Profesor Italia Klaim Virus Korona Bisa Hilang Tanpa Vaksin

Sejak muncul di Wuhan, Tiongkok, pada Desember 2019, virus Korona sudah mematikan dengan menyebabkan gangguan pernapasan pada pasien. Namun seorang profesor meyakini, virus korona, yang semula dianggap ganas dan agresif bisa semakin melemah karena genomnya bermutasi.

Peneliti dari Italia mengklaim, virus Korona akan lebih ringan dan bisa hilang sama sekali tanpa vaksin. Profesor Matteo Bassetti, seorang dokter top Italia, telah mengamati bahwa virus itu bakal menjadi lebih lemah.

Dia bahkan percaya bahwa virus itu bisa menghilang tanpa ilmuwan mengembangkan vaksin. Karena Coronavirus terus melemah maka akhirnya mati dengan sendirinya.

“Virus ini semula seperti harimau yang agresif pada bulan Maret dan April tetapi sekarang seperti kucing liar. Bahkan mereka yang berusia sekitar 75 tahun memiliki peluang lebih baik untuk mengalahkan virus dan bernapas tanpa ventilator,” katanya seperti dilansir dari Science Times, Senin (22/6).

Pada Maret, jumlah kematian harian di Italia melampaui angka puncak melebihi Wuhan. Konsentrasi menyerang pada populasi yang lebih tua, yang memang lebih rentan terhadap virus.

Sebagai ahli dalam mikrobiologi klinis dan penyakit menular, Dr. Bassetti mengatakan, ada kemungkinan kalau mutasi genetik dari virus korona tidak terlalu mematikan. Ditambah dengan perawatan di rumah sakit yang semakin baik, menjaga jarak fisik, dan sanitasi yang lebih baik di tempat-tempat umum.

Menurut Dr. Basseti, kini tingkat keparahan virus telah berubah karena pasien pada Maret dan April benar-benar berjuang dengan gejala Covid-19, seperti mengembangkan pneumonia dan membutuhkan oksigen serta ventilator. Dalam sebulan terakhir, ia mengatakan bahwa kondisi berubah.

“Mungkin ada viral load yang lebih rendah di saluran pernapasan, mungkin karena mutasi genetik pada virus yang belum ditunjukkan secara ilmiah,” ungkapnya.

Sebelum Basseti, seorang dokter asal Italia juga mengungkapkan kalau virus korona memiliki potensi yang melemah dan tak lagi mematikan. Pernyataan itu diungkapkan Kepala Rumah Sakit San Raffaele di Milan, Dokter Senior Alberto Zangrillo pada Minggu (1/6).

Tapi, klaim profesor Basseti telah dikritik oleh para ahli medis lainnya, karena tanpa bukti ilmiah kalau virus korona melemah. Terlebih masih ada kasus harian di mana-mana. Lebih sedikit penularan karena jarak fisik dan penguncian bukan berarti penularan berkurang.

Namun, sehubungan dengan mutasi genetik SARS-CoV-2, virolog Angela Rasmussen mengakui virus korona sepertinya memang akan bertahan lama. “Kami telah melihat dalam epidemi virus lain, seperti epidemi Ebola, bahwa ada mutasi yang tampaknya bertahan dan menjadi bentuk dominan dari virus,” kata Dr. Rasmussen

Peneliti dari University of Glasgow Oscar MacLean menjelaskan selain kurangnya bukti ilmiah, klaim Bassetti tampaknya cukup tidak masuk akal dari sisi alasan genetik. Sebagian besar mutasi virus Korona jarang terjadi dan kemungkinan besar tidak mengubah sifat virus.

“Tanpa bukti yang jauh lebih kuat, tidak seorang pun seharusnya meremehkan bahaya yang ditimbulkan oleh virus yang sangat ganas ini,” jelas Oscar.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah/Jawa Pos

Reporter : Marieska Harya Virdhani