Ras Itu Tidak Rasis

opini pontianak post
Oleh Tommy Priyatna

Oleh: Ferry Yasin

KETIKA Thomas Jefferson menorehkan gagasannya untuk Deklarasi Kemerdekaan Amerika pada 4 Juli 1776 tentang ‘Semua Manusia Sama Di Depan Hukum’, sebenarnya pikirannya tidak tertuju pada kesamaan hak individu  di depan hukum. Yang ada dalam benaknya adalah bahwa koloni-koloni yang ada pada saat itu akan menjadi negara-negara bagian yang sama kedudukannya bersanding dengan negara-negara lain termasuk negara induk mereka Inggris. Demikian pernyataan sejarawan Universitas Stanford Jack Racove. Baru setelahnya, interpretasi itu berkembang menjadi sebuah gagasan tentang kesamaan individu di muka hukum. Sesuatu yang berseberangan dengan apa yang dicanangkan oleh founding father mereka.

Oleh karena itu, tidak heran, negara yang mengklaim sebagai mbah-nya demokrasi tersebut perlu hampir 200 tahun berjuang melawan ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam berbagai hal, terutama yang bermuara pada masalah ras. Perbedaan interpretasi kesamaan individu di hadapan hukum, membawa negara tersebut kepada perang saudara paling dahsyat dan paling mematikan dalam perjalanan sejarah negara tersebut. Presiden Amerika pada waktu itu Abraham Lincoln-lah yang menginisiasi perang. Baginya kesamaan hak individu adalah segalanya agar sesuai dengan Konstitusi. Perbudakan oleh orang Kulit Putih atas budak Kulit Hitam harus dihapuskan di wilayah Amerika bagian selatan.

‘American Dream’ atau mimpi Amerika membawa banyak orang Kulit Putih (ras Kaukasoid) dari Eropa ke benua baru yang pertama kali dijelejahi oleh Americo Vespuci itu. Kelaparan, penyakit, kemiskinan, masalah politik dan persekusi agama di negara asal yang membawa mereka dengan semangat baru dan hidup baru di tanah harapan. Sebaliknya bagi banyak penduduk benua Afrika orang Kulit Hitam (ras Negroid) menganggap Amerika sebagai mimpi buruk ‘American Nightmare.’ Banyak dari mereka secara paksa dipisahkan dari keluarga, masyarakat, klan dan daerahnya untuk dibawa dan dijual ke negara Amerika hanya untuk  dijadikan budak di perkebunan-perkebunan yang menguntungkan secara ekonomi bagi warga Kulit Putih.

Panji-panji Supremasi Kulit Putih, seolah menjadi pembenaran setiap jiwa kekuasaan dan dominasi itu melembaga dalam berbagai aturan dan institusi. Menjadi sebuah pembenaran paradigma turun temurun seolah semua yang berwarna putih itu suci, bersih, cerdas, unggul, beradab dan layak berada di atas. Mengakar menjadi sebuah legalitas seolah yang hitam itu jahat, kotor, malas, tidak beradab dan layak untuk diinjak. Maka muncullah politik segregasi untuk memantapkan keyakinan itu dan melanggengkan keterpisahaan. Lalu kita terheran heran dengan kerusuhan rasial yang meledak beberapa waktu lalu di Amerika, karena selama ini yang ditindas mengalami akumulasi kejenuhan dan kejengahan (rasa malu).

Tidak ada yang salah dengan ras. Semua pemberian Tuhan dan tak ada seorang pun bisa memilih untuk bisa lahir di ras yang ia ingini. Banyak orang terkecoh dengan penampilan dan tidak pernah benar-benar melihat inner-motivation dan hati manusia. Meski harus diakui  pembagian ras memang berdasarkan penampilan, ras berbeda dengan etnis. Kalau ras gabungan dari atribut fisik, perilaku dan kultural. Sedang etnis adalah perbedaan manusia berdasarkan budaya dan bahasa.

A.L. Krober membagi ras menjadi empat, yaitu Ras Mongoloid (berkulit kuning). Ras ini menetap di Asia Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, Madagaskar di lepas pantai timur Afrika, beberapa bagian India Timur Laut, Eropa Utara, Amerika Utara, Amerika Selatan dan Oseania. Dengan ciri ciri fisik rambut berwarna hitam lurus, berkulit kuning, coklat muda dan coklat tua.Ras Negroid (berkulit hitam) mendiami benua Afrika di wilayah selatan gurun Sahara. Keturunan mereka banyak mendiami Amerika Utara, Amerika Selatan dan juga Eropa serta Timur Tengah. Dengan ciri-ciri berkulit hitam, berambut keriting, bibir tebal.

Ras Kaukasoid (berkulit putih) ras  yang sebagian besar menetap di Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Pakistan, dan India Utara. Keturunan mereka juga menetap di Australia, Amerika Utara, sebagian dari Amerika Selatan, Afrika Selatan dan Selandia Baru.Ciri-ciri  berkulit putih kemerahan, rambut bergelombang. Ras-ras khusus yaitu ras manusia yang tidak dapat diklasifikasikan dalam ketiga ras pokok, antara lain Bushman (penduduk di daerah Gurun Kalahari, Afrika Selatan), Veddoid (penduduk di daerah pedalaman Sri Lanka ), Polynesian (Kepulauan Mikronesia dan Polinesia),  serta Ainu (penduduk di daerah Pulau Karafuto dan Hokkaido, Jepang).

Meski pembagian ras manusia tersebut mendapat kecaman karena ras manusia hanya ada satu saja yaitu Homo Sapiens dari subspesies Hominid, tetapi tidak bisa disangkal bahwa itu adalah realitas sosial yang perlu dipahami dan dimengerti. Adanya klasifikasi ras itu, orang bisa menelusuri jejak-jejak manusia pertama kali hidup di muka bumi serta pola persebarannya ke seluruh muka bumi. Bahkan, ilmu pengetahuan menggunakan dasar ini sebagai acuan studi tindak lanjut lebih mendalam tentang spesialisasinya. Ras berhubungan dengan psikologi. Hubungannyajuga ada dengan tingkat kesehatan dan ketahanan danidentifikasi dalam dunia investigasi. Ras juga menciptakan peradabannya masing-masing.

Sebuah konstruk sosial ini juga tidak dengan demikian melegalkan semua aturan yang secara langsung atau tidak dan semua sikap yang bersifat rasis. Rasis atau rasisme atau rasialisme adalah sebuah ideologi yang menjunjung tinggi ras miliknya sendiri sembari merendahkan ras lainnya. Ia juga bisa mewujud dalam serangan sikap, kecenderungan pernyataan dan tindakan yang mengunggulkan kelompok masyarakat tertentu terutama atas dasar ras. Maka dari itu,  sikap rasis yang berawal dari bangunan stereotype harus ditiadakan baik dimasyarakat, dan utamanya di kalangan elit.

Indonesia yang sebagian besar penduduknya terdiri dari Ras Melayu-Mongoloid, dan wilayah Indonesia Timur  yang Melanesia-Negroid (NTT-Maluku-Papua) disamping juga ada Asiatic-Mongoloid  (Tionghoa, Korea, Jepang) dan Kaukasoid (keturunan Portugis, Belanda, Arab dan India) harus berpegang teguh pada prinsip bahwa semua manusia diciptakan sama di hadapan Tuhan, dan dengan demikian, harus diperlakukan sama di muka hukum. Oleh karena itu,  ras itu sendiri tidaklah rasis.**

*Penulis adalah pengajar di Sma Taruna Bumi Khatulistiwa Kabupaten Kubu Raya.

error: Content is protected !!