Puasa Bisa Membelenggu Setan?

Rosadi Jamani

Oleh : Rosadi Jamani

“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Saya tertarik soal setan yang akan dibelenggu saat bulan suci Ramadan. Benarkah setan bisa dibelenggu? Siapa sebenarnya setan itu? Apakah saya, jelas bukanlah. Apakah Anda, pasti juga bukan. Tapi, kalau saya mengatakan Anda setan, pasti marah. Karena, orang sangat marah bila dikatakan setan. Jangan marah ya, hanya bercanda.

Kali ini saya ingin mengupas eksistensi setan di bulan puasa. Saya mulai dari arti kata setan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, setan diartikan  roh jahat (yang selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat). Melihat arti ini, setan itu roh jahat yang suka menggoda manusia agar melakukan perbuatan tercela.

Kata setan diambil dari Bahasa Arab, syathona artinya jauh, yakni yang selalu menjauhkan manusia dari kebenaran. Biasa juga disebut syaithan. Bahasa Indonesia membakukannya menjadi kata setan. Pada awalnya istilah setan  ini diberikan kepada salah satu golongan jin atau iblis. Golongan yang pernah bersama Adam di surga. Karena golongan ini membangkang, lalu diusir Allah Swt dari surga.

Tidak semua jin adalah setan. Karena, jin juga ada yang shaleh, ada yang mukmin. Jadi setan hanyalah ditujukkan untuk jin yang membangkang (kafir, munafik, musyrik). Demikian juga tidak semua setan adalah jin. Karena dalam surat an-Nas ditegaskan, bahwa setan juga ada dari golongan manusia. Setiap manusia yang membangkang, durhaka dan selalu menjauhkan manusia lainnya dari petunjuk Allah, mereka dinamakan setan.

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shaleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.(al-Jin 72:11)

Sederhananya begini, setan itu sebenarnya sifat. Bukan makhluk yang berdiri sendiri. Sifat yang suka membangkang perintah Allah. Jadi, siapa saja yang suka membangkang Allah, apakah jin atau manusia, saat itu juga ia disebut setan. Pernah dengar orang mengatakan, “Dialah manusia berwatak setan.” Itulah maksud dari setan, sifat negatif yang bisa dimiliki manusia maupun jin atau iblis.

Oh iya, dari tadi nyebut jin dan iblis. Apakah ada perbedaannya? Memang ada perbedaannya.

Jin adalah salah satu jenis makhluk Allah Swt yang memiliki sifat fisik tertentu, berbeda dengan jenis manusia atau malaikat. Jin diciptakan dari bahan dasar api, sebagaimana dalam Alquran,“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar-Rahman: 14 – 15)

Sementara iblis, adalah nama salah satu jin yang menjadi gembongnya para pembangkang. Dalil bahwa iblis dari golongan jin adalah firman Allah,“Ingatlah ketika Kami berkata kepada para malaikat, sujudlah kallian kepada Adam! Mereka semua-pun sujud kecuali Iblis. Dia dari golongan jin dan membangkang dari perintah Allah.” (QS. Al-Kahfi: 50).

Iblis juga memiliki keturunan, sebagaimana umumnya jin lainnya. Allah Swt berfirman,“Iblis itu dari golongan jin, dan dia membangkang terhadap perintah Rab-nya. Akankah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai kekasih selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian…” (QS. Al-Kahfi: 50)

Jadi, iblis salah satu golongan jin. Iblis adalah jin yang membangkang perintah Allah dan telah bersumpah terus menggoda manusia sampai hari kiamat. Terus menggoda manusia agar memiliki sifat setan, seperti iblis juga. Jadi, sekali lagi saya ulangi, setan itu sifat yang bisa melekat pada manusia dan jin.

Terkait bulan suci Ramadan, di mana setan akan dibelenggu atau dirantai, apakah benar demikian? Kalau iblis jelas tidak bisa dibelenggu, karena memang tugasnya untuk selalu menggoda manusia jauh dari Allah. Tapi, kalau setan, memang bisa. Karena, setan itu hanyalah sifat yang bisa melekat pada manusia. Sifat jelek manusia, itulah setan. Ketika orang berpuasa dengan niat tulus, semata-mata karena Allah Swt, secara tidak langsung ia telah membelenggu setan (sifat) dalam dirinya. Godaan setan dari luar dirinya juga tidak mampu menembus benteng pertahanan imannya.

Bagaimana kalau ada yang berpuasa, tapi tetap saja melakukan maksiat? Itu artinya ia tidak sukses membelenggu setan dalam dirinya. Justru setan menguasai perilakunya. Sifat setan paling sulit dibelenggu adalah hawa nafsu. Kata Rasulullah, perang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu. Bila nafsu tidak mampu dikontrol, saat itulah setan berkuasai. Sebaliknya, ketika nafsu bisa dikendalikan, setan akan terbelenggu dengan sendirinya.

Bagaimana caranya agar setan bisa terbelenggu selamanya? Untuk membelenggu setan, sebenarnya tidak mesti di bulan puasa saja. Di bulan lain juga bisa. Cara paling jitu, amalkan perintah Allah, dan jauhi larangan-Nya. Bila ini terus diamalkan, label takwa akan melekat pada diri kita. Kalau sudah memiliki sifat takwa, Anda pasti menjadi manusia berguna. Kehadiran Anda selalu ditunggu dan memberi manfaat. Sebaliknya, ketika setan yang berkuasa, Anda akan menjadi manusia yang tidak diharapkan, banyak memberi mudarat, didoakan jelek, dimaki dan disumpahi.

Tentu tak mau dong menjadi manusia hina macam itu? Untuk itulah, ayo berpuasa dengan cara membelenggu setan jangan sampai keluar dari diri kita. Belenggulah setan dengan mengendalikan hawa nafsu. Ingat, bila anda jauh dari Allah, saat itu anda menjadi setan berwujud manusia. Bila anda selalu dekat Allah, saat itu juga anda menjadi manusia takwa yang sukses membelenggu setan.  Semoga kita menjadi manusia yang tidak lagi memiliki sifat setan. Amin. (*)

*Penulis adalah Dosen UNU Kalimantan Barat

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!