Ramadhan dan Hijrahnya Hati

Agus Handini

YAITU orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram. (QS. Ar-Rad: 28).

Pada 12 (dua belas) bulan manusia (beriman) diberikan kesempatan untuk bertemu dengan satu bulan yang namanya bulan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan finalnya (ujungnya) segala perjuangan dari pembelajaran diri atas takdir Allah SWT dalam bulan-bulan sebelumnya.

Allah SWT dengan Rahman dan Rahimnya menyediakan waktu satu bulan untuk manusia mengingat dan mengendalikan dirinya lebih dari pada bulan-bulan terdahulu. Pengondisian yang diberikan inilah dalam perspektif psikologi behavioristik dapat mendidik manusia dari jenis apapun, kalangan manapun untuk dapat mengondisikan dirinya, fisiknya, hatinya, untuk menerima, menjalankan atau bahkan menikmati momen spesial di bulan Ramadhan.

Hijrahnya hati menuju ke arah yang lebih baik untuk bisa menerima takdir atau bahkan untuk bisa menikmati takdir, untuk bisa berprasangka baik atas takdir, untuk bisa lebih bersabar, untuk bisa lebih baik dari sisi psikologis, untuk lebih bisa memantapkan fungsi hati dan untuk dapat menetralisir fungsi hati dari hal-hal yang mencemarinya.

Hijrahnya hati membuat manusia menjadi lebih baik lagi manusia yang baru walaupun dalam performance yang sama. Karena pada dasarnya Allah SWT hanya melihat hati yang ada pada manusia. Kedudukan manusia di hadapan Allah hanya berdasarkan hati yang dimilikinya.

Dalam kajian psikologi sendiri mengetahui aturan Allah SWT memang sebagian dari akal, namun meyakini janji Allah adalah kerjanya hati. Jadi, akan susah atau sulit ketika seseorang tidak mengetahui janji Allah dan kemudian harus meyakininya. Janji-janji Allah perlu diketahui sehingga manusia terdorong, termotivasi untuk hijrah menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Ramadhan merupakan awal untuk bulan-bulan berikutnya sehingga Ramadhan ini dapat menjadi waktu yang mengondisikan perilaku manusia untuk menuju 11 (sebelas) bulan berikutnya dan kembali lagi ke Ramadhan. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk kembali ke Ramadhan yang berikutnya. Allah SWT mendidik manusia dengan mengondisikan Ramadhan sebagai bulan pembersih fisik, dan pembersihan hati.

Namun terkadang masih saja ditemukan kondisi-kondisi yang tidak dapat kita pungkiri bahwa manusia masih diselimuti oleh hawa nafsunya. Perubahan waktu dalam jam makan, jadwal tidur, dan juga kegiatan-kegiatan lainnya sering kali terganggu karena kondisi berpuasa. Namun sesungguhnya kondisi berpuasa itu sesungguhnya menjadi nilai ibadah.

Hijrahnya hati akan mendorong manusia untuk berubah secara sikap, hijrah pikiran, persepsi sikap dan perilaku dalam menghadapi atau menjalani bahkan menikmati takdir yang berlaku atas dirinya. Diharapkan dengan hijrahnya hati sehingga di akhir Ramadhan dan 11 (sebelas) bulan berikutnya sampai bertemu Ramadhan kembali manusia dalam pola yang baru, dengan persepsi yang baru, dengan sikap yang baru bahkan dengan perilaku yang baru menjadi manusia yang baik lagi, menjadi manusia yang baru dan menjadi manusia yang fitrah manusia yang hanya mengandalkan dan berbuat hanya untuk Allah SWT semata. Wallahu a’lam bish-shawab.

Dosen Psikologi dan Psikolog IAIN Pontianak

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!