Proyek Waterfront Mulai Digeber, PKL tak Permasalahkan Relokasi

BAKAL DIRELOKASI: Lapak dagangan dan lanting di kawasan Taman Alun-Alun Kapuas yang rencananya akan direlokasi sebagai dampak dari pembangunan Waterfront tahap pertama, Selasa (12/1). ARIS MUNANDAR/PONTIANAK POST

SINTANG – Pembangunan Waterfront Sintang akan dimulai tahun ini. Rencananya, Januari ini proyek akan dilelang oleh Pemkab Sintang dan yang menjadi titik pertama yang akan dibangun adalah di Taman Alun-Alun Kapuas, persis depan Kantor Bupati Sintang.

Pemkab menilai, pembangunan ini selain menjadi solusi penataan wilayah kumuh, juga diharapkan menjadi objek wisata baru di Sintang. Namun dalam proses pembangunannya nanti juga berdampak pula pada warga di sekitar kawasan. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sintang, Kartiyus saat memaparkan persiapan pembangunan Waterfront Sintang di Pendopo Bupati Sintang, Rabu (6/1) lalu mengatakan bahwa proyek pembangunan ini akan berhadapan dengan warga pemilik lanting, ruko, dan pedagang kaki lima (PKL). Menghadapi persoalan ini, menurut dia, diperlukan kesadaran masyarakat Sintang yang terdampak agar mau mengikuti instruksi pemerintah nantinya.

“Seperti lanting, nanti harus kita bebaskan. PKL akan kita tata. Kita cari lokasi mereka sementara selama pembangunan. Supaya bisa berdagang. Harus kita usahakan cari alternatif,” ujar Kartiyus. Mereka akan mengundang para pemilik ruko, PKL, dan pemilik lanting untuk menyosialisasikan pembangunan waterfront setelah tim pembangunan terbentuk.

Mendengar rencana tersebut, Yulianti, salah seorang PKL yang telah berjualan 8 tahun di areal Taman Alun-Alun Sintang tidak mempermasalahkan terkait relokasi yang akan dilakukan kepada PKL. “Asal dikelola dan dikasih tempat. Orang berjualan di pinggir sungai sama di pinggir jalan sekitar sini (Taman Alun-Alun) ini kan karena tidak ada tempat khusus. Namanya orang jualan cari uang, cari makan. Susah kita melarang orang cari makan,” katanya, Senin (11/1).

Ia pun mengakui bahwa aktivitas PKL di sekitar kawasan tersebut mengganggu lalu lintas, karena memakan sebagian badan jalan. Menurutnya, jika ditata dan diberi tempat yang baik, PKL tidak akan berjualan di sembarang tempat lagi.

Begitupun Banon, pemilik lanting di depan Taman Alun-Alun. Lanting itu digunakannya pula sebagai tempat berjualan dan penginapan. Ia berharap jika nantinya penginapan lanting berjumlah 20-an kamar yang menjadi mata pencahariannya ini dipindahkan, tidak terlalu jauh dari lokasi utama dan tetap bisa dijangkau orang yang ingin menginap.

“Harapannya semoga (dengan pembangunan waterfront) rizki saya ndak terputus. Kita tetap bisa berjualan dan menerima orang yang mau menginap. Semoga bisa dipindahkan ke lokasi yang tidak terlalu jauh dari pasar,’ ujarnya.

Sejak menambatkan lantingnya di kawasan Taman Alun-Alun tahun 2016, ia pun menyadari risikonya mendirikan lanting di kawasan tersebut yang sewaktu-waktu digusur oleh pemerintah. “Tapi kami minta tolong dengan pemerintah, peduli dengan kami. Biar kami tetap bisa usaha,” pungkasnya. (ris)

error: Content is protected !!