Raih Dua Penghargaan, Masyarakat Sungai Utik Gelar Syukuran

 Masuarakat Adat Manua Sungai Utik, Desa Batu Lintang Kecamatan Embaloh Hulu melakukan syukuran atas dua penghargaan yang diraihnya selama tahun 2019.

Syukuran digelar di rumah panjang mereka di Sungai Utik, Desa Batu Lintang Kecamatan Embaloh Hulu Kabupaten Kapuas Hulu, kemarin.

Sepanjang tahun 2019 ini, masyarakat Adat Sungai Utik mendapat penghargaan berupa Kalpataru kategori Penyeleamat Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI oleh Wakil Presiden RI pada 11 Juli 2019 di Jakarta.

Selain itu, masyarakat adat yang bermukim secara komunal di rumah panjang itu juga mendapat penghargaan Equator Prize dari UNDP (PBB) yang diterima pada tanggal 24 September 2019 di New York Amerika Serikat.

Pada kesempatan tersebut, Wabup Kapuas Hulu Antonius L. Ain Pamero menyampaikan apresiasi atas kerja keras seluruh masyarakat Desa Sungai Utik, NGO, pemerintah daerah serta pihak lainnya.

“Ini tentu dengan perjalanan panjang, usaha dan tekad karena adanya kebersamaa. Karena satu –satunyan di Kalbar bahkan di Indonesia yang dalam satu periode ini memperoleh 2 (dua). Saya yakin dalam perjalanan sekian lama ini tentu tidak mudah,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Dusun Sungai Utik Desa Batu Lintang merupakan 1 dari 10 daerah se Indonesia yang menerima penghargaan Kalpataru 2019.

Karenanya, Wabup sangat bangga atas komitmen masyarakat yang begitu tinggi dalam mempertahankan eksistensi menjaga lingkungan.

“Ini sangat luar biasa, bayangkan 10 dari 514 kabupaten/kota Se Indonesia Kapuas Hulu salah satunya, kemudian penghargaan Equator Prize dari 847 negara, kemudian ada 127 negara yang mengajukan, namun yang menerima hanya 22 negara, termasuk Indonesia yakni Menua Sungai Utik Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu,” terangnya.

Untuk itu, atas nama Pemerintah Daerah Kapuas Hulu, Wabup Antonius L. Ain Pamero, menyampaikan ucapkan selamat kepada masyarakat Dusun Sungai Utik, Desa Batu Lintang.

“Ini tentu menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama, untuk terus mempertahankan penghargaan yang telah dicapai ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu sesepuh masyarakat Iban Sungai Utik Bandi yang biasa dikenal dengan panggilan apai janggut, meras bangga atas penghargaan yang diperoleh, baik Kalpataru maupun Equator Prize.

“Kami sudah puluhan tahun berusaha untuk terus menjaga dan meletarikan lingkungan, hutan. Ini menjadi komitmen kami masyarakat Sungai Utik,” tegas Apai.

Janggut yang kala itu menerima langsung penghargaan Equator Prize di New York.

Bagi masyarakat Sungai Utik, kata Apai Janggut, lingkungan, hutan, tanah dan air sekitar adalah segalanya untuk kehidupan, bahkan pola tersebut sudah tertanam dari generasi ke generasi untuk di jaga dan dilestarikan.(arf)

Read Previous

Bupati Ajak Warga Sumbangkan 5 Watt untuk Teras

Read Next

Ajak Anak Lestarikan Permainan Tradisional

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *