Puasa dan Aktivasi Ruhani

Dr. Samsul Hidayat, MA

Oleh : Dr. Samsul Hidayat, MA

Puasa merupakan momen aktivasi bagi ruhani agar memancarkan cahaya iman dan taqwa dalam kata dan perbuatan. Ruhani adalah sumber dayanya manusia yang berfungsi sebagai sopir (driver) untuk mengendalikan sifat-sifat manusia yang negatif. Cara Allah SWT menyelesaikan persoalan manusia adalah dengan mengurus atau mendidik sopirnya (Ruhani), bukan mengurus kendaraannya (Badan). (QS al-Isra 85)

Maka agar terdidik oleh Tuhan, ruhani harus senantiasa ingat Tuhannya (zikrullah) (QS An-Nisa 103) melalui kontrol suara hati (voice of the heart), sehingga setiap manusia akan memperoleh petunjuk (taufiq dan hidayah) berupa inspirasi dan bimbingan dalam segala tindak-tanduk dan perilakunya.

Untuk mengobjektivikasi nilai Ruhani kedalam aktifitas kehidupan, adalah dengan cara melaksanakan manajemen dengan hati. Yaitu dengan menertibkan niat atau suara hati yang muncul, agar jangan cepat bertindak atau berkata, dengarkan dulu suara hati. Segala sesuatu mesti timbang rasa, jangan terburu-buru berbuat, renungkan dulu, apa manfaat dan mudharatnya,  baik dan buruknya.

Dalam dunia kerja, dengan senantiasa menegakkan suara positif, maka akan lahir budaya positif dan perilaku positif di sebuah instansi. Budaya positif melahirkan positive self motivated dan produktivitas, bahkan beyond motivation.

Selain itu, Ruhani juga mengajak fokus pada perbaikan diri sendiri, dan tidak menilai-nilai orang lain. Hasil yang dicapai jika kita mampu mengontrol suarahati, maka ruhaninya akan terdidik secara otomatis oleh Tuhannya. Semua perbuatannya akan terbit dari hati (min taqwalqulub), bukan terbit dari sifat manusia yang penuh hawa dan nafsu. Implikasinya, ia akan senantiasa berperilaku positif, disuruh atau tidak disuruh, ada aturan atau tidak ada aturan, ia akan terdorong untuk senantiasa berbuat positif.

Sebagai contoh sederhana, orang yang telah terdidik ruhaninya, misalnya di hadapannya terdapat uang yang bukan miliknya, kemudian ada godaan untuk mengambilnya, secara otomatis akan muncul suara hati yang melarang dan mencegahnya, sehingga ia pun terhindar dari perilaku negatif tersebut.

Pemberdayan Ruhani tidak saja bermanfaat untuk memperbaiki manajemen, namun justru bermanfaat bagi diri pribadi, orang lain, dan lingkungan secara berkesinambungan. Hal ini karena pemberdayaan Ruhani akan berimplikasi pada pembentukan pribadi yang jujur, rendah hati, amanah, bertangung jawab, dan sifat positif lainnya.

Karena itu, aktivasi ruhani ini tidak hanya penting bagi pegawai dalam suatu perusahaan atau lembaga, namun bagi semua manusia dalam segala aspek kehidupannya, dalam rangka untuk mencapai kemenangan diri baik dalam kehidupan pribadinya maupun karirnya.

Semoga puasa kita dapat meningkatkan penguatan ruhani sehingga dapat berdampak pada kualitas dan kuantitas kerja dan kehidupan kita.  (*)

Penulis, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Kalbar

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!