Qara’a, Aplikasi Belajar Alquran Karya Anak Muda Kalbar
Gunakan Teknologi Kecerdasan Buatan, Sudah 450 Ribu Pengguna

PELUNCURAN: Suasana peluncuran aplikasi Qara’a versi 4.0 dengan tajuk wajah baru Qara’a dengan moderator Ustaz Luqmanulhakim di Gedung Konferensi Untan, Minggu (4/4). IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Sejumlah anak muda asal Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) berhasil menciptakan aplikasi belajar Alquran dengan teknologi kecerdasan buatan. StartUp yang diberi nama Qara’a ini menjadi aplikasi pertama buatan Kalbar yang mampu menembus peringkat 10 besar di Google Play Store.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Kabar gembira hadir menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini. Dimana anak-anak muda asal Kalbar yang berbakat di bidang developer aplikasi meluncurkan Qara’a versi 4.0 dengan tajuk wajah baru Qara’a, Minggu (4/4). Di versi terbarunya itu, Qara’a melakukan inovasi dengan menghadirkan sebuah aplikasi yang dilengkapi machine learning dan artificial intelligence. Teknologi tersebut dapat mengoreksi bacaan ayat penggunanya sampai ke tajwid dan harakat.

Co-Founder Qara’a Indonesia Hajon Mahdy Mahmudinmenjelaskan, sejak 2018 pertama kali aplikasi ini dibuat, saat ini pengguna aktif Qara’a sudah mencapai 450 ribu orang per bulan. Kemudian startup ini juga masuk peringkat keenam aplikasi terlaris kategori pendidikan di Google Play Store. Qara’a menjadi aplikasi pertama buatan Kalbar yang mampu menembus peringkat 10 besar di Google Play Store. Sementara di AppleAppStore, Qara’a masuk peringkat 100 besar aplikasi untuk seluruh dunia.

Dari 450 pengguna aktif aplikasi ini sebesar 87 persen merupakan orang Indonesia. Sementara terbanyak kedua sebesar lima persen dari negara Malaysia dan sisanya tersebar. Seperti di Taiwan, Jepang dan beberapa negara Eropa.  Menurutnya metode belajar Alquran di aplikasi Qara’a berada pada tiga level dari tahapan tilawah atau pengenalan huruf, tahsin atau belajar tajwid. Dan yang terakhir tahfidz atau pengguna akan melakukan validasi hasil belajarnya selama menempuh pendidikan di aplikasi Qara’a.

Caranya pun sederhana. Pengguna hanya perlu melafalkan potongan ayat yang tertera di layar ponsel mereka sambil menekan ikon mikrofon. Dalam hitungan detik, hasil koreksi akan muncul. Setelah semua level selesai, pengguna akan mendapatkan sertifikat kelulusan. Hajon berharap aplikasi ini bisa membantu jutaan umat muslim di manapun berada untuk bisa membaca Alquran. Termasuk menjadi salah satu platform yang mendukung mengentaskan buta aksara Alquran.

Sementara itu Managing Director Qara’a Indonesia Ahmad Kamel menjelaskan soal latar belakang dibuatnya aplikasi ini. Dimana melihat hasil riset Institute Ilmu Quran pada tahun 2018, sebanyak 65 persen penduduk muslim Indonesia tidak bisa membaca Alquran dengan baik dan benar. Namun sejatinya, 80 persen responden ingin belajar, akan tetapi merasa malu karena alasan usia.

Dengan fakta data tersebut maka Qara’a melakukan inovasi pembuatan aplikasi tersebut. “Dengan aplikasi ini, umat bisa belajar mengaji bahkan saat mereka hanya punya waktu cuma lima menit. Kalau dulu mungkin kita yang mendatangi atau mendatangkan guru ngaji ke rumah, sekarang guru ngaji bahkan selalu menemani kita pergi,” ungkapnya.

Dalam penggarapan aplikasi Qara’a, tim Qara’a tak sembarang. Mereka bekerja sama dengan Balai Tahfizh Qur’an (BTQ) Munzalan Mubarakan sebagai Lembaga validasi/tashih materi yang ada di Qara’a. Dengan demikian, pengguna tak perlu khawatir akan validitas aplikasi Qara’a, “Dengan Qara’a, umat tidak perlu merasa canggung atau bingung belajar mengaji dan memperdalam Islam. Produk ini cocok untuk masyarakat urban yang bermobilitas tinggi,” katanya.

Dengan jumlah penduduk muslim 229 juta di Indonesia, Qara’a hadir sebagai solusi masyarakat belajar Alquran dan menjalani kehidupan Islami. Fitur-fitur yang tersedia memudahkan umat belajar hal dasar sampai mencari informasi mengenai Islam yang tervalidasi oleh lembaga kompeten.

Fitur itu antara lain Qur’an digital lengkap dengan asbabun nuzul dan tafsir, pengingat salat, artikel islami, sirah nabawiyah, zakat, dzikir pagi petang, doa harian, gambar renungan/quote dan bacaan salat.  Aplikasi ini juga mendapat dukungan dari banyak pihak seperti para artis hijrah. Ifan Govinda salah satunya yang tergabung dalam azan project salah satu konten di aplikasi Qara’a. “Ini bisa menjadi solusi bagi yang ingin belajar membaca dan melancarkan Alquran. Aplikasi ini yang dibuat anak muda santri, harus diapresiasi setinggi-tingginya,” katanya saat hadir secara virtual.

Hal serupa juga disampaikan Cupink Topan, bahwa fakta saat ini masih sangat banyak warga Indonesia khususnya umat muslim yang belum bisa membaca Alquran dengan fasih. “Saya keliling ke beberapa daerah, bahwa di daerah hampir 80 persen belum bisa membaca Alquran. Dengan adanya aplikasi ini mudah-mudahan mempermudah kita,” harapnya.

Selain para artis, aplikasi ini juga didukung penuh oleh ulama serta ustaz kondang Indonesia yang turut hadir secara virtual. Di antaranya ada Syech Ahmad Al-Misry, Buya Yahya, Habib Muhammad bin Anies Shahab, Ustaz Luqmanulhakim, Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Fatih Karim.**

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!