Pengamat: Drainase Kecil dan Tertutup
Purnama Langganan Banjir

BANJIR: Seorang ibu dengan membawa anaknya berjuang melintas banjir yang melanda Jalan Purnama, Kamis (10/6). Hujan yang melanda Kota Pontianak menyisakan banjir yang cukup dalam di beberapa tempat, terutama di Jalan Purnama. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Hujan yang melanda Kota Pontianak sejak tengah malam hingga pagi hari kemarin menyebabkan beberapa ruas jalan mengalami banjir, Kamis (10/6). Dari pantauan Pontianak Post ruas jalan yang tergenang mulai dari sebagain Jalan A Yani 1, Jalan Letjen Sutoyo, serta Jalan Purnama dan sekitarnya.

Ketinggian air bervariasi mulai dari setinggi mata kaki, hingga lutut orang dewasa. Kondisi paling parah terjadi di Jalan Purnama. Para pengendara yang melintas di jalan tersebut harus ekstra hati-hati. Sebagian kendaraan bahkan mogok akibat terendam air. Sampai siang sekitar pukul 13.00 WIB kondisi air masih sama, belum terlihat surut.

Salah satu warga di Jalan Purnama, Rustamir (56) bercerita genangan air mulai masuk ke rumahnya sekitar pukul 03.00 dini hari. Ia pun langsung mengamankan barang-barang penting ke bagian rumah yang lebih tinggi. Adapun ketinggian air di tempatnya mencapai lutut orang dewasa. “Sudah biasa jadi barang-barang sudah dinaikan (diamankan),” katanya singkat.

Hal serupa diungkapkan salah satu karyawan swalayan di Jalan Purnama, Doni yang mengatakan sudah kerap mengalami banjir di ruas jalan tersebut. Untuk yang kemarin, air mulai naik pada subuh hari dan belum juga surut hingga siang. “Belum ada perubahan dari pagi sampai siang, mungkin sore kali (surut),” katanya.

Biasanya, lanjut dia, ketika hujan deras melanda air akan menggenangi wilayah tersebut selama satu sampai dua hari. Itu pun jika tidak kembali terjadi hujan dengan intensitas tinggi. “Kalau hujan lagi bisa tambah parah, sering di sini,” ucapnya.

Ahli permukiman yang juga Dosen Arsitektur Univeristas Tanjungpura (Untan) Emilya Kalsum mengungkapkan, persoalan banjir di Pontianak berkaitan erat dengan kondisi drainase. Secara umum ia menjelaskan sebuah permukiman dibangun tentu tidak hanya berupa bangunan tempat manusia berkegiatan, tapi juga harus dilengkapi segala infrastruktur yang mendukung kegiatan.

“Terutama adalah infratruktur akibat berdirinya bangunan-bangunan tersebut. Infrastruktur yang utama yang harus menyertai setiap pembangunan fisik adalah drainase. Ini berlaku umum di seluruh wilayah,” paparnya.

Khusus di Kota Pontianak, drainase menurutnya menjadi unsur yang sangat vital bagi sebuah permukiman. Itu karena umumnya wilayah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki curah hujan yang tinggi dengan intensitas yang juga tinggi. “Selayaknya drainase dibuat dengan perhitungan yang sesuai dengan kondisi iklim,” sarannya.

Kondisi saat ini ia melanjutkan, banjir sangat mungkin terjadi di Kota Pontianak karena drainase yang ada sangat tidak mendukung permukiman yang terbangun. “Parit-parit yang besar sebaiknya menjadi hal utama di kota ini. Ditambah lagi, letak Kota Pontianak yang berada di wilayah rob tentu membutuhkan pertimbangan khusus,” ujarnya.

Berkaitan dengan banjir rob, ia menyarankan bangunan-bangunan selayaknya dibuat dengan sistem panggung dengan infrastruktur sirkulasi yang bisa menyiasati ketika air laut atau sungai naik sewaktu-waktu. Sementara menanggapi wilayah Jalan Purnama yang menjadi langganan banjir persoalannya memang pada unsur vital tadi yaitu drainase.

“Di sana (Purnama) drainase banyak yang tertutup dan juga sangat kecil. Sementara wilayah yang terbangun untuk permukiman cukup luas,” pungkasnya.

Terpisah, akademisi Untan Kiki P Utomo menerangkan, banjir atau genangan yang terjadi di Kota Pontianak bisa disebabkan beberapa hal. Namun pada dasarnya ketika ada air hujan berlebih kemudian tidak bisa dikeluarkan oleh parit atau saluran drainase ke sungai maka akan terjadi banjir.

Sebab tidak mengalirnya air ke sungai ada beberapa hal. Pertama bisa jadi karena tanah sudah jenuh akibat hujan sebelumnya, sehingga ketika ada air hujan yang jatuh belakangan tidak lagi bisa meresap ke dalam tanah. Hal itu yang akhirnya membuat air tergenang di atas permukaan tanah.

Selain itu bisa juga air tidak mengalir ke parit dan kemudian ke sungai karena misalnya paritnya sudah penuh atau jalan aliran dari permukaan tanah ke parit terhambat atau berkurang jumlahnya. “Misalnya ada penghalang, penghalang itu bisa macam-macam,” katanya.

Berkurangnya resapan juga selain disebabkan jenuhnya tanah oleh air dari hujan sebelumnya, bisa juga karena tanah menjadi kedap. Dengan demikian air tidak bisa meresap ke dalam lapisan tanah. Air yang tidak bisa meresap itu menjadi berlebih dan akan tergenang di permukaan. Itu bisa dilihat sebagai genangan atau yang umumnya disebut dengan banjir.

“Meskipun banjir dan genangan bisa saja adalah dua hal yang berbeda,” ungkapnya.

Umumnya, lanjut dia, orang menyebut banjir adalah peristiwa air yang tidak mengalir dengan kedalaman yang cukup tinggi di atas permukaan tanah. Sedangkan genangan ketika air umumnya air hujan berada di permukaan dalam jangka waktu tertentu dan terhenti untuk beberapa lama.

“Nah selain air itu tidak bisa keluar melalui parit atau saluran drainase karena terhambat, bisa juga karena parit sudah penuh,” terangnya.

Kondisi parit yang penuh tidak hanya selalu karena air pasang seperti di Pontianak, tapi bisa juga karena parit sudah lebih dulu terisi air misalnya karena hujan sebelumnya. Dari analisa yang ia jabarkan terkait penyebab banjir kemarin, bermula dari beberapa kali hujan yang terjadi.

Mulai di siang hari pada Rabu (9/6) yang hujannya cukup deras, kemudian kembali terjadi hujan di sore hari, selanjutnya pada malam hari. Untuk hujan yang ketiga di malam hari, karena kapasitas tampung tanah yang ada sudah terlewati mungkin saja membuat air tidak bisa meresap.

Atau bisa juga air yang mengalir di parit menuju sungai lambat, membuat hujan yang turun belakangan di malam hari tidak bisa langsung keluar karena parit harus mengalirkan air yang sudah ada sebelumnya. “Biasanya genangan itu bisa terjadi karena ada hujan yang berurutan atau bisa karena hujan yang sangat deras dalam waktu yang sangat singkat,” paparnya.

Kejadian demikian bisa diibaratkan seperti menuangkan air sedikit-sedikit dari sebuah gayung ke permukaan tanah maka air tersebut akan mengalir tanpa sempat tergenang. Tapi ketika air satu gayung langsung dituangkan pasti air akan meluap di atas permukaan tanah dan menggenang beberapa saat.

“Jadi (penyebab banjir) bisa karena hujan yang berurutan atau banyak dalam satu waktu. Nah kemarin kita lihat hujan yang terjadi pada hari sebelumnya dan malam harinya, hujannya berurutan dan banyak. Itu menyebabkan air perlu waktu untuk keluar,” jelasnya.

Di samping itu ada kemungkinan, biasanya pada saat hujan pertama air akan mambawa dahan, ranting atau sampah lainnya. Itu bisa mengurangi kecepatan aliran karena masuk ke saluran drainase. Artinya menurut Kiki sebab-sebab itu perlu dilihat secara seksama.

“Dari beberapa faktor harus dicek satu per satu. Tapi secara ringkas kita bisa mengatakan banjir atau genangan yang terjadi itu karena ada hujan berurutan dan dua yang berurutan terjadi di sebagian wilayah Kota Pontianak sangat deras,” katanya.

Belum lagi khusus di Kota Pontianak selalu terjadi pasang surut sungai. Bisa jadi pada salah satu peristiwa hujan yang terjadi bertepatan dengan waktu air pasang, hal itu juga bisa menghambat keluarnya air dari daratan.

“Meski pasangnya sudah surut, tapi efeknya masih dirasakan. Sehingga aliran air yang terjadi belakangan yang harusnya lancar mungkin masih harus antre,” tambahnya.

Dari analisa dan faktor-faktor tersebut, jika ingin benar-benar mengetahui penyebab banjir yang terjadi kemarin, Kiki menyarankan bisa meminta data intensitas hujan dari BMKG. Bisa diketahui ada berapa milimeter air yang turun dari hujan dan berapa lama waktunya. Yakni mulai dari siang Rabu (9/6) sampai Kamis (10/6) pagi.

“Dari sana bisa dihitung banyaknya hujan dalam milimeter dikalikan luas wilayah dimana hujan itu terjadi dalam meter atau kilometer persegi, kita akan dapat volume air,” jelasnya.

Dari nilai volume air yang diketahui tersebut bisa dihitung bagaimana bisa keluar ke sungai, agar tidak menyebabkan genangan. Jika kecepatan aliran keluarnya air rendah, maka yang terjadi ada sekian kubik air yang berasal dari jumlah curah hujan dalam milimeter atau yang disebut tinggi hujan, dikalikan dengan luas wilayah tempat terjadinya hujan. Maka tempat tersebutlah yang akan tergenang.

“Kalau ada beberapa wilayah yang tinggi lalu ada yang rendah dan parah misalnya di Purnama, itu banyak faktor juga,” ucapnya.

Salah satu faktor yang paling utama adalah topografi. Berapa ketinggian tempat tersebut dari permukaan laut. Tempat-tempat terendah dari permukaan laut tentu akan mudah dan lebih lama tergenang. Itu karena air pada hakikatnya semua akan kembali ke laut. Maka ketika ada satu tempat yang posisinya lebih rendah atau sama dengan mua air laut, otomatis tempat tersebut akan tergenang.

“Bahkan kalau lebih rendah malah tidak mungkin keluar kecuali dipompa. Nah kita ketahui semua tempat di Pontianak masih lebih tinggi dari permukaan laut, tapi tidak besar beda tingginya,” imbuhnya.

Perbedaan tinggi wilayah Kota Pontianak dengan muka air laut berkisar antara setengah meter hingga empat meter yang tertinggi. Dengan demikian bisa dibayangkan wilayah Kota Pontianak cukup datar. Kondisi permukaan tanah yang tidak miring membuat aliran air lambat, itulah yang membuat genangan lambat surut.

“Ketika suatu tempat ada cekungan, maka tempat tersebut akan terisi air dan (air) lebih lama berada di cekungan,” katanya lagi.

Itulah mengapa ada tempat-tempat tertentu yang cepat tergenang dan waktu surutnya lama. Karena kemungkinan aliran dari tempat itu lebih lambat karena berada di wilayah cekungan. Meski demikian selain persoalan topografi juga ada faktor lain. Semisal wilayah padat penduduk yang terkepung oleh bangunan-bangunan yang sifatnya bisa menjadi tanggul, maka tempat tersebut akan sama dengan cekungan.

“Jadi bayangkan ada tempat yang tadinya datar, sekelilingnya kita tumpuk sesuatu yang tinggi, sehingga ketika air jatuh dari atas (hujan), airnya jadi tertahan,” jelasnya.

Tapi tetap, untuk memastikannya perlu dihitung dengan data topografi di Kota Pontianak. Serta kondisi pembangunan di sekitarnya. “Mungkin tempat-tempat seperti Purnama itu adalah cekungan dan ada lagi satu beberapa tempat yang banjirnya cukup besar biasanya tidak jauh dari parit atau sungai yang cukup besar,” papaprnya.

Sebab ketika sungai atau parit meluap wilayah terdekatnyalah yang akan mengalami genangan yang paling parah. Itulah mengapa ada tempat-tempat di Kota Pontianak yang lebih cepat kebanjiran dan waktu banjirnya cukup lama.

“Kalau boleh disimpulkan secara cepat tanpa melihat angka dari apa yang dilihat dan dirasakan, maka banjir dan genangan kemarin itu terjadi karena serangkaian hujan yang terjadi sejak Rabu siang sampai Kamis dini hari,” pungkasnya. (bar)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!