Protect Your Self!

FOTO : HARYADI / PONTIANAK POST

MEMASUKI Juli-Agustus, Kalimantan Barat memiliki musim yang nggak dimiliki oleh provinsi lain, loh. Yup, beberapa minggu terakhir ini Kalbar mengalami musim kabut asap. Hampir setiap tahun selalu langganan diserbu kabut asap akibat pembakaran lahan.

Generally, pembakaran lahan menjadi jalan pintas bagi oknum-oknum yang ingin membuka lahan dengan biaya murah dan waktu yang singkat. Sayangnya, pembakaran lahan yang dilakukan oleh banyak oknum di Kalbar menyebabkan terjadinya bencana kabut asap. Tentunya, kabut asap yang melanda wilayah Kalimantan Barat sangat mengganggu kesehatan dan produktivitas masyarakatnya.

Para zetizen pun merasakan langsung dampak dari kabut asap. Demi menjaga kesehatan dan produktiitas hidupnya, mereka selalu aktif memproteksi diri. simak aja bagaimana cara zetizen memproteksi diri dari kabut asap nih, guys!
Perbanyak Minum Air Putih

Aulia Fitri (@auliakemalaf)
MAN 2 Pontianak

Cuaca yang terasa lebih terik saat kabut asap emang nggak bisa dielakkan. Terlebih hawa panas yang terbawa oleh kabut asap makin memperparah keadaan. Auia Fitri pun merasa nggak nyaman dengan keadaan udara dan cuaca yang memburuk. Menurutnya, cuaca dan udara yang lebih panas membuat tenggorokan dan kerongkongannya sangat nggak nyaman.

“Terasa lebih seret, makanya harus minum lebih banyak air putih. Kalo biasanya sehari mengonsumsi air putih sebanyak 2 liter, di musim kabut asap kayak gini bisa 3 liter. Aku juga mengurangi minum minuman yang mengandung pemanis buatan. Minuman kayak gitu malah bikin kondisi tubuh makin nggak baik. Sangat dianjurkan sekarang kemana-mana harus bawa tumbler isi air putih,” ujar siswi MAN 2 Pontianak ini.
Kurangi Aktivitas di Luar

Albarra Erdanto (@albarraerdanto)
SMA Negeri 1 Pontianak

Salah satu hal yang nggak asing ditemui saat musim kabut asap adalah kita bakal sering melihat debu-debu sisa pembakaran yang berterbangan. Debu-debu sisa pembakaran ini ukurannya terbilang besar sehingga dapat mengganggu pernapasan dan mengotori lingkungan. Albarra Erdanto pun mengeluhkan benda-benda yang digunakannya sehari-hari menjadi kotor akibat debu-debu sisa pembakaran yang mudah menempel.

“Motor ditinggal di luar bentar aja langsung jok-nya banyak debu putih. Apalagi kalo udah pake pakaian warna hitam bakal kelihatan debu yang nempel. Aku berusaha buat kurangi aktivitas di luar. Apalagi makin malam kualitas udaranya makin buruk. Jarak pandangnya juga makin pendek. Mending di rumah aja daripada bikin sesak napas,” ujar Albarra.
Rajin Pakai Masker

Vivi Tamya (@w_tamya)
SMK Negeri 5 Pontianak

Actually, menggunakan masker menjadi hal paling utama yang mesti kita lakukan saat menghadapi kabut asap. Vivi Tamya menyetujui hal tersebut, bahkan doi selalu pake masker tiap keluar rumah. Doi menyadari kualitas udara yang memburuk dapat mengganggu pernapasan dan merusak kulit.

“Bersyukur banget tiap kabut asap nih selalu ada orang-orang baik yang bagiin masker di jalan karena kadang orang-orang tuh suka males beli masker. Padahal masker tuh penting biar debu-debu sisa pembakaran nggak kita hirup. Selain itu, kita juga kudu jaga makan. Usahain banyak makan buah dan sayur biar banyak dapat asupan serat, jangan makan junk food mulu,” pungkasnya. (ind)

Read Previous

Pochettino Protes Bursa Transfer Ditutup Lebih Cepat

Read Next

Defisit Daging di Kalimantan Barat

Tinggalkan Balasan

Most Popular