Project Kebaikan, Barter Karya untuk Donasi

Banyak cara  berdonasi. Bisa dengan uang, barang, maupun makanan. Dan, bisa juga dengan karya. Seperti Projek Kebaikan yang diinisiasi oleh Maya Safitri, donasi berasal dari barteran karya gambar verctor art. 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri 

Project Kebaikan bermula ketika Maya selesai sidang skripsi. Dia mengajak teman-temannya yang sedang menyelesaikan skripsi untuk melakukan selebrasi perayaan. Tentunya dengan hal bermanfaat dan berkesan.
“Ini sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan kami menyelesaikan studi,” kata Maya.

Terbersit ide berkampanye di ‘Kitabisa.com’ untuk membantu anak yang kurang beruntung agar tetap bersekolah. Maya kesana kemari menyampaikan ide kepada teman-temannya. Tetapi, dia tak menemukan teman yang sepaham untuk merealisasikannya.
Maya jadi pesimis dan mencoba realistis dengan beranggapan bahwa itu ide gila yang berisiko. Tak mudah untuk direalisasikan.
Akhirnya ide terkubur rapat. Maya pun sibuk mempersiapkan administrasi wisuda.

Sampai akhirnya Maya bertemu temannya, Maulini yang mempercayai idenya. Maulini memberikan semangat dan bersedia membantu merealisasikannya.

Maya Safi tri Founder Project Kebaikan

Maya pun membuat akun di Kitabisa.com. Dia mencatat langkah yang harus dilakukan. Dimulai membuat satu unggahan dan meminta rekomendasi teman-teman daring berkenaan syarat dan kriteria anak yang layak dibantu, seperti yang didiskusikan bersama Maulini.
Akhirnya pilihan jatuh pada Rahmad, yatim piatu yang tinggal bersama neneknya. Sehari-hari Rahmad membantu sang nenek berjualan rengginang.
Saat Maya dan Maulini bertemu Rahmad pertama kalinya, Rahmad duduk di bangku SMA kelas XII. Melihat kegigihan Rahmad mengenyam pendidikan, Maya pun memutuskan untuk membantu meringankan beban Rahmad dan sang nenek.
“Alhamdulillah dana campaign yang digalang tersebut dapat mengantarkan Rahmad lulus SMA,” kata Maya.
Setelah lulus SMA, Rahmad mencoba mendaftar ke salah satu perguruan tinggi negeri (PTN). Namun, ia belum berhasil lolos.
Mengisi waktunya, Rahmad kembali bekerja membantu sang nenek menjual rengginang. Di tahun 2020 ini, Rahmad berhasil diterima di Universitas Udayana, Bali.
Melihat semangat dalam diri Rahmad untuk menjadi seorang sarjana, Maya kembali ingin membantu dengan penggalangan donasi yang berbeda, yaitu lewat project kebaikan (@kebaikanproject) ini.
Maya coba membuat penggalangan donasi yang menarik. Saat itu yang ada di benaknya adalah hal apa yang membuat orang senang dan familiar disemua kalangan, baik anak-anak, remaja dan tua.
Maya pun menemukan bisnis membuat gambar vektor atau vector art yang sedang naik daun. Banyak orang memesan gambar vektor untuk dijadikan hadiah untuk teman maupun keluarga saat wisuda, ulang tahun atau moment lainnya.
“Jadi saya kepikiran untuk menukarkan hasil gambar ini dengan donasi. Ada daya tarik tersendiri selain mendapat feedback gambar, pemesan juga sambil berdonasi,” cerita Maya.
Maya mengajak beberapa teman yang mempunyai kemampuan menggambar untuk sama-sama belajar berbagi lewat kemampuan yang dimiliki. Menurut Maya, kemampuan yang dimiliki tak hanya sekadar menghasilkan uang, tapi juga bisa digunakan untuk membantu orang banyak.
“Ide ini sudah dipikirkan dari akhir bulan Desember lalu. Tapi, baru terealisasi pada 15 Januari 2021,” tutur Maya.

Saat ini ada enam orang yang tergabung di Project Kebaikan.  Maya di bagian administrasi. Maulini di bagian keuangan atau mengimpun hasil donasi. Apriliandi, Koko, Pandu dan Salas relawan untuk menggambar.
“Alhamdulillah smpai hari ini setelah tiga Minggu melakukan penggalangan sudah terkumpul Rp1.386.500 dari total 15 donatur,” ucap alumnus Jurusan Biologi FMIPA Untan ini.
Donasi yang terkumpul sudah digunakan untuk membayar daftar ulang kuliah Rahmad sebesar Rp500 ribu, pada 20 Januari 2021.
Ia  berharap jumlah relawan bisa bertambah.

“Tentu dengan tawaran-tawaran ide yang jauh lebih menarik dalam membuat suatu penggalangan donasi,” pungkas Maya. **

Relawan
error: Content is protected !!
Hubungi Kami!