Punya Kebebasan Berbicara

Tak mudah menjadi professional art worker atau pekerja seni. Namun, S.Dexara Hachika tak menyerah. Dia tetap berusaha hingga akhirnya bisa berkolaborasi di Negeri Sakura. Baginya, dunia seni memberinya kebebasan untuk berbicara dan menyampaikan aspirasi.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Ketertarikan S. Dexara Hachika, M.Sn atau biasa disapai Dexa ini menekuni bidang professional art worker (actor, director) dimulai sejak menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta tahun 2010. Namun, sebelumnya dia memang telah aktif di bidang teater sejak SMA. Ketika itu, hanya sekadar hobi saja.

“Berbeda sekali saat menekuni professional art work. Terlebih sekarang juga sudah menjadi profesi,” katanya.

Menurut Dexa, menjadi professional art work membuatnya memiliki kebebasan untuk berbicara atau menyampaikan sebuah aspires. Semuanya bisa dikemas dalam dalam bentuk apapun.

“Atau, disamarkan dalam bentuk kesenian apapun,” sambung Dexa.

Siti Dexara Hachika // Professional Art Worker (Actor, Director)

Dexa mengungkapkan untuk menjadikan pekerja seni sebagai profesi memerlukan persiapan mental, tenaga, pikiran, dan pastinya keikhlasan. Dulu, dia sering disepelekan banyak orang. Bahkan, menerima ejekan.

Dia juga sering mendapat tindakan kurang menyenangkan. “Alhamdulillah sekarang sudah jarang. Jikalau pun ada biasanya cukup ia dengarkan, terima dan jawab lewat karya atau prestasi di bidang ini,” kata Dexa.

Bagi Dexa, profesinya ini menyenangkan. Dia bisa berjalan ke banyak tempat dan belajar lebih banyak. Pada 2016, Dexa berkesempatan mengikuti program kolaborasi antara Yayasan Bumi Purnati Indonesia yang dipimpin oleh Restu Imansari Kusumaningrum dengan Suzuki Company Of Toga.

Sebelum terpilih, Dexa lebih dulu mengikuti audisi yang diadakan di Jakarta. Ia termasuk salah satu dari 16 orang aktor dari seluruh Indonesia yang beruntung dan dapat bekerjasama dengan Bumi Purnati Indonesia dengan Suzuki Company of toga.

“Prosesnya sendiri dari tahun 2016 dan pentas pertama kali pada tahun 2018 di Jepang. Dan di Indonesia pada bulan Oktober, di Prambanan, Yogyakarta,” jelas Dexa.

Lalu dipentaskan kembali di Victoria theatre Singapore dalam Singapore Internasional Festival of Art. Dan, kembali ke Kurobe dan Toyama, Japan dalam acara Olympic Theater Tahun 2019.

Tak hanya itu, Dexa juga merasa beruntung dipercaya untuk membawakan sebuah naskah dari negara Myanmar pada ajang Asian Playrights Meeting 2019 yang diselenggarakan di Yogyakarta.

“Di acara tersebut saya menafsir ulang dan membuat pertunjukan kecil dengan konsep dramatic reading,” ucap Dexa.

Banyak tantangan yang dihadapi Dexa untuk bertahan sebagai pekerja seni. “Salah satunya bagaimana bisa menyejahterakan teman teman yang juga diajak bekerja sama dalam berkarya,” katanya.

Bagi Dexa, tak mudah menaklukkan pasar. Dia pun terus berusaha menjalin hubungan baik dengan orang banyak. Berjumpa dan berdiskusi dengan relasi serta mitra kerja. Kedepannya, Dexa berharap semoga tetap diberi kesehatan dan kesempatan untuk selalu belajar dan bertemu orang orang hebat hingga dapat berdiskusi dan menyuguhkan karya yang dapat diterima masyarakat.

“Semoga kesenian di Indonesia dapat diapresiasi lebih baik oleh pemerintah dan masyarakat,” harap Dexa.**

Semua Orang Berhak Cantik

Siti Dexara Hachika menyatakan semua orang berhak cantik. Hal ini juga yang mendasari pertunjukan seni Tubuh Plastik. Bercerita tentang kecantikan dan pencitraan yang disamaratakan standarnya.

“Cantik putih, cantik langsing, cantik berhidung mancung, cantik bermata besar, dan lain lain,” jelasnya.

Karya ini juga berangkat dari pengalaman empiris Dexa sendiri ketika mengalami body shamming.

“Saya akan panik dan akan mengikuti apa kata orang walaupun itu dulu terjadi,” ungkapnya.

Dalam Tubuh Plastik, Dexa membicarakan bahwa cantik itu tak hanya milik perempuan, namun semua orang memiliki hak untuk cantik.

“Dan bagaimana dari sebuah pencitraan tubuh itu dibangun dibentuk dan dihadirkan seseorang kepada orang lain dengan maksud dan tujuan tertentu,” ujarnya.

Dexa menuturkan karya ini akan tetap berjalan dan masih belum berakhir. “Karena membicarakan tentang kecantikan tidak akan pernah habis di era dan zamannya,” tutur Dexa.

Lulusan Pasca Sarjana ISI Yogyakarta ini menyatakan hingga saat ini sudah ada tiga part Tubuh Plastik yang berbeda satu dengan lainnya dari tahun 2018 hingga 2020.

Pada tahun 2020 Dexa beruntung karena mendapatkan fasilitasi bidang kebudayaan. Karya Tubuh Plastik ini di support secara materi dan moril, serta dapat dipanggungkan di Concert Hall Taman Budaya, Yogyakarta.

Rencananya, dalam waktu dekat perempuan kelahiran Pontianak, 23 Agustus 1991 ini akan mementaskan teater berjudul ‘Tubuh Nak Dare’.

‘Tubuh Nak Dare’ menceritakan tentang kecantikan perempuan suku dayak (tato dan telinga panjang) dengan masuknya pola hidup masyarakat urban,” pungkasnya.(ghe)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!