Ramadhan di Kota Musim Semi

RANTAU: Penulis saat berada di Negeri China beberapa waktu lalu. IST

Oleh: Sri Maulidiana, S.Pd., M.TCSOL

TAK terasa sudah beberapa pekan kita menjalankan ibadah puasa di bulan penuh berkah ini. Teringat kembali cerita empat tahun lalu, saat masih menempuh perkuliahan di negeri tirai bambu. Tepatnya Mei 2017,  penulis harus menjalankan ibadah puasa di tanah rantau.

Sedikit bercerita, Ramadhan 1438 H atau Mei 2017 M adalah tahun kedua saya berpuasa di kota Kunming, Ibu kota provinsi Yunnan. Yunnan adalah sebuah provinsi di barat daya Tiongkok. Yunnan merupakan sebuah provinsi tempat tinggal suku-suku minoritas Tiongkok, 25 dari 56 suku-suku yang diakui di Tiongkok berdomisili di Yunnan, salah satunya adalah suku Hui, dimana suku Hui adalah satu suku dari lima suku terbesar di RRT, suku ini memeluk agama Islam, populasinya mencapai 22.000.000 atau sekitar 1.8% dari populasi Tiongkok,maka tak heran jika di Yunnan, khususnya Kunming, sangat mudah menemukan restoran berlabel halal.

Kunming memiliki jumlah penduduk sebanyak 3.710.000 jiwa atau 1.055.000 jiwa di daerah urban, terletak pada ketinggian 1.800 meter. Kota ini mendapat julukan Chūnchéng atau yang lebih dikenal dengan sebutan The Spring City, kota yang tidak terlalu panas ketika musim panas dan tidak terlalu dingin ketika musim dingin tiba. Adalah pilihan yang tepat bagi kita orang khatulistiwa yang terbiasa di daerah tropis untuk tinggal di Kunming dalam waktu yang cukup lama.

Beberapa tahun terakhir di belahan dunia bagian utara, termasuk dataran China, bulan Ramadhan jatuh pada musim panas. Saat musim panas, matahari terbit lebih cepat dan terbenam lebih lambat. Maka umat muslim dibagian utara dunia akan berpuasa lebih lama jika dibandingkan kita yang berada di Indonesia, termasuk di kota Kunming. Di Kunming, kami mulai berpuasa sekitar pukul 04.00 subuh dan azan magrib berkumandang sekitar lewat pukul 07.00 malam (jadwal bisa berubah setiap harinya), kurang lebih akan berpuasa lima belas setengah jam setiap harinya. Satu setengah jam lebih lama jika dibandingkan di Indonesia.

Namun, apakah menjalankan ibadah puasa di China terasa sangat lama? Mungkin secara durasi, iya. Tapi berbeda dengan Indonesia, di negara minoritas muslim seperti China, suasana Ramadhan tidak begitu terasa. Bulan Ramadhan sama saja dengan dengan bulan lainnya. Rumah makan buka seperti biasanya.

Tidak ada menu takjil yang biasa melimpah ruah di pinggir-pinggir jalan kala waktu berbuka hampir tiba. Tidak ada orang lain yang tahu bahwa kita sedang menahan lapar dan dahaga sehari penuh. Karena begitulah sejatinya berpuasa, sebagaimana dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim bahwa semua amal ibadah anak Adam hanya untuk diri sendiri kecuali puasa yang hanya untuk Allah.

Suara azan di masjid pun tidak terdengar. Jadi, sebagai mahasiswa muslim di sini kami harus memiliki aplikasi pengingat azan di handphone untuk memudahkan kita mengetahui jadwal salat dan  menentukan arah kiblat.

Karena menjalankan aktivitas sebagai manahari-hari biasanya, seperti bulan-bulan sebelumnya, lamanya durasi berpuasa tidaklah terasa. Aktivitas di kelas dilaksanakan seperti biasa. Tidak ada pengurangan jam kerja. Ujian pun terlaksananya sebagaimana mestinya. Jika dibandingkan dengan negara kita yang mayoritas beragama muslim, tentu bulan Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu, seluruh umat muslim menyambut dengan suka cita, euphoria bulan puasa sangat terasa. Hal inilah yang menyebabkan suasana berpuasa tidak terlalu terasa karena terbawa oleh lingkungan sekitar.

Lalu, apakah saya hanya berpuasa sendirian? Alhamdulillah, ada beberapa teman muslim dari negara lain yang juga sedang menempuh perkuliahan di kota yang sama. Bahkan, kami juga sempat melaksanakan buka puasa bersama. Saya, satu orang teman dari Thailand, dua orang dari Mali (salah satu negara di Afrika Barat), dan pastinya juga ada beberapa teman dari Indonesia. Kami tidak merasa kesulitan untuk mencari tempat berbuka puasa, karena pada dasarnya warga lokal pun sudah sangat erat dengan makanan halal. Warung dan rumah makan dengan beraneka macam makanan halal bertebaran di sekitar kota ini.

Di Tiongkok, rumah makan dan restoran muslim tetap buka pada siang hari. Meskipun berlabel halal, masyarakat nonmuslim pun juga ramai memasuki restoran. Bagi masyarakat Tiongkok sendiri, makanan halal memang lebih menyehatkan. Hampir di setiap universitas di Tiongkok memiliki kantin muslim. Saya pun beberapa kali menyantap menu buka puasa di kantin kampus bersama mahasiswa muslim lainnya. Bahkan di kampus kami, kantin muslim buka pada waktu sahur khusus untuk bulan Ramadhan.

Aktivitas ini dilakukan untuk memudahkan mahasiswa muslim menjalankan ibadah puasa. Ketika malam hari, saya memilih untuk melaksanakan salat isya dan tarawih di dormitory. Karena jarak tempuh dari kampus ke masjid yang lumayan jauh dan waktu yang sudah hampir larut malam, saya lebih memilih salat sendiri di kamar. Di Kunming, isya dimulai sekitar pukul setengah sembilan.

Hampir sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di kota musim semi, dengan menu sahur dan berbuka setiap harinya adalah makanan khas cita rasa Kunming. Tentu saja ada yang kurang di Ramadhan kali ini. Yang dirindukan saat bulan puasa tanah air yang pasti adalah menu takjilnya, menu berbuka puasa dengan beraneka ragam rasa yang bertebaran di setiap pinggir jalan yang sangat menggugah selera. Berbuka puasa bersama keluarga, teman atau rekan kerja sudah menjadi jadwal rutin setiap tahun dan juga menjadi ajang reuni kecil-kecilan. Salat tarawih berjamaah di masjid, tadarusan bersama sampai sahur on the road. Ini semua tidak bisa saya lakukan selama di kotaini.

Tidak seperti di Kunming, mendengar cerita teman yang menuntut ilmu di kota Beijing, bahwa mahasiswa di sana bisa berbuka puasa bersama di KBRI bersama muslim Indonesia yang lain, di mana menu buka puasanya adalah makanan cita rasa Indonesia, suasana kekeluargaan bersama warga Indonesia yang lain, makanan dan suasana yang hangat sedikit bisa mengobati kerinduan di tanah air. Hingga saat Idul Fitri tiba nanti KBRI juga memfasilitasi salat Ied berjamah dan menyuguhkan ketupat beserta lontongnya. Sungguh, benar-benar merasakan seperti berasa di rumah sendiri. Ini pula yang tidak saya rasakan selama di Kunming.

Satu hari sebelum hari raya Idul Fitri saya bertolak dari Kunming ke Kuala Lumpur lalu melanjutkan penerbangan ke Pontianak untuk merayakan lebaran bersama keluarga. Kepulangan kali ini adalah sebuah kejutan, karen aawalnya saya berkata mungkin akan sulit untuk pulang sebelum lebaran. Tapi Alhamdulillah, meskipun jadwal libur musim panas belum tiba, tapi seluruh perkuliahan kami telah selesai dilaksankan, maka dari itu, saya bisa pulang lebih awal untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Karena biar bagaimanapun, tetap suasana Idul Fitri di rumah sendiri adalah yang paling di rindukan. *

*Penulis adalah Dosen Studi Agama  IAIN Pontianak

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!