Punya Bapak Angkat yang All-out Kawal Burung

JADI PANUTAN: Dari kiri, Mardiyanta, Kelik, dan Asman yang aktif menjaga kelestarian burung. Folly akbar/jawa pos

Inspirasi dari Jatimulyo, Desa Ramah Burung di Kaki Pegunungan Menoreh

Kombinasi apik pemerintah desa dengan masyarakat berhasil melestarikan 101 spesies burung di Desa Jatimulyo. Selain lingkungan yang lebih asri, konservasi burung membawa nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.

FOLLY AKBAR, Kulonprogo

BALIHO yang banyak terpasang di pinggir jalan menyambut siapa pun yang memasuki kawasan Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo. Semakin masuk ke dalam, baliho semakin banyak. Namun, bukan baliho tokoh politik layaknya di musim pemilu. Melainkan baliho peringatan untuk tidak berburu burung.

Warga desa yang tinggal di bawah Pegunungan Menoreh itu memang sudah sejak beberapa tahun terakhir mendeklarasikan diri untuk berperang melawan perburuan burung. Perlawanan tersebut diperkuat dengan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 8 Tahun 2014 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup. Dalam perdes tersebut, menangkap burung ditetapkan sebagai aktivitas terlarang di Jatimulyo. Siapa pun yang nekat melakukannya, sanksi berlapis harus dihadapi. ”Peringatan dulu, kalau diulangi lagi, ya bayar denda,” kata Sekretaris Desa Jatimulyo Mardiyanta. Dendanya pun bisa mencapai Rp 10 juta.

Mardiyanta menceritakan awal mula dikeluarkannya perdes itu. Hal tersebut tak lepas dari kondisi alam yang semakin lama kian mengkhawatirkan. Burung-burung makin jarang ditemui. ”Dulu waktu saya kecil, di sini banyak suara burung. Tapi tahun 2012-an sudah tidak terdengar lagi,” ujarnya.

Keresahan itu rupanya juga dirasakan warga lain. Kerinduan pada masa lalu yang asri berkelindan di benak warga desa. Apalagi, ada fakta yang lebih menyakitkan. Yakni, sebagian besar burung yang hilang dari keseharian warga diambil pemburu dari desa lainnya. ”Maka, keluarlah perdes ini,” imbuhnya.

Setelah perdes diterbitkan, sosialisasi digalakkan. Baik melalui baliho maupun dari mulut ke mulut. Masyarakat diajak untuk saling menjaga. Saat ini lebih dari 100 relawan menjadi ”polisi burung”. Jika melihat gerak-gerik pemburu, mereka akan menindaknya.

Tiga tahun usai diberlakukannya perdes tersebut, hasilnya mulai kelihatan. ”Sekitar tahun 2017, suara burung mulai terdengar lagi,” imbuhnya, lantas tersenyum. Pada akhir 2019, populasi burung di Jatimulyo terus meningkat. Saat ini sudah ada 101 spesies burung yang dapat ditemukan di desa yang memiliki luas 1.609 hektare tersebut. Di antaranya, burung perkutut jawa, walik kembang, udang api, celepuk reban, wiwik lurik, cucak kuning, empuloh janggut, dan kancilan bakau. Ada juga berbagai elang langka yang ditemukan kembali di kampung tersebut. Misalnya, elang hitam, elang ular bido, dan elang alap jambul.

Untuk mengonsolidasikan pelestarian burung, tempat semacam konservasi pun dibuat. Namanya Kopi Sulingan. Sulingan merupakan salah satu spesies burung khas Kulonprogo. Uniknya, konservasi tersebut diisi para mantan pemburu burung yang sudah insaf. Salah satunya Kelik Suparno. Lelaki paro baya itu mengaku insaf karena muncul kesadaran akan bahaya dari aktivitas berburunya. ”Burungnya cepat habis,” ujar dia saat ditemui di Kopi Sulingan.

Bersama sejumlah pegiat lainnya, Kelik memimpin upaya pelestarian burung di Jatimulyo. Namun, jangan dibayangkan seperti kebun binatang, yakni burung-burung disangkarkan. ”Di sini burung-burung dibiarkan di alam liar,” imbuhnya.

Meski demikian, upaya perlindungan tetap dilakukan para pegiat burung di Kopi Sulingan. Untuk meningkatkan pengawasan, Kelik dan kawan-kawan menciptakan sebuah sistem bernama adopsi. Sistem itu mirip ”bapak angkat” bagi burung. Bapak angkat bertugas menjaga burung sejak bertelur, menetas, sampai anak burung tumbuh besar dan bisa terbang.

Dalam sistem adopsi, siapa pun boleh menjadi ”bapak angkat” bagi burung yang tengah berkembang biak. Biaya donasi yang ditetapkan adalah Rp 500 ribu. Uang tersebut dibagikan ke beberapa elemen yang terlibat sebagai insentif. Mulai penemu sarang burung, pemilik lahan tempat burung bersarang, pengurus RT di wilayah sarang burung, petugas patroli, dan operasional lainnya. ”Penemu sarang kita kasih Rp 75 ribu, pemilik lahan Rp 100 ribu, pengurus RT Rp 50 ribu, kelompok petani hutan Rp 50 ribu, dan yang Rp 225 ribu untuk operasional dan penjagaan,” tuturnya.

Dengan insentif tersebut, semua pihak yang dilibatkan diharapkan bisa lebih bertanggung jawab untuk sama-sama menjaga sarang burung. Pengurus RT, misalnya, bisa ikut mengingatkan warganya. Juga, pemilik lahan yang diharapkan bisa ikut menjaga tanamannya.

Selain itu, kata Kelik, sistem tersebut diharapkan bisa menjadi sumber pemasukan bagi para mantan pemburu. Baik yang bertindak sebagai pencari sarang maupun penjaga sarang. ”Kita minta pemburu berhenti, kalau tidak ada pemasukan pengganti kan susah,” ungkapnya.

Dalam satu periode sistem adopsi, biasanya dibutuhkan waktu dua sampai empat minggu. Bergantung spesies burungnya. Nantinya sang ”bapak angkat” diberi laporan. ”Kalau gagal karena ulah manusia, uang kita kembalikan. Tapi, kalau gagal karena dimakan ular, itu kita anggap proses alam,” kata ayah satu anak itu.

Kelik menuturkan, sistem adopsi yang dia ciptakan sudah berjalan baik. Sudah belasan kali berhasil. Soal sumber donasinya, dia mengaku tidak hanya berasal dari warga sekitar Jogja. Namun, juga para pencinta lingkungan di berbagai daerah, termasuk Jakarta. Karena donasinya terbatas, sistem adopsi hanya diberlakukan untuk spesies burung tertentu. Yakni, burung yang jumlah populasinya terbatas. Misalnya, burung sulingan, cekakak jawa, empuloh janggut, kehicap ranting, dan berbagai burung elang. Agar program tersebut berjalan semakin masif, Kelik mengajak siapa pun untuk terlibat menjadi ”bapak angkat” burung.

Saat berkunjung ke Kopi Sulingan, koran ini berkesempatan berkeliling di sebagian wilayah Desa Jatimulyo. Di situ Jawa Pos merasakan betul populasi burung yang cukup melimpah. Saat dipasang sebiji buah pisang di ranting pohon saja, beberapa burung langsung hinggap dalam hitungan dua–tiga menit.

Selain itu, suara burung terdengar saling bersahutan saat masuk ke kebun-kebun warga yang terletak di bawah kaki Pegunungan Menoreh. Beberapa sarang burung juga kerap terlihat di ranting-ranting pohon dalam rentang jarak yang tidak terlalu jauh. Bahkan, Jawa Pos sempat mendapati dua sarang burung pada pohon jambu biji di halaman rumah warga. Menandakan betapa ramahnya masyarakat terhadap keberadaan burung.

Kondisi tersebut rupanya menarik banyak pencinta lingkungan untuk datang ke Desa Jatimulyo. Dalam setahun, Kelik mencatat sekitar 100 orang datang ke tempatnya. Tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga peneliti dari luar negeri. ”Beberapa pengelola taman nasional juga kerap datang ke sini, biasanya datang bersama pengurus desa penopangnya,” kata dia. Kedatangan wisatawan burung turut meningkatkan perekonomian desa.

Kini pencapaian yang didapat Desa Jatimulyo memantik ketertarikan desa lain. Sejumlah desa sudah menyatakan ingin mengadopsi Perdes 8/2014 milik Jatimulyo. Meski terlihat sudah melakukan capaian besar, Kelik enggan disebut berhasil. Menurut dia, ukuran keberhasilan baru bisa dinilai setidaknya pada 20 tahun ke depan. Jika di tahun tersebut spesies burung tetap lestari, boleh dikatakan berhasil. Diakui, salah satu kegelisahannya adalah eksistensi dari konservasi Kopi Sulingan ke depan. Sebab, apakah generasi di bawahnya akan melanjutkan atau tidak, masih menjadi pertanyaan besar di benaknya. (*/c10/oni)

loading...