Radian, Relawan Covid-19 Penggagas Gerakan Donor Plasma Konvalesen

AKSI KEMANUSIAAN: Radian Jadid bersama istri menjadi relawan di RS Lapangan Kogabwilhan II. Mereka membantu tugas tenaga kesehatan hingga sempat mendapat perawatan karena positif Covid-19. Ahmad Khusaini/Jawa Pos

Minimnya Sarana Jadi Kendala, Pendonor Bingung Harus Kemana

Terpapar virus corona tak membuat Radian Jadid dan Sita Pramesthi kapok bertugas sebagai relawan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Lapangan Kogabwilhan II (RSLK) Indrapura. Setelah sembuh, pasangan suami istri (pasutri) itu justru menggalang langkah baru dengan menjadi penggerak donor plasma konvalesen.

SEPTIAN NUR HADI, Surabaya

SETELAH tujuh bulan bertugas sebagai relawan pasien Covid-19 di RSLK II, kekhawatiran Radian Jadid dan Sita Pramesthi terjadi. Meski sudah disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes), benteng pertahanan imunitas tubuh mereka jebol. Awal Desember 2020, pasangan suami istri (pasutri) itu dinyatakan positif Covid-19.

Kabar itu cukup membuat mereka kaget. Sebab, keduanya tidak merasakan gejala. Terutama Sita. Hanya, pada akhir November 2020, Jadid merasa lemas. Sempat demam walaupun tidak berlangsung lama. Menurut Jadid, itu merupakan hal wajar. Deman terjadi mungkin akibat kelelehan dalam bertugas.

”Saya pun memutuskan untuk beristirahat sebentar. Tapi, jadinya badan menggigil. Untuk memastikan, saya memutuskan untuk tes usap,” kata Jadid di RSLK Indrapura beberapa hari lalu.

Hasilnya, Jadid dinyatakan positif. Agar virus tidak menyebar kepada yang lain, pada 8 Desember, Jadid dilarikan ke RSLK Indrapura. Kali ini bukan untuk bertugas sebagai relawan. Melainkan dengan status pasien Covid-19.

”Mengetahui saya positif, Sita dan anak-anak juga tes usap. Ternyata, istri juga terpapar. Alhmadulillah, empat anak saya hasilnya negatif. Kami berdua dirawat di RSLK, sedangkan anak-anak menjalani isolasi mandiri di rumah,” ujar pria kelahiran Magetan, 29 September 1975, itu.

Meski telah mendapatkan perawatan, kondisi tubuhnya terus memburuk. Virus korona secara cepat menyerang beberapa organ pada tubuhnya. Yaitu, paru-paru, jantung, lalu gula darah naik, dan hipertensi. Tidak mau mengambil risiko, pihak RSLK merujuknya ke RSUD Sidoarjo.

Tubuh yang terus melemah membuat kondisinya kritis. Selama seminggu Jadid hanya bisa terbaring lemas di atas kasur ruang perawatan. Ketika itu, Jadid sudah pasrah. Apa pun yang terjadi, Jadid ikhlas menerimanya.

”Sudah enggak bisa ngapa-ngapain. Kasarnya hampir mati,” ucap dia. Meski begitu, dukungan yang diberikan keluarga berhasil membangkitkan semangatnya. Walaupun kondisinya tengah kritis, Jadid merasa optimistis bisa sembuh. Ditambah lagi dukungan dan perhatian lebih dari tim nakes RSLK.

Meski dia dirawat di RSUD Sidoarjo, tim medis RSLK Indrapura turut membantu. Beberapa anggota tim medis RSLK Indrapura dikirim ke RSUD Sidoarjo untuk membantu penyembuhannya.

Upaya kerja keras nakes menuai hasil manis. Seiring berjalannya waktu, kondisi tubuhnya terus membaik. Pada 21 Desember 2020, Jadid dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.

Begitu pula sang istri. Sita lebih dulu sembuh dan menjalani isolasi mandiri di rumah. ”Saya merasa sangat bersyukur bisa sembuh. Dan kejadian ini enggak membuat saya kapok menjadi relawan Covid-19. Karena ini sudah menjadi risiko,” ujarnya.

Justru sebaliknya, Jadid menjadikan kesembuhannya sebagai kesempatan kedua yang diberikan Sang Pencipta. Jadid mengidap Covid-19 bukan karena musibah. Melainkan langkah awal untuk membuka kehidupan baru yang lebih baik.

Dengan sempat terpapar Covid-19 dan sembuh, dia bisa menolong para pasien dengan melakukan donor plasma konvalesen. Tidak semua orang bisa melakukan itu. Khususnya para penyintas. Karena itu, selain bertugas sebagai relawan, bersama sang istri dan nakes lainnya, dia menciptakan terobosan baru.

Yaitu, menjadi salah satu penggerak donor plasma konvalesen. Ide tersebut muncul ketika Jadid mengetahui persediaan plasma konvalesen di PMI masing-masing wilayah terus menipis. Tidak sebanding dengan jumlah permintaan.

Menurut dia, kurangnya persediaan bukan karena tidak adanya pendonor. Melainkan lebih disebabkan masih minimnya sarana dan prasarana yang tersedia. Misalnya, jumlah peralatan dan tempat melaksanakan kegiatan tersebut.

Minimnya fasilitas membuat para penyintas merasa enggan dan bingung harus pergi ke mana jika mereka ingin melakukan donor plasma. Hal itu dirasakan banyak mantan pasien Covid-19 di RSLK Indrapura.

Bekerja sama dengan PMI Surabaya dan Ikatan Alumni Covid-19 RSLK Indrapura, gerakan donor plasma konvalesen dijalankan. Untuk saat ini, minimal tes sampel dilakukan setiap Sabtu di RSLK. Gencarnya sosialisasi membuat puluhan hingga ratusan penyintas berpartisipasi dalam proses donor plasma.

Peserta tidak hanya berasal dari alumni RSLK Indrapura, tetapi juga mantan pasien Covid-19 dari rumah sakit lain. Yaitu, meliputi Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto. Mulai masyarakat umum, pegawai pemerintah, hingga jajaran TNI.

Setelah tes sampel dinyatakan lolos, peserta bisa melanjutkan donor di PMI Surabaya. Sebagai apresiasi, bingkisan atau bantuan sembako telah disiapkan. Bantuan tersebut berasal dari para donatur RSLK Indrapura.

”Di tengah pemerintah menggencarkan vaksinasi, kami concern dengan membantu persediaan plasma darah konvelesen. Jadi berkesinambungan,” ujar ayah empat anak itu. Sebab selain vaksinasi, suntikan plasma darah konvalesen dapat membantu penyembuhan pasien Covid-19.(*)

error: Content is protected !!