Puasa dan Energi “Three in One”

Pabali Musa

Oleh: Pabali Musa*

Firman Allah S.w.t.: “….dan hendaklah kamu berpuasa, itu lebih baik bagimu (daripada

tidak berpuasa) jika kamu mengetahui!” (QS.2/Al-Baqarah: 184).

Tiga Orientasi Berpuasa.

Shaum/shiyâm (puasa) secara bahasa berarti al-Imsâk (menahan/ mengendalikan diri). Pengendalian diri ini sekurang-kurangnya menyentuh kita aspek yaitu: (1) menahan/mengendalikan diri dari melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa (al-Imsâku min…), (2) menahan/ mengendalikan diri dari melakukan hal-hal yang dapat mengurangi/meminimalkan nilai/pahala puasa (al-Imsâku `an…), serta (3) pengendalian diri dalam bentuk memacunya agar dapat meningkatkan aktivitas ibadah dan amal-amal positif lainnya (al-Imsâku ilâ…). Selama berpuasa di bulan Ramadan ini terlihat tiga orientasi tersebut terwujud dengan baik. Bahkan terus terjadi peningkatan dari hari ke hari. Kenapa bisa? Karena berpuasa mengoptimalkan peran tiga kekuatan secara sinergis.

Memerankan Tiga Energi.

Meningkatnya kuantitas, kualitas, dan kapasitas kepribadian yang positif merupakan indikator tercapainya target puasa, yaitu: la`allakum tattaqûn (agar kalian bertakwa). Target ini dapat dicapai, dan bahkan terasa lebih mudah untuk mencapainya, karena melalui ibadah puasa kita telah memerankan tiga bentuk kekuatan/energi terhadap diri kita, yaitu:

Pertama, energi jasmaniah. Berpuasa tetap harus sehat dan kuat dengan memerankan energi jasmaniah yang bersumber dari makanan dan minuman. Namun sumber energi ini dianjurkan untuk dikurangi/dikendalikan karena ia lebih banyak berpengaruh kepada peningkatan naluri yang bersifat fisik/badaniah dan hawa nafsu sehingga dapat mengurangi peran kekuatan rohaniah dan kekuatan ilahiah.

Kedua, energi rohaniah. Ketika kekuatan rohaniah berfungsi dengan bagus, seseorang akan memiliki kekuatan ekstra yang dapat melampaui kekuatan jasmaniahnya. Beberapa sumber energi rohaniah dalam diri kita adalah:

  • Iman merupakan keyakinan/kepercayaan yang kuat. Keyakinan merupakan sumber utama kekuatan rohaniyah. Itulah sebabnya orang yang dipanggil oleh Allah S.w.t untuk berpuasa adalah orang-orang yang beriman.
  • Ketulusan sumber kekuatan rohani yang menjadikan seseorang teguh dan kuat dalam berbagai aktivitas kebenaran/kebaikan.
  • Rasa kasih sayang merupakan sumber kekuatan rohaniyah yang banyak memberikan bukti bahwa seseorang dapat berbuat melampaui kapasitas jasmaniahnya.
  • Rasa takut. Seseorang akan memiliki kemampuan kendali diri yang lebih kuat manakala ada rasa takutnya. Ketika berpuasa kita sangat disiplin dalam berbagai hal termasuk dengan waktu karena takut sia-sia dan mendapatkan siksa.
  • Harap/ingin. Harapan dan keinginan, seperti dalam bentuk cita-cita dan atau agar mendapatkan balasan yang terbaik, merupakan sumber kekuatan rohani yang penting. Di bulan Ramadan banyak motivasi dan ganjaran istimewa dari Allah S.w.t yang diharapkan, sehingga melahirkan ikhtiar dan semangat berpuasa serta beramal yang optimal.
  • Ketaatan adalah sumber kekuatan rohaniyah yang merupakan himpunan dari lima sumber kekuatan tersebut di atas. Ketaatanlah yang membuat seseorang mampu untuk secara optimal melakukan yang terbaik serta meninggalkan yang terlarang/tidak baik.
  • Sabar, merupakan ketangguhan (senantiasa berpihak pada kebenaran) dalam menghadapi situasi yang tidak diingini atau sesuatu yang mengarah kepada yang tidak dikehendaki.

Ketiga, kekuatan Ilahiah. Kekuatan Ilahiyah merupakan energi yang bersumber dari luar diri manusia yaitu datang dari Allah S.w.t. Bentuknya berupa mukjizat (untuk para Nabi dan Rasul a.s.), karomah (untuk orang istimewa), dan ma`unah (pertolongan Allah S.w.t. kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya). Sumber untuk mendapatkan energi ini, selain dari yang tujuh sumber kekuatan rohani di atas, adalah:

  • Yaitu kerelaan sepenuh jiwa raga untuk menerima apapun yang Allah tetapkan pada diri kita.
  • Berupa sikap berpasrah diri terhadap apapun hasil akhir yang akan Allah berikan sebagai buah dari usaha/ikhtiar yang telah dilakukan. Dalam berpuasa, tawakkal dimulai ketika berakhirnya waktu untuk makan dan minum sebelum masuk waktu subuh. Jika ridha dan tawakkalnya mantap, insyaallah berpuasanya kuat. Wallahu a`lam.

*Penulis adalah Dosen Fisipol Untan, Ketua PW Muhammadiyah Kalbar,

dan anggota DPS Bank Kalbar Unit Syariah

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!