Pura-pura Sakit Saat Dieksekusi

EKSEKUSI: Terpidana korupsi pengadaan peralatan RS Pendidikan Untan tahun anggaran 2013, HM Amin Andika saat dieksekusi. Mengenakan baju kaos dan celana pendek, terpidana dibawa meninggalkan rumah untuk selanjutnya diterbangkan ke Pontianak, Kamis (22/8). DOK KEJARI PONTIANAK

PONTIANAK – Kejaksaan Negeri (Kejari) Pontianak terus memburu terpidana korupsi, yang telah masuk daftar pencarian orang (buron). Setelah Zulfadli dan Gusti Hersan Aslirosa, kini giliran terpidana korupsi pengadaan peralatan Rumah Sakit Pendidikan Untan tahun anggaran 2013, HM Amin Andika yang dieksekusi.

Eksekusi dilakukan Tim penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Pontianak dibantu tim Kejari Kota Tangerang. Terpidana dieksekusi di kediamannya Jalan Raya Taman Golf CG V, Kelurahan Poris Plawad Indah, Kecamatan Cipindoh, Kota Tangerang, pada Kamis, 22 Agustus 2019.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Pontianak, Juliantoro membenarkan, jika pihaknya telah mengeksekusi satu terpidana korupsi yang telah lama masuk daftar pencarian orang. “Benar kami melakukan eksekusi terhadap terpidana korupsi pengadaan peralatan RS Pendidikan Untan, HM Amin Andika. Rencananya malam ini jam delapan (kemarin) terpidana akan diterbangkan dari Jakarta ke Pontianak,” kata Juliantoro, Kamis (22/8).

Juliantoro menjelaskan, pada Kamis, 22 Agustus 2019 sekitar pukul 11.00 tim jaksa eksekusi Kejari Pontianak dibantu Tim Kejari Kota Tangerang telah berhasil menangkap terpidana atas nama HM Amin Andika.

Juliantoro menerangkan, terpidana ditangkap di rumahnya di Jalan Raya Taman Golf Blok CG V, Kelurahan Poris Plawad Indah, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Ketika dilakukan penangkapan terpidana berusaha untuk mengelabui petugas dengan berpura pura sakit stroke dan tidak bisa berjalan serta melakukan aktivitas secara mandiri.

“Namun setelah dilakukan pemeriksaan, terpidana dinyatakan sehat dan dinyatakan dapat menjalani hukuman yang telah dijatuhkan,” ucapnya.

Juliantoro menyatakan, terpidana telah divonis penjara selama delapan tahun dan denda sebesar Rp500 juta subsidair enam bulan kurungan. Selain itu terhadapnya diwajibkan membayar uang pengganti sebesar kurang lebih Rp6,8 miliar, subsidair enam tahun penjara.

Juliantoro menyatakan, selama ini terpidana mengelabui petugas eksekusi ketika akan dilakukan eksekusi dengan berpura pura. Akan tetapi berkat kerja sama penangkapan dengan Kejari Kota Tangerang, yang bersangkutan dapat ditangkap untuk menjalani hukuman di Lapas Kelas IIA Pontianak.

“Untuk diketahui, terpidana ini masih ada perkara yang akan dilimpahkan penyidik Polres Sambas ke Kejari Sambas,” ungkapnya.

Untuk diketahui, pada Maret 2019, Kejati Kalimantan Barat menetapkan tiga sebagai tersangka atas dugaan korupsi pengadaan peralatan RS Pendidikan Untan tahun anggaran 2013, dengan total kerugian sebesar Rp6,9 miliar. Mereka yang ditetapkan tersangka itu, yakni Kasubag Perlengkapan Untan selaku PPK, M Nasir, Direktur Utama PT Annisa Farma Dewi (AFD), Ya Irwan Syahrial dan Direktur PT Kasa Mulia Utama, H M Amin Andika. (adg)

Read Previous

Nostalgia Ala Vialli

Read Next

Kepiawaian Pantomim Kafka Bilques Alfath

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *