa terbuka luas dan untuk itu diperlukan peran pemerintah. “Jadi kalau bisa ada peran pemerintah membuat, Kalbar ini termasuk besar penghasil jahe. Bisa didata semua, pemerintah misalnya bisa kontrak dengan pabrik jamu dan bahan baku jahenya disuplai dari Kalbar,” paparnya.

Pemerintah bisa menjadi penghubung antara petani jahe lokal dengan pabrik atau daerah tujuan ekspor. Tak hanya untuk luar Kalbar, jahe lokal juga berpotensi di ekspor ke luar negeri. “Kalbar sebenarnya cocok untuk (budidaya) jahe ini,” imbuhnya.

Serap Tenaga Kerja

Dalam usahanya, Bella juga selalu berkomitmen untuk melibatkan masyarakat setempat. Untuk kebun jahe saja, sampai saat ini ada 15 warga yang bekerja di sana. Sementara untuk produksi jahe seduh, meski masih berskala industri rumahan, karyawan yang dilibatkan sudah mencapai delapan orang.

Mereka yang dilibatkan juga warga asli di sekitar tempat produksi. Dengan jumlah pekerja delapan orang, mereka mampu memproduksi sekitar 250 bungkus jahe seduh per hari. “Kerjanya Senin sampai Sabtu. Jadi seminggu bisa produksi kurang lebih 1.500 bungkus,” terangnya.

Bahkan mulai bulan depan ia akan menambah tiga karyawan untuk meningkatkan produksi menjadi 300-an bungkus per hari. “Mungkin saya akan tambah tiga atau empat orang karyawan lagi. Tempat tetap di sini, kebetulan space masih ada, jadi kami memaksimalkan,” pungkasnya.**

 

loading...