Pulang Dari Korea, Dua Warga Kalbar Tertahan di Kuala Lumpur

Sempat Hindari Karantina di Vietnam

PONTIANAK- Rombongan warga Kalbar yang berlibur ke Korea Selatan telah kembali ke Pontianak, Senin (2/3). Gubernur Kalbar Sutarmidji meminta rombongan warga Kalbar itu diperiksa secara lengkap. Pemeriksaan mulai dari darah atau yang lainnya demi memastikan mereka benar-benar bebas dari paparan virus asal Tiongkok itu.

Setelah mengalami pemeriksaan, Sutarmidji meminta mereka yang pulang dari Korsel itu secara sukarela mengkarantina diri sendiri. Artinya tidak dulu berpergian, melainkan tetap berada di rumah masing-masing.

“Saya minta ambil sampel darah dan apapun jenis yang mau diambil sampelnya, supaya memastikan mereka (yang pulang dari Korsel) tidak terpapar (corona),” ungkapnya, Senin (2/3) siang.

Karena berbicara mengenai corona menurutnya tak mungkin ada satu negara pun yang bisa terbebas. Termasuk Indonesia yang hari ini sudah dinyatakan ditemukan kasus positif corona. “Dan tidak bisa juga kita mau sembunyi-sembunyikan,” ujarnya.

Keputusan Pemerintah Provinsi Kalbar yang hanya meminta 21 warga Kalbar ini secara sukarela mengkarantina diri sendiri dipertanyakan sejumlah warga. Salah satunya, Budi Kurnianto, warga Pontianak. Menurut Budi, sebaiknya 21 warga Kalbar tersebut diisolasi di tempat khusus selama 14 hari. Seperti yang dilakukan terhadap warga Indonesia yang dipulangkan dari Wuhan, China dan WNI yang bekerja di Kapal Pesiar Diamond Princess.

“Jika karantina dilakukan di rumah masing-masing tentu mereka masih berinteraksi dengan anggota keluarga, tetangga, atau kerabat lain. Jika mereka sempat tertulas virus corona, tentu ini akan berisiko menular pada orang lain,” kata Budi pada Pontianak Post, Senin (2/3).

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harrison menyatakan, berdasarkan prosedur tetap dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), seseorang harus dikarantina selama 14 hari jika diketahui suhu tubuh panas, pernah ke luar negeri, dan menderita pneumonia ringan sampai berat. “Kalau kondisinya seperti itu  wajib dikarantina. Kalau ini kan mereka (warga Kalbar yang ke Korsel) memang tidak  mempunyai gejala itu, tapi kami siap siaga, bisa saja masa inkubasi,” terangnya.

Menurut Harrison, pihaknya telah melakukan penanganan terhadap 20 warga yang pulang berlibur dari Korea Selatan  tersebut. Hal itu dilakukan untuk antisipasi masuknya virus corona (Covid-19) di provinsi ini. Harrison bercerita, 21 warga Kalbar itu berangkat satu rombongan menggunakan travel agent, dengan jadwal perjalanan mulai 25 Februari hingga 2 Maret 2020.

Dari 21 orang tersebut salah satu pimpinan rombongan pulang lebih dulu karena orang tuanya sakit. “Dia (satu orang) pulang tanggal 28 (februari), jadi setelah sampai Seoul dia pulang,” terang Harisson kepada awak media, Senin (2/3) sore.

Artinya rombongan tinggal menyisakan 20 orang yang melanjutkan wisata di sana. Adapun secara rinci, perjalanan dimulai dari Pontianak pada 25 Februari menggunakan pesawat Air Asia menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan dari Kuala Lumpur ke Seoul, Korsel menggunakan maskapai Vietnam Airlines. “Mereka sempat transit di Ho Chi Minh City (Vietnam), baru ke Seoul,” ungkap Harisson.

Kemudian, lanjut dia, pada 26 Februari rombongan ini tiba di Korsel. Di sana mereka mengunjungi dua daerah yakni Pyeongchang dan Seoul. Liburan direncanakan sampai 29 Februari. Sesuai rencana awal, saat pulang mereka hendak transit di Vietnam.

Namun ternyata, saat check-in mereka diberitahukan oleh pihak maskapai bahwa semua penumpang yang datang dari Seoul harus dikarantina selama 14 hari ketika sampai di Vietnam. “Nah jadi mereka ini membatalkan penerbangan dari Seoul ke Vietnam,” katanya.

Karena tak bisa pulang sesuai jadwal pada 29 Februari, keesokan harinya, pada 1 Maret rombongan ini terpecah. Ada 14 orang yang menggunakan maskapai Air Asia dari Seoul ke Kuala Lumpur. Lalu ada enam orang dari Seoul langsung ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda. “Nah yang enam orang ini, Seoul-Jakarta pada Minggu sudah sampai di Pontianak,” jelasnya.

Keenam orang yang sampai paling awal ini sudah dilakukan pemeriksaan kesehatan. Baru kemudian yang lain, 14 orang yang dari Seoul ke Kuala Lumpur tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) II pada 1 Maret 2020. Dari 14 orang tersebut, ketika sampai ternyata ada satu yang suhu badannya meningkat dan langsung diamankan oleh otoritas kesehatan di Kuala Lumpur.

“Yang satu saat ini masih di sana (Kuala Lumpur) dengan satu orang leader dari travel agent ini,” jelasnya.

Selain itu ada dua orang yang pulang dari Kuala Lumpur langsung ke Jakarta. Untuk yang berdua ini dikatakan Harisson sampai kemarin masih berada di Jakarta. Dan sisanya sebanyak sembilan orang langsung pulang dari Kuala Lumpur ke Pontianak. Untuk sembilan orang ini tiba di Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya sekitar pukul 12.00 WIB, Senin (2/3) kemarin.

“Lalu kami lakukan pemeriksaan fisik kesehatannya, kami ambil sampel darahnya, sekarang kami lagi periksa, mudah-mudahan dalam watu dekat sudah ada kepastian hasil pemeriksaan darahnya,” papar Harisson.

Sambil menunggu hasil laboratorium keluar, petugas dari Dinas Kesehatan akan terus memantau mereka yang baru pulang dari Korsel ini sampai 14 hari ke depan. Mereka diperbolehkan pulang ke rumah, dengan harapan tetap mengisolasi diri di kediaman masing-masing.

Sampai 1 Maret 2020 dari data yang ada disebutkan dia, di dunia sudah ada 87.137 kasus corona. Di mana sudah ada 2.873 orang yang meninggal dunia. Peningkatan pasien corona paling tinggi ada di Korsel. Yang sampai 1 Maret 2020 sudah 3.736 jiwa terpapar dan 18 jiwa meninggal dunia. Lalu di Italia sebanyak 1.128 jiwa terpapar dan 29 orang meninggal. Di Iran 593 jiwa terpapar dengan 43 meninggal dunia dan di Jepang 239 jiwa terpapar dengan sembilan orang meninggal.

“Jadi wajar kalau Pak Gubernur melarang warga Kalbar ke luar negeri ke negara yang terjangkit, apalagi sampai ke Korsel. Karena Korsel memang sekarang penularan corona paling tinggi setelah China,” paparnya.

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengingatkan agar seluruh warga di provinsi ini selalu waspada. Hal ini menurutnya sudah sering ia sampaikan sejak beberapa hari terakhir. Untuk itu Midji sapaan akrabnya mengimbau ke masyarakat, jika ada anggota keluarga yang mengalami demam, flu, apalagi pernah berinteraksi dengan warga dari negara yang terinfeksi segera memeriksakan diri. “Kami akan lebih ketat, karena Kalbar ini pintu masuknya banyak,” katanya.

Midji mengaku juga bakal berkoordinasi dengan pihak Konsulat Malaysia di Pontianak. Agar sama-sama menjaga kawasan perbatasan secara ketat. Kedua negara menurutnya sama-sama berkepentingan untuk menjaga agar virus corona tidak menyebar. “Malah mareka (Malaysia) lebih wasapada dari pada kita, dengan mengeluarkan imbauan dan sebagainya, untuk kunjungan beberapa negara sudah (dihentikan),” paparnya.

Selain itu ia juga meminta Dinas Perhubungan meminta pihak kementerian melarang maskapai yang masih bisa membawa penumpang dari Pontianak ke Korsel. Pihak Imigrasi, Bea Cukai serta karantina baik hewan maupun tumbuhan dipesankan terus berhati-hati.

“Jadi jangan berbangga diri ketika pulang berlibur dari luar negeri. Karena akibatnya tidak dirasakan sendiri, melainkan mengancam keselamatan orang lain. Kalau diri sendri ya silahkan, tapi ini kan bisa menjangkit pada orang-orang yang tak tahu-menahu,” pungkasnya. (bar)

 

error: Content is protected !!